Jakarta, Gontornews — Komunitas Azhariyat Indonesia pada Ramadhan kali ini kembali menggelar Azhariyat in Ramadhan; Webinar Nasional Sesi Ketiga dengan tema Thermal Weapon di Gaza. Mengulik sejumlah persoalan di Gaza, kajian kali ini juga turut menambah wawasan peserta dengan mengamati beragam kasus kejahatan perang terutama lewat persenjataan berbahaya yang digunakan para Zionis.
Mengundang sejumlah narasumber menarik seperti Prof Dr Din Syamsuddin (Chairman World Peace Forum), Ustadz Munawar Liza Zainal (Peace Negotiator), dan Nur Gemilang Mahardika SH LLM (Direktur Insania dan Dosen Universitas Islam Indonesia Yogyakarta). Kegiatan yang dimoderatori oleh Dr Ulya Fikriyati Lc MAg itu digelar setelah waktu Shubuh dan turut menarik antusias 80-an peserta.
Dalam paparannya, Prof Dr M Sirajuddin Syamsuddin menjelaskan, “Kasus Palestina tidak akan berakhir sampai negara Adidaya dan sekutunya berhenti mendukung Israel.” Terlebih karena Israel merupakan kekuatan penting bagi Amerika Serikat. Jika dikaitkan dengan perdamaian dunia, Prof Din pesimis hal itu akan belangsung dalam waktu dekat. Apalagi sekarang ada banyak konflik terbuka dan banyak pakar bilang akan terjadi perang dunia ketiga.
Ustadz Munawar Liza Zainal pun turut menjabarkan tentang asal muasal kependudukan Israel di tanah Palestina. Ia juga menjelaskan bahwa dahulunya para pemuda Yahudi membentuk organisasi (premanisme) teroris yang banyak membunuh orang-orang Arab. “Mereka membentuk identitas bernama Israel. Sebetulnya bangsa Bani Israel itu ada, tapi negara Israel tidak ada,” tekannya.
Meski keberadaan negara Israel dikecam, mereka tetap ada, dan membentuk tentara kependudukan, tentara penjajah. “Jadi mereka lahir dari rahim teroris, maka tidak aneh mereka melakukan pembantaian, penembakan, dan memang tidak ada terkait akhlak, aturan, dan lainnya,” tambah alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir itu. Hingga akhirnya Palestina diduduki dengan kekerasan, mereka tersudut di Gaza, tepi Barat Yordania, dan kini tanah air mereka tinggal secuil lagi dari al-Quds.
Selain itu, narasumber ketiga, Nur Gemilang menyampaikan secara gamblang tentang resiko besar dari penggunaan senjata termobarik (thermobaric weapon) oleh para penjajah khususnya di sini Israel. “Thermobaric memiliki efek kerusakan sangat masal dan jika senjata ini memang sengaja ditembakkan di wilayah padat penduduk maka kehati-hatiannya harus dipertanyakan,” tekannya.
Senjata termobarik yang sering disebut bom vakum atau bahan peledak udara-bahan bakar, merupakan salah satu senjata konvensional paling mematikan di dunia. Bahaya utamanya terletak pada mekanisme kerjanya yang menggunakan oksigen dari udara sekitar untuk menghasilkan ledakan bersuhu tinggi, serta tekanan gelombang kejut yang bertahan jauh lebih lama daripada bahan peledak konvensional.
Nur Gemilang menekankan, diskursus terkait senjata ini, umumnya banyak menarik perhatian perang yang terjadi di perkotaan, namun perlu diperhatikan dampaknya apalagi di wilayah zona pesisir seperti Gaza.
Ia pun menyimpulkan bahwa kita tidak bisa menutup mata dari teknologi persenjataan karena akan berkembang sangat pesat dan belum bisa diikuti dengan hukum tertulis. “Namun, nyawa, jiwa dari Hukum Humaniter Internasional (HHI) terletak pada perlindungan terhadap rakyat sipil (nilai-nilai kemanusiaan),” tutupnya kepada Gontornews.com. [Edithya Miranti]


















