15
Tonton Selengkapnya
28 °c
Pecenongan
Tue
Wed
Monday, 8 June, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Kolom

Dakwah di Era TikTok: Ketika Pesantren Harus Membaca Zaman  

Oleh Muhammad Irfanudin Kurniawan & Afaf Saifullah Kamalie, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
12 December 2025
in Kolom
0
Dakwah di Era TikTok: Ketika Pesantren Harus Membaca Zaman   

Teman saya pernah menyaksikan sebuah pemandangan menarik di KRL Gubeng-Sidoarjo. Seorang bapak berkopiah merah duduk menghadap seorang perempuan muda. Awalnya dia kira hanya penumpang biasa yang sedang berbincang santai. Ternyata bukan. Itu seorang pendakwah Saksi Jehovah yang sedang beraksi.

Polanya sudah sangat khas. Dimulai dengan bertanya agama, lalu bercerita panjang lebar tentang agama-agama di dunia, kemudian masuk ke jurus pamungkas: “Kita ini sama lho, Mbak. Buat kami, Yesus itu juga nabi….”

Kata dia ceramahnya mengalir panjang. Nyaris menyaingi pengumuman petugas KAI yang berulang kali mengingatkan bahwa perokok akan diturunkan di stasiun berikutnya.

Cerita ini mengingatkan saya pada Jamaah Tabligh beberapa tahun silam. Dulu mereka juga demikian, suka ceramah panjang sambil mencegat orang di jalan atau di masjid. Namun belakangan, pendekatan mereka berubah. Lebih ringkas. Mengajak ke masjid, memberikan undangan, selesai. Tidak bertele-tele. Mungkin mereka sudah memahami apa yang disebut effective communication di era konten 15 detik.

BACA JUGA

Anatomi Pondok Pesantren Jalan di Tempat: Telaah Kritis 9  Faktor Penghambat Kemajuan

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Struktur dan Kultur

Mengenal Gareth Morgan di Balik Metafora Organisme Pesantren

Filosofi Takbir, Tahlil, dan Tahmid dalam Idul Adha: Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

Pesantren dan Amanah Dakwah dalam Konstitusi

Pemandangan di KRL itu sebenarnya mengingatkan sesuatu yang lebih mendasar bagaimana dakwah seharusnya disampaikan di zaman yang terus berubah?

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren telah menegaskan posisi pesantren sebagai lembaga dakwah. Pasal 4 menyebutkan bahwa ruang lingkup fungsi pesantren meliputi tiga hal: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ketiganya tidak bisa dipisahkan.

Lebih spesifik lagi, Pasal 37 menyatakan bahwa “pesantren menyelenggarakan fungsi dakwah untuk mewujudkan Islam rahmatan lil’alamin.” Pasal 38 kemudian merinci bahwa fungsi dakwah ini mencakup upaya mengajak masyarakat menuju jalan Allah dengan cara yang baik, mengajarkan pemahaman dan keteladanan nilai keislaman yang rendah hati, toleran, seimbang, dan moderat, serta menyiapkan pendakwah Islam yang menjunjung tinggi nilai luhur bangsa.

Artinya, pesantren bukan sekadar tempat menghafal mufradat, tasrif atau hadis. Pesantren adalah pusat penyebaran nilai-nilai Islam ke masyarakat luas. Dan inilah hal yang harus kita diskusikan. Bagaimana pesantren kita menyiapkan santri yang mampu berdakwah dengan cara yang relevan dengan zamannya?

Dalam artikel sebelumnya kami pernah membahas tentang Al-Suffah yaitu serambi beratap pelepah kurma di pojok Masjid Nabawi yang menjadi cikal bakal organisasi pendidikan Islam pertama. Di sanalah Rasulullah mendidik para sahabat dengan metode yang sangat kontekstual.

Yang menarik dari metode Rasulullah adalah kemampuannya membaca situasi. Beliau tidak pernah memaksakan satu pendekatan untuk semua orang. Kepada pedagang, bahasa beliau berbeda. Kepada petani, berbeda lagi. Kepada anak kecil, berbeda lagi. Inilah yang disebut dakwah bil hikmah, dakwah dengan kebijaksanaan.

Rasulullah tidak pernah berceramah berjam-jam kepada orang yang sedang terburu-buru. Beliau memahami bahwa efektivitas dakwah tidak diukur dari panjangnya ceramah, melainkan dari sampainya pesan.

Kami tidak mengatakan ceramah panjang itu keliru. Para kiai kita, ulama-ulama besar, mereka berceramah berjam-jam dan jamaahnya tetap antusias mendengarkan. Namun konteksnya berbeda. Itu terjadi di masjid, di pengajian, di tempat orang memang sudah berniat untuk mendengarkan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika metode itu dipaksakan di ruang publik yang tidak siap menerimanya.

