Landasan Teologis
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
“Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS Qāf Ayat 18)
Interpretasi Para Mufasir
Tafsir Al-Baghawi menyebutkan, “Tidaklah seseorang mengucapkan suatu perkataan” yakni tidaklah ia berbicara suatu kata, melainkan ia melontarkan kata itu dari mulutnya, “melainkan di sisinya ada malaikat pengawas (penjaga) dan yang selalu hadir di mana pun ia berada.”
Mengenai dua Malaikat Penjaga, Hasan al-Bashri mengatakan, “Sesungguhnya para malaikat menjauh dari manusia dalam dua keadaan: ketika ia buang hajat dan ketika ia berhubungan suami–istri.” Sedangkan Mujahid berkata, “Kedua malaikat itu mencatat segala sesuatu tentang manusia sampai pun keluhannya ketika sakit.”
Sementara itu Ikrimah mengatakan, “Mereka tidak mencatat kecuali apa yang manusia diberi pahala atasnya atau diberi dosa karenanya.” Sedangkan Adh-Dhahhāk menyebutkan, “Tempat duduk kedua malaikat itu berada di bawah geraham, dekat langit-langit mulut.” (Riwayat serupa juga disebutkan dari al-Hasan.)Dan al-Hasan sangat menyukai untuk membersihkan rambut halus di wajahnya.
Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan, para ulama berbeda pendapat tentang apakah malaikat mencatat semua ucapan manusia. Hasan Al-Bashri dan Qatadah berpendapat, malaikat mencatat seluruh perkataan. Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat, yang dicatat hanya perkataan yang mengandung pahala atau dosa.
Imam Ahmad meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan satu kata yang diridhai Allah, sementara ia tidak mengira kata itu akan sampai pada derajat tersebut, maka Allah menuliskan keridhaan-Nya baginya hingga hari ia bertemu dengan-Nya. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah, sementara ia tidak mengira kata itu akan sampai pada derajat tersebut, maka Allah menuliskan kemurkaan-Nya atasnya hingga hari ia bertemu dengan-Nya.”
Tafsir Al-Qurtuby menyebutkan, terdapat tiga pendapat tentang makna raqīb: 1) Yang selalu mengikuti dan mengawasi segala urusan, 2) Yang menjaga (hafizh); pendapat ini dikemukakan oleh As-Suddi, 3) Yang menjadi saksi; pendapat Adh-Dhahhak.
Sedangkan makna ‘atīd, ada dua pendapat: 1) Yang hadir dan tidak pernah absen, 2) Yang menjaga dan telah dipersiapkan, baik untuk menjaga maupun untuk menjadi saksi.
Abu Al-Jauza’ dan Mujahid berkata: Dicatat atas manusia segala sesuatu, bahkan rintihan karena sakit. Sedangkan ‘Ikrimah berkata: Tidak dicatat kecuali yang mengandung pahala atau dosa. Sementara Ali RA mengatakan, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang membawa lembaran-lembaran putih. Maka isilah awalnya dan akhirnya dengan kebaikan, niscaya akan diampuni apa yang ada di antaranya.”
Tafsir At-Thabari menyebutkan, diriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Yang di sebelah kanan malaikat yang menulis kebaikan, dan yang di sebelah kiri malaikat yang menulis keburukan.”
Diriwayatkan dari Ibrahim At-Taimi, ia berkata: “Malaikat di sebelah kanan merupakan pemimpin atau pengawas atas malaikat di sebelah kiri. Jika seorang hamba melakukan keburukan, malaikat kanan berkata kepada malaikat kiri: ‘Tahanlah dahulu, semoga ia bertobat’.”
Mujahid berkata: “Ada satu malaikat di sebelah kanan manusia dan satu malaikat di sebelah kirinya. Yang di kanan menulis kebaikan, dan yang di kiri menulis keburukan.” Ia juga berkata: “Setiap manusia bersama dua malaikat: satu di kanan dan satu di kiri. Yang di kanan menulis kebaikan, dan yang di kiri menulis keburukan.” Disebutkan bahwa penulis kebaikan merupakan pemimpin atas penulis keburukan. Jika seseorang berbuat dosa, ia berkata: “Jangan tergesa-gesa, barangkali ia memohon ampun.”
Inti Reflektif
Surat Qāf ayat 18 mengingatkan bahwa setiap ucapan yang keluar dari lisan manusia tidak pernah lepas dari pengawasan Allah, karena selalu dicatat oleh malaikat yang senantiasa hadir. Ayat ini menegaskan bahwa lisan bukan sekadar alat berbicara, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap kata memiliki konsekuensi, baik yang menyejukkan hati maupun yang melukai perasaan.
