Tahun 2014, awal saya masuk Darunnajah. Waktu itu, saya diajak KH Sofwan Manaf, salah satu pimpinan pesantren, untuk mengunjungi salah satu gudang yang lokasinya di Sukabumi Ilir, sekitar sepuluh sampai lima belas menit dari Darunnajah Ulujami.
Di dalam mobil, saya memberanikan diri bertanya. “Ustadz, kalau kita mau beli tanah, bagaimana cara memilihnya?”
Beliau tersenyum. Lalu jawab, “Ada tiga hal yang harus diperhatikan.”
Saya nunggu. Beliau diam. Saya tanya lagi, “Apa itu, Ustadz?”
“Yang pertama,” katanya, “lokasi.”
Saya menulis di dalam hati: lokasi. Lalu saya menunggu poin kedua. Beliau diam lagi. Sambil melambatkan mobil, saya tanya, “Yang kedua apa, Ustadz?”
Dengan tenang beliau jawab, “Lokasi.”
Saya mulai bingung. Tapi saya tanya lagi, “Kalau yang ketiga?”
“Lokasi,” jawab beliau.
Saya cuma bisa senyum. Di dalam hati mikir, ini kiai saya lagi ngajarin sesuatu yang sederhana tapi dalam. Tiga hal penting dalam membeli tanah: lokasi, lokasi, dan lokasi. Artinya, lokasi itu segalanya. Kalau salah pilih lokasi, apalah artinya bangunan megah, konsep canggih, tim sukses.
Waktu itu, tahun 2014, rasanya hukum itu berlaku untuk segalanya. Toko yang bagus harus di pinggir jalan raya. Kantor yang laris harus di pusat kota. Pesantren yang diserbu santri harus di tanah strategis, dekat pemukiman, mudah diakses.
Tapi dua belas tahun kemudian, saya menonton sebuah video di internet. Isinya kira-kira: sekarang orang bisa melakukan apa saja dari mana saja. Jualan bisa dari rumah. Ngajar bisa dari kamar. Rapat bisa dari mobil. Semua karena internet.
Lho, kalau begitu, hukum “lokasi, lokasi, lokasi” apakah masih berlaku?
Ketika Lokasi Fisik Mulai Kehilangan Makna
Saya jadi ingat beberapa pesantren yang dulu sepi, sekarang ramai. Kok bisa? Bukan karena pindah lokasi. Tapi karena mereka mulai nge-post kegiatan di media sosial. Live ngaji di YouTube. Kajian kitab via Zoom. Mereka tidak pindah tempat, tapi jangkauan mereka meluas. Orang dari Aceh, dari Papua, bahkan dari Malaysia, bisa ikut mengaji tanpa harus datang ke pesantren secara fisik.
Jadi, apakah lokasi fisik tidak penting lagi? Tentu tetap penting. Tapi sekarang ada konsep lain yang mungkin lebih penting: lokasi digital.
Lokasi digital adalah tempat di mana audiens Anda berada. Bisa di Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp, atau aplikasi lain. Jika pesantren hanya sibuk dengan lokasi fisik yang mentereng, tapi tidak punya lokasi digital yang memadai, maka kita bisa ketinggalan zaman.
KH Sofwan Manaf, dengan jawaban singkatnya, sebenarnya sedang mengajarkan kita untuk fokus pada hal yang paling menentukan. Dulu, lokasi fisik adalah yang paling menentukan. Sekarang, mungkin jawabannya bisa berbeda.
Lokasi Digital Juga Butuh “Lokasi, Lokasi, Lokasi”
Tapi apakah cukup hanya dengan punya