Perempuan muda di KRL seperti yang teman kami ceritakan, tidak sedang berniat mengikuti pengajian. Ia mungkin sedang lelah pulang kerja, ingin beristirahat, atau sekadar melamun memikirkan berbagai urusan. Tiba-tiba dikasih ceramah tiga puluh menit tentang teologi perbandingan agama? Hasilnya bisa kontraproduktif. Bukannya tertarik, justru menjauh.

Inilah yang tampaknya mulai dipahami oleh Jamaah Tabligh kontemporer. Mereka telah memperbarui metode. Tidak lagi berceramah panjang di jalan. Cukup mengajak ke masjid, memberikan undangan, selesai. Jika orangnya tertarik, ia akan datang sendiri. Jika tidak, tidak memaksa. Itu namanya dakwah yang menghargai kehendak “mad’u” atau objek dakwah.

Era Konten 15 Detik

Saat ini kita hidup di era TikTok. Era di mana perhatian manusia menjadi komoditas yang sangat mahal. Orang bisa melewatkan video dalam tiga detik jika tidak menarik. Algoritma media sosial telah melatih otak kita untuk cepat berpindah. Mau tidak mau, dakwah juga harus beradaptasi.

Bukan berarti konten dakwah harus menjadi dangkal atau murahan. Bukan demikian. Namun cara menyampaikannya harus lebih strategis. Lebih memahami psikologi audiens. Lebih mengetahui kapan harus berbicara panjang, kapan harus singkat.

Pesantren, sebagai lembaga dakwah yang diamanahkan undang-undang, seharusnya menjadi yang terdepan dalam hal ini. Santri-santri kita harus dibekali bukan hanya ilmu agama yang mendalam, tetapi juga ilmu komunikasi dakwah yang relevan.

Bagaimana berbicara di depan kamera? Bagaimana membuat konten yang menarik namun tetap berbobot? Bagaimana menyampaikan pesan dalam enam puluh detik tanpa kehilangan substansi? Ini keterampilan yang harus diajarkan. Bukan dianggap remeh atau “duniawi.”

Imam Syafi’i pernah berkata, “Ilmu itu bukan yang dihafal, tetapi yang memberi manfaat.” Dalam konteks dakwah, saya ingin menambahkan bahwa dakwah itu bukan yang disampaikan, tetapi yang sampai.

Percuma berceramah satu jam jika yang didengar hanya lima menit pertama. Percuma membuat konten panjang lebar jika dilewatkan sebelum selesai.

Pendakwah yang baik adalah yang mampu membaca situasi. Mengetahui kapan harus menjelaskan secara detail, kapan harus langsung pada intinya. Mengetahui kapan audiens membutuhkan penjelasan mendalam, kapan mereka hanya membutuhkan satu kalimat yang mengena di hati.

Kami kadang salut dengan kegigihan teman-teman Saksi Jehovah. Mereka tidak malu, tidak lelah, terus mendatangi orang satu per satu. Dedikasi yang luar biasa. Namun jika metodenya sudah tidak efektif, hasilnya tetap tidak akan maksimal.

Kita sebagai umat Islam, dengan pesantren sebagai benteng dakwah, seharusnya lebih maju. Kita memiliki tradisi dakwah yang kaya. Memiliki ulama-ulama yang brilian. Memiliki santri-santri yang militan. Tinggal satu yang perlu ditingkatkan, metode.

Jangan sampai kita kalah kreatif. Jangan sampai dakwah kita hanya menjadi “pengumuman KAI” yang berbicara panjang namun tidak ada yang mendengarkan.

Dakwah yang baik adalah yang sampai. Yang membuat orang berpikir, bukan membuat orang menjauh.

Dan itu dimulai dari kesadaran bahwa zaman telah berubah. Cara orang menerima informasi telah berubah. Maka cara kita menyampaikan kebaikan juga harus ikut berubah. Pesantren siap? Wallahu a’lam bishawab. []

[email protected]

Tags: dakwah kreatifEra kontenTikTok
Share75Tweet47Send
Previous Post

Artes Liberales: Warisan Aristoteles dalam Mencetak Pemimpin dari Athena hingga Pesantren

Next Post

Pentingnya Deep Literasi di Era Digital

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

6 June 2026
Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

Pesantren Wisuda: Bekali Lulusan SMPIT Insantama Leuwiliang Menuju Masa Depan

4 June 2026
Anatomi Pondok Pesantren Jalan di Tempat: Telaah Kritis 9  Faktor Penghambat Kemajuan

Anatomi Pondok Pesantren Jalan di Tempat: Telaah Kritis 9  Faktor Penghambat Kemajuan

7 June 2026
Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

Ini dia Lirik Lagu Gontor ‘Takkan Terlupa’

30 August 2021
SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda 2026: Ini Pesan Wali Murid!

SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda 2026: Ini Pesan Wali Murid!