Karena itu, seorang Mukmin dituntut untuk menghadirkan kesadaran sebelum berbicara, menimbang manfaat dan mudarat setiap ucapan, serta menjadikan lisan sebagai sarana kebaikan, nasihat, dan penenang jiwa. Dengan menjaga lisan, manusia tidak hanya melindungi dirinya dari penyesalan di dunia, tetapi juga dari hisab yang berat di akhirat.
Nilai-nilai Pedagogis
Surat Qāf ayat 18 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan (pedagogis) bagi manusia. Pertama, Nilai Tanggungjawab (Akuntabilitas). Ayat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan manusia dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, guru dan orangtua harus mengajarkan peserta didik untuk bertanggung jawab atas perkataan dan perbuatannya. Sehingga mereka menjadi manusia yang jujur, berakhlak mulia dan bertanggung jawab atas apa saja amanah yang diembannya.
Kedua, Nilai Akhlak dalam Berbicara. Ayat ini menanamkan kesadaran untuk menjaga lisan, berkata jujur, sopan, dan tidak menyakiti orang lain, karena setiap ucapan bernilai moral dan spiritual. Demikian guru dan orangtua harus mendidik siswa agar berbicara dengan baik dan bijaksana agar anak tumbuh menjadi generasi berakhlak dan saling menjaga perasaan orang lain.
Ketiga, Nilai Kesadaran Spiritual (Muraqabah). Ayat ini mendidik agar kita yakin bahwa Allah selalu mengawasi melalui malaikat-Nya, membentuk sikap merasa diawasi (ihsan), sehingga mendorong perilaku yang baik meskipun tanpa pengawasan manusia. Guru dan orangtua harus mengajarkan kepada peserta didik bahwa segala apa yang kita ucapkan dan lakukan diawasi oleh Allah melalui kedua malaikat yang menyertai kita, sehingga peserta didik akan menjadi pribadi yang beriman, bertakwa dan hati-hati dalam melakukan apa pun.
Keempat, Nilai Disiplin Diri dan Kontrol Emosi. Pesan ayat ini mendidik manusia agar mampu mengendalikan diri, tidak mudah berbicara tanpa berpikir, serta menahan emosi negatif.
Kelima, Nilai Kejujuran dan Integritas. Ayat ini mengajarkan kejujuran dan integritas karena semua perkataan dan perbuatan dicatat oleh malaikat. Guru dan orangtua haru mendidik siswa untuk bersikap jujur dan konsisten antara ucapan dan perbuatan sehingga mereka menjadi pribadi yang jujur dan integritas dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Keenam, Nilai Kesadaran Akhirat. Ayat ini mengingatkan bahwa catatan yang sudah dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, sehingga menumbuhkan orientasi hidup yang tidak hanya duniawi. Guru dan orangtua harus mengajarkan kepada peserta didik bahwa akhirat merupakan kehidupan yang abadi sedangkan kehidupan dunia merupakan tempat menanam amal kebaikan untuk akhirat kelak.
Landasan Teoretis
Islam mengajarkan bahwa lisan idealnya digunakan untuk menyampaikan kebenaran, menenangkan hati, mempererat ukhuwah, serta mencegah kerusakan sosial.
Al-Qur’an memberikan enam konsep dasar komunikasi melalui istilah qaulan, yaitu qaulan sadīdan (ucapan yang benar dan lurus), qaulan ma‘rūfan (ucapan yang baik dan pantas), qaulan balīghan (ucapan yang efektif dan menyentuh), qaulan layyinan (ucapan yang lembut), qaulan karīman (ucapan yang mulia dan menghormati), serta qaulan maisūran (ucapan yang mudah dan menenangkan).
Keenam konsep ini menjadi landasan teoretis bahwa ucapan yang baik dalam Islam tidak hanya dituntut benar secara substansi, tetapi juga etis, santun, dan berorientasi pada kemaslahatan. Lisan yang menyejukkan dengan demikian mencerminkan kedewasaan spiritual sekaligus kecerdasan emosional seorang Mukmin dalam berinteraksi dengan sesame.
Situasi Terkini
Saat masyarakat berada dalam keadaan rapuh, lisan dapat menjadi sumber ketenangan atau justru pemicu kepanikan. Banyaknya hoaks tentang gempa susulan, banjir besar, atau jumlah korban yang dilebihkan membuat situasi semakin kacau hanya karena seseorang abai terhadap tanggung jawab ucapannya.
Begitu pula komentar yang menyalahkan korban atau mengaitkan bencana dengan tuduhan-tuduhan tertentu justru menambah luka di tengah kesedihan. Karena itu, ayat ini mengajarkan bahwa di saat bencana, setiap Muslim wajib menghadirkan lisan yang menyejukkan: berbicara dengan empati, menenangkan, memberi harapan, dan hanya menyampaikan informasi yang benar, sebab dalam kondisi genting satu kata bisa menyelamatkan, satu kata pula bisa melukai atau menakutkan.
