Krisis iklim atau perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang memicu dampak lingkungan seperti cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, kekeringan, kelangkaan pangan, dan sebagainya, telah menjadi ancaman nyata namun masih diremehkan di Indonesia. Krisis iklim (darurat iklim) adalah titik kritis perubahan iklim, dilihat sebagai “titik yang tidak bisa kembali” dan berdampak sangat luas serta menjangkau berbagai aspek termasuk lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya. Untuk menghadapi krisis iklim, diperlukan kombinasi mitigasi (mengurangi penyebab), adaptasi (menyesuaikan diri), dan yang tak kalah penting kerjasama semua pihak.
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Pusat Studi Islam Universitas Nasional (Unas) sekaligus aktivis lingkungan Muslim terkemuka, Dr Fachruddin Majeri Mangunjaya MSi, mencoba mengenalkan gagasan Ekopesantren untuk mempersiapkan generasi muda (terutama santri dan guru) yang berkontribusi pada aksi lingkungan hidup. Kepada Reporter Majalah Gontor Edithya Miranti, Advisory Council Interfaith Rainforest Initiative (IRI)-Indonesia (2020-sekarang) ini pun menjabarkan beberapa hal, berikut kutipannya:
Mohon dijelaskan apa itu Ekopesantren?
Program Ekopesantren adalah sebuah strategi yang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam dan mewujudkan komunitas pondok pesantren yang hijau, mandiri, serta ramah lingkungan. Ekopesantren menyinergikan antara ajaran agama Islam dan ilmu pengetahuan (science) mengenai alam dan lingkungan untuk menjawab tantangan yang dihadapi dunia Islam dan Indonesia saat ini, seperti kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.
Apa visi dan tujuan program Ekopesantren?
Visi Ekopesantren yaitu menjadi program unggulan bagi dunia Islam dan sistem pendidikan Islam untuk membangun generasi muda Muslim yang mempunyai kesadaran lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan melalui sinergi keimanan dan ilmu pengetahuan. Sedangkan di antara tujuannya ialah memberdayakan komunitas pesantren untuk meningkatkan kualitas lingkungan berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pada komunitas pesantren, meningkatkan aktivitas pesantren yang mempunyai nilai tambah (ekonomi, sosial, dan ekologi) bagi komunitas pesantren dan masyarakat sekitarnya, juga menjadikan pesantren sebagai model pembelajaran pendidikan lingkungan berbasis Islam bagi komunitas pesantren dan masyarakat sekitar.
Apa saja program yang dijalankan oleh Ekopesantren?
Program Ekopesantren dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan, seminar, serta penilaian mandiri (web-tracking) untuk membangun komunitas pondok pesantren hijau, mandiri, dan ramah lingkungan melalui sepuluh program Ekopesantren.
Apa saja sepuluh program Ekopesantren tersebut?
Sepuluh program Ekopesantren itu ialah: pertama, Kurikulum Berbasis Lingkungan. Permasalahan lingkungan dapat dikaitkan dengan semua materi pelajaran di pesantren. Maka, diperlukan berbagai aksi kegiatan atau program penyadartahuan khususnya di pesantren.
Kedua, Integrasi Pelajaran Fiqh Lingkungan. Dengan otonomi, pesantren dapat memberikan pelajaran tambahan atau khusus tentang lingkungan hidup (Fiqh Lingkungan). Implementasinya bisa melalui integrasi dalam pembelajaran Fiqih Muamalah dan Ibadah yang disampaikan lewat teori atau praktik.
Ketiga, Peningkatan Sumber Daya Manusia di Bidang Lingkungan melalui peningkatan kapasitas dan pengetahuan pendidik dalam menyampaikan kegiatan pelestarian alam dan lingkungan. Keempat, Lahan Pesantren yang memberikan beberapa cara pemanfaatan lahan pesantren baik untuk pertanian, peternakan, maupun perikanan. Kelima, Sumber Daya Air berupa edukasi manajemen air di beragam kegiatan pesantren.
Keenam, Hidup Sehat melalui demonstrasi aksi lingkungan seperti penanaman pohon yang berbasis pada konservasi keanekaragaman hayati, apotek hidup (penanaman tanaman obat), pertanian organik untuk konsumsi komunitas pesantren dan santri. Ketujuh, Limbah dan Sampah, seperti edukasi pengelolaan limbah di lingkungan pondok.
Kedelapan, Sumber Daya dan Energi dengan penggunaan energi yang terbarukan (matahari, tenaga air, dan angin) untuk kelangsungan pemenuhan kebutuhan energi di pesantren. Kesembilan, Transportasi dengan mengalihkan transportasi ramah lingkungan (sepeda atau transportasi publik). Penilaian dapat dilakukan dengan memberikan retriksi atau pembatasan pada penggunaan kendaraan yang tidak ramah lingkungan. Kesepuluh, Keanekaragaman Hayati lewat pelestarian alam, baik flora ataupun fauna.