7 June 2026
Anatomi Pondok Pesantren Jalan di Tempat: Telaah Kritis 9  Faktor Penghambat Kemajuan

Anatomi Pondok Pesantren Jalan di Tempat: Telaah Kritis 9  Faktor Penghambat Kemajuan

0
Kriteria Alumni Gontor

Kriteria Alumni Gontor

0
SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda 2026: Ini Pesan Wali Murid!

SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda 2026: Ini Pesan Wali Murid!

0
Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

Kisah Alumni SMPIT Insantama Leuwiliang Bekali Junior pada Pesantren Wisuda 2026

0
Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

Ikhlas: Rahasia Ketangguhan Gontor

0
Anatomi Pondok Pesantren Jalan di Tempat: Telaah Kritis 9  Faktor Penghambat Kemajuan

Anatomi Pondok Pesantren Jalan di Tempat: Telaah Kritis 9  Faktor Penghambat Kemajuan

7 June 2026
Kriteria Alumni Gontor

Kriteria Alumni Gontor

7 June 2026
SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda 2026: Ini Pesan Wali Murid!

SMPIT Insantama Leuwiliang Gelar Pesantren Wisuda 2026: Ini Pesan Wali Murid!

7 June 2026
BAZNAS RI Lanjutkan Penanganan Kebakaran di Kemayoran, Pasang Instalasi Listrik dan Salurkan Bantuan Makanan

BAZNAS RI Lanjutkan Penanganan Kebakaran di Kemayoran, Pasang Instalasi Listrik dan Salurkan Bantuan Makanan

6 June 2026
BAZNAS Salurkan Hewan Kurban dari Sedekah Konsumen Alfamidi di Yogyakarta

BAZNAS Salurkan Hewan Kurban dari Sedekah Konsumen Alfamidi di Yogyakarta

6 June 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alur Pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Pondok Modern Darussalam GontorSource: gontortv
https://youtu.be/cUA3pvD43i8Video ini menjelaskan alur pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor secara lengkap dan sistematis.Informasi lengkap terkait pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dapat diakses melalui:
https://gontor.ac.id/persiapanPendaftaran online dilakukan melalui halaman resmi:
https://capel.gontor.ac.id
  • Kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor ke Pondok Pesantren Modern Darel Azhar RangkasbitungIntip momen seru kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor saat berkeliling melihat fasilitas, unit ekonomi, hingga suasana belajar di Pondok Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung.#DarelAzhar #MajalahGontor #KunjunganMahabbah #PondokModern #Rangkasbitung #SantriIndonesia #UkhuwahIslamiyah #DuniaPesantren #Gontor #LiterasiSantri
#majalahgontor
#gontornews
  • Tujuan dari sains Islam adalah meletakkan kembali jejak Tuhan di dalam kausalitas alam, agar manusia tidak arogan dan menganggap alam bekerja tanpa pencipta.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasionline
#belajarbaik
#hidupislami
#kehidupanislam
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
#ilmupengetahuan
  • Membaca Al-Qur
  • Kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan
  • Nasehat dalam memimpin suatu lembaga:
(Yang sulit dan menjadi tantangan dalam memimpin lembaga itu adalah:)
1. Noto Atine Dewe
2. Noto Atine Wong Liyo
3. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo
4. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo Sing Tukaran.KH Hasan Abdullah Sahal#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
  • Beriman itu tandanya jujur. Beriman itu tandanya bersaudara. Iman seseorang bisa diukur dari perilakunyaProf. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
  • KAJIAN PARENTING EKSKLUSIF & VIRTUAL TOUR ARABIC GLOBAL SCHOOL JAKARTA.Menyiapkan Generasi Cerdas: Menyeimbangkan Adab Islami & Kompetensi Global di Era DigitalBersama Narasumber dari Arabic Global School (AGS):
1.​Dedek Febrian (Pembimbing Akademik AGS)
2.​Ramdhanil (Kepala Sekolah Kindergarten AGS)
3.​Adi Suroto (Kepala Sekolah Primary AGS)Moderator :
Devi Lusianawati
Reporter Majalah Gontor dan Gontornews.com🗓 Rabu, 22 April 2026
⏰ 13.00 – 15.30 WIB​👇 KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENDAFTAR:
👉 https://bit.ly/pendaftaran-kajian-online#bedahbuku #parentingislami #muslimmilenial #gontornews #majalahgontor #gontor #kajianonline #kajianislam #psikologianak #polaasuh #bukuislami #livezoom #webinarislami #pendidikananak #belajarparenting #polaasuhanak #generasimilenial #islammodern #kajianjakarta
  • Mestinya orang Islam itu hanya dengan menjalankan shalat, jiwanya itu bersih. Shalat itu harus ada hubungannya dengan perilaku.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result