Lisan yang menyejukkan merupakan lisan yang berkata baik, jujur, lembut, dan bermanfaat, mencerminkan ketakwaan serta mempererat hubungan. Sementara tanggung jawab setiap ucapan berarti setiap kata akan dihisab di akhirat, sehingga perlu berpikir sebelum bicara, menghindari ghibah, fitnah, dan kata kasar, serta memilih diam jika tidak ada kebaikan, menjadikannya bagian dari keimanan untuk meraih ketenangan dan kebaikan dunia akhirat.
Sebuah pepatah bahasa Arab menyatakan bahwa keselamatan seseorang bergantung pada cara bagaimana ia menjaga lisannya. Pepatah itu berasal dari hadis Nabi:
سَلَامَةُ اْلإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ
“Keselamatan manusia terletak dalam menjaga lisannya.” (HR Bukhari)
Perkataan yang baik, menyejukkan dan bertanggung jawab diperintahkan langsung oleh Allah SWT dalam firmannya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
”Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS Al-Ahzab: 70)
Karena itu kita harus mengucapkan yang baik, menyejukkan dan bertanggung jawab. Kalau kita tidak mampu maka diamlah, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi landasan pentingnya menahan lisan dari ucapan yang sia-sia atau buruk. Ketika seseorang menjaga lisannya, ia menunjukkan tingkat keimanan dan ketakwaannya. Dalam situasi emosional, diam menjadi langkah terbaik. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR Ahmad)
Hadis ini mengajarkan bahwa kita harus menjaga lisan baik saat marah dan lain sebagainya agar kita mampu bertanggung jawab atas ucapan yang kita lontarkan.
Seseorang yang mampu menjaga lisan akan mampu menjadikan lisannya menyejukkan semua orang dan tanggung jawab setiap ucapannya.
Berikut ini tujuh adab menjaga lisan menurut Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah: 1) Hendaklah Anda tidak melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak ada gunanya bagi Anda, 2) Jangan sering-sering bersumpah demi Allah, dan jangan bersumpah demi nama-Nya kecuali memang benar-benar mendesak, 3) Hindarilah segala macam kebohongan sebab hal itu berlawanan dengan iman, 4) Jauhkan dirimu dari pergunjingan dan fitnahan serta bercanda secara keterlaluan, 5) Hindarilah setiap ucapan keji, 6) Jagalah lisanmu dari ucapan yang kurang baik apalagi yang tercela, 7) Pikirkan baik-baik apa yang akan Anda ucapkan sebelumnya. Jika itu baik menurut Anda, katakanlah. Jika tidak, diamlah.
Lisan diibaratkan seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, lisan dapat digunakan untuk menyebarkan kebaikan. Namun, di sisi lain, lisan juga bisa melukai hati orang lain melalui perkataan buruk, seperti fitnah, gosip, dan ujaran kebencian.
Oleh karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga adab berbicara. Ucapan yang baik tidak hanya mendamaikan hati sesama manusia, tetapi juga menjadi ibadah yang berbuah pahala.
Dampak Lisan yang Menyejukkan dan Tanggung Jawab Setiap Ucapan
Lalu apa saja dampak lisan yang menyejukkan dan tanggung jawab atas setiap ucapan? Pertama, Mengantarkan ridha Allah sampai hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ
“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang mengandung keridhaan Allah, dia tidak menyangka ucapannya begitu tinggi nilainya, maka Allah ‘Azzza wa Jalla akan menuliskan keridhaan baginya sampai hari kiamat.” (HR Tirmidzi)
Kedua, Mengangkat derajat seorang hamba. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ
“Sungguh seorang hamba mengucapakan sebuah kalimat yang Allah ridhai, yang dia tidak memperhatikannya, namun dengan sebab itu Allah mengangkatnya beberapa derajat.” (HR Bukhari)
Ketiga, Menjauhkan dari murka Allah. Rasulullah SAW bersabda:
قال رَسُول اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وَسَلَّم :إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللَّهِ، لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا، فَيَهْوِي بِهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ سَبْعِينَ خَرِيفًا
”Rasulullah SAW bersabda: Bisa jadi seseorang mengatakan satu kalimat yang dimurkai Allah, suatu kalimat yang menurutnya tidak apa-apa. Akan tetapi, dengan sebab kalimat itu dia jatuh ke neraka selama tujuh puluh tahun.” (HR Ahmad)
