أن يكون العمل علميا، وأن يكون العلم عمليا
“Hendaknya amal/perbuatan itu berpandukan ilmu dan hendaknya ilmu itu bisa diamalkan (berdimensi amal).”
Demikian tausiyah Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi di depan mahasiswa di masjid UNIDA Gontor, Jumat, 15 Februari 2019.
Ayahanda guru kami semua, Prof Dr KH Amal Fathullah MA, adalah sosok guru, pendidik, pembimbing dan pengayom teladan yang mukhlis, muhsin dan mutqin.
Saya hanyalah salah satu dari ribuan murid beliau yang langsung mendapatkan pengajaran dari beliau. Sejak kelas 5 KMI (SMA kelas 2) saya diajar pelajaran al-Adyan.
Semasa kuliah S1 di ISID (sekarang UNIDA), saya kembali belajar pada beliau mata kuliah Ilmu Kalam, Hinduism, Buddhism, Sufism, Filsafat, dan puncaknya dibimbing beliau langsung menulis skripsi S1 dengan tema “Mauqif Ahlissunnah wal Jama’ah min al-Usul al-Khamsah lil Mu’tazilah”.
Ke mana beliau bertugas (di dalam atau luar negeri) sering bawa koreksian santri atau mahasiswa. Hingga terkadang sampai di bandara baru sadar kalau Paspor beliau tertinggal, tapi koreksiannya nggak..
Beliau adalah contoh nyata dalam beristiqamah mengemban tugas sampai tuntas; jujur tanpa basa-basi, apa yang diucapkan itulah yang dipikirkan dalam hati; apa adanya tanpa polesan kata-kata politis dan diplomatis. Pribadi yang sederhana & murni.
Beliau sosok yang teguh mengemban amanah Trimurti Pendiri Pondok Gontor yang tertuang dalam “Akta Wakaf” untuk mengembangkan Pondok hingga “Menjadi Universitas Islam yang bermutu dan berarti”.
Almarhum membersamai ISID hingga menjadi UNIDA Gontor; mengawal akreditasi; dan selalu membanggakan para kader pondok yang menyelesaikan tugas studinya.
Untuk itu, beliau mau bersusah-susah mulai belajar S3 di Universiti Malaya di usia 50 sambil tetap mengemban tugas-tugas pondok; mondar-mandir Gontor-Kuala Lumpur sampai selesai doktor pada 2006. Lalu terus mengejar gelar profesornya dan berhasil pada 2014 di usia 67 tahun. Benar-benar seorang “fighter” yang pantang menyerah.
Semuanya beliau lakukan untuk memastikan terlaksananya amanah Trimurti, jauh dari ambisi pribadi. Tenaga, waktu, pikiran dan semua umurnya diwakafkan untuk pondok hingga akhir hayat.
Mengikhlaskan hidup di lingkungan terbatas dalam waktu yang tidak terbatas.
Kami keluarga besar IKPM Turkiye menjadi saksi bagaimana beliau tanpa ‘kamus capek’ terus-terusan bergerak dari satu kampus, ke kampus lain, ormas Islam dan perkumpulan dokter Muslim (sayader) di Turkiye. Tidak ada sehari pun berlalu tanpa urusan pondok dan UNIDA.
Di balik keseriusan dan kesungguhannya itu, beliau merupakan pribadi yang hangat, humoris dan sangat pengertian. Kami semua bersaksi bahwa Antum min ahlil khair…
Selamat jalan Ayahanda guru tercinta, Prof Amal… doa dari ribuan santri-santri yang pernah Antum didik selalu membersamai; semoga jariyah kebajikan dari ilmu yang Antum ajarkan terus mengalir, meskipun nafas Antum sudah terhenti.
اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه واكرم نزله وواسع مدخله وابدل دارا خيرا من داره و اهلا خيرا من اهله واجعل الجنة مثواه برحمتك يا أرحم الراحمين
[]






