Bagaimana Ekopesantren dapat menjadi model pendidikan lingkungan yang efektif?
Tentunya kegiatan Ekopesantren ini sangat menguntungkan pesantren itu sendiri. Sebagaimana ada semacam kebanggaan atas kegiatan yang menunjukkan mereka konsen ke pelestarian lingkungan, seperti menangani sampah organik sampai zero waste, dan lainnya. Bagaimana pun lingkungan hidup menjadi dilema jika populasinya padat, maka jika pesantren dirancang dengan baik akan membuat keuntungan untuk pesantren itu sendiri. Kalau bisa mengikuti model yang sepuluh itu bagus sekali, seperti penghematan air dan seterusnya.
Sejauh ini, kegiatan apa saja yang telah diinisiasi tim Ekopesantren?
Kegiatan pendidikan dan pelatihan telah dilakukan untuk menguatkan kapasitas SDM pondok dalam menjalankan program Ekopesantren. Kegiatan ini dilakukan melalui lokakarya, kunjungan, dan praktik lapangan, bersama para narasumber dari kementerian, universitas, serta organisasi yang bekerja untuk isu lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan. Kegiatan ini juga didukung dengan sejumlah materi pelatihan sebagai bahan rujukan.
Kegiatan pendidikan dan pelatihan dilakukan secara berkala berdasarkan pembagian wilayah. Sebagaimana Lokakarya Penguatan Program Ekopesantren untuk 50 pesantren yang ada di Sumatera dan Jawa pada tahap awal yang ditujukan kepada pengelola dan pengajar di pesantren.
Bagaimana Ekopesantren mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum pesantren?
Sekarang yang terpenting praktik, seperti membuat esai tentang lingkungan, pelaksanaan sepuluh program unggulan Ekopesantren, Student Centered Learning, juga pelajaran berbasis siswa. Sehingga apa yang santri dapatkan di pesantren bisa diambil lalu diuraikan. Terutama sekarang berbasis internet, banyak materi kuliah yang bisa diambil dari Youtube dan lainnya, seperti kegiatan daur ulang dsb.
Mungkin suatu saat akan ada studi banding ke pesantren yang sudah di benchmarking Ekopesantren. Karena mestinya ada kegiatan terukur (pengurangan jumlah sampah pondok pada setiap bulannya, pengolahan sampah organik, daur ulang sampah), tapi melibatkan semua santri yang ada di pesantren. Bisa juga dengan cara dikompetisikan, penghargaan pelestarian lingkungan hidup, serta lewat pelatihan.
Apa saja tantangan yang dihadapi dalam menyiarkan program Ekopesantren?
Alumni pesantren harus berkontribusi untuk inovasi pesantren ramah lingkungan. Pertama, niat, lalu dilanjutkan dengan aksi, rencana, dan koordinasi antarunit di pesantren. Keberlangsungan program ini sangat bergantung pada pelopornya (kiai). Maka, dilakukan kontak koordinasi terkait dengan itu, semisal mengundang para pemimpin pesantren untuk mudzakarah Fiqih Lingkungan yang kemudian dilanjutkan dengan penerbitan buku-buku bertema lingkungan yang bisa diunduh secara gratis di website ekopesantren.com. Tidak hanya itu, beragam panduan Ekopesantren juga disajikan di dalamnya. Pihak pesantren pun bisa mekakukan gerakan mulia ini secara bertahap dan yang termudah dulu, seperti menertibkan santri untuk bisa memilah sampah dan setidaknya bisa mengurangi jumlah sampah yang keluar dari pesantren.
Bencana alam di Sumatera menyisakan duka dan pesan mendalam untuk kita semua. Lantas apa pesan Anda kepada generasi muda khususnya para santri dalam menjaga kelestarian alam di Indonesia?
Kekhawatiran kita itu sudah tersirat sejak 20 tahun silam. Dulu diprediksi tahun 2015-2020 hutan dataran rendah Sumatera akan habis dan beralih menjadi perkebunan sawit. Sekarang akibatnya seperti ini. Fenomena perubahan iklim itu akan berulang karena ketidakseimbangan dan suhu naik. Kita harus berpikir ulang, mendata ulang semua hal di Sumatera. Apalagi banyak sekali kontur tanah rumah warga di sana yang perbukitan juga. Saat ini kita berada di krisis iklim, bencana iklim, jadi harus berhati-hati. Perluaslah wawasan tentang lingkungan untuk bisa melihat kondisi bumi kita. []


