Keempat, Mengantarkan ke surga. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَقَاهُ اللَّهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ، وَشَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ دَخَلَ الجَنَّةَ (رواه الترمذي)
“Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan sesuatu yang ada di antara kedua jambangnya (lisan) dan kejahatan di antara kedua kakinya (kemaluan), ia masuk surga.” (HR At-Tirmidzi)
Kelima, Menjaga hubungan kekeluargaan dan persaudaraan. Allah SWT berfirman:
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
”Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan musuh yang nyata bagi manusia.” (QS Al-Isra’: 53)
Dampak Tidak Jaga Lisan dan Tidak Tanggung Jawab pada Ucapan
Apa saja dampak akibat tidak menjaga lisan dan tidak tanggung jawab pada ucapannya? Pertama, Terjatuh ke dalam neraka. Rasulullah SAW bersabda:
الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR Muslim)
Kedua, Termasuk Orang yang Binasa. Rasulullah SAW bersabda:
النَّاسُ ثَلَاثَةٌ غَانِمٌ وَسَالِمٌ وَشَاحِبٌ فَالْغَانِمُ الَّذِي يَذْكُرُ اللَّهَ وَالسَّالِمُ السَّاكِتُ وَالشَّاحِبُ الَّذِي يَخُوضُ فِي الْبَاطِلِ
“Manusia itu ada tiga macam: (1) orang yang memperoleh kemenangan, (2) orang yang selamat, (3) orang yang binasa. Orang yang memperoleh kemenangan yaitu orang yang berdzikir kepada Allah. Orang yang selamat yaitu orang yang diam. Sedangkan orang yang binasa yaitu orang yang banyak bicara tentang kebatilan.” (HR Thabrani dan Abu Ya’la)
Dalam kitab Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali mengemukakan 14 macam bahaya lidah yang harus diperhatikan manusia.
- Pertama, perkataan yang tidak bermanfaat yang bisa membuat hati kasar.
- Kedua, mereka yang banyak omong, maka ia banyak bohong.
- Ketiga, omong kosong.
- Keempat, menyebabkan pertengkaran dan dendam kesumat.
- Kelima, banyak bicara akan menimbulkan permusuhan antarkelompok dan golongan.
- Keenam, mereka yang berbohong dengan mengaku sebagai pakar suatu bidang.
- Ketujuh, ucapan yang mengandung hujatan dan cacian.
- Kedelapan, ucapan yang mengutuk seseorang atau satu golongan.
- Kesembilan, ungkapan syair atau nyanyian porno yang membangkitkan nafsu kebinatangan seseorang.
- Kesepuluh, senda gurau dengan memperolok-olok orang lain.
- Kesebelas, mengejek orang lain.
- Kedua belas, membuka rahasia orang lain.
- Ketiga belas, berjanji palsu.
- Keempat belas, bersumpah palsu.
Semua itu akan merusak nilai-nilai amanah, tanggung jawab yang telah diajarkan Rasulullah SAW.
Marilah kita jadikan lisan sebagai alat untuk menyebarkan kebaikan, menghindari keburukan, dan selalu berusaha berkata yang benar sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Sehingga lisan dapat mewujudkan ketenangan dan tanggung jawab atas setiap ucapan.
Kisah Teladan
Diceritakan dalam silsilah liqa’at al-bab al-maftuh, Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih karena sakit yang dideritanya. Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thawus, seorang tabi’in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasihat itu, Imam Ahmad langsung diam, tidak merintih. Beliau takut jika merintih sakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat.
Kisah ini mengajarkan bahwa lisan itu akan dimintai pertanggungjawaban dan dicatat apa yang sudah diucapkan. Karena itu, maka ucapkanlah perkataan yang baik, menyejukkan dan bertanggung jawab atas ucapan kita, jangan menjadikan lisan kita sebagai dosa dan kemurkaan Allah, tapi lisan yang mendatangkan keridhaan Allah.
Diriwayatkan, Abu Bakar mengemut batu untuk menjaga lisannya dari perkataan-perkataan yang tidak berguna selama 12 tahun. Ya, 12 tahun Abu Bakar mengemut batu sehingga berhasil membiasakan diri untuk irit bicara. Ia tak mengeluarkan batu dari mulutnya kecuali saat shalat, makan dan tidur. Bahkan ia berdoa: “Semoga diriku bisu kecuali dari dzikir kepada Allah.” (Kitab al-Jawahirul Lu’luiyyah fi Syarhil Arba’in an-Nawawiyyah)
Ibnu Mas’ud mengatakan dalam Mukhtashar Minhajil Qashidin, “Tidak ada yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama melainkan lisanku ini.”
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pendengaran, penglihatan, lisan, qalbu, dan maniku.” (Sunan Abu Dawud No. 1551 dan Sunan At-Tirmidzi No. 3492) []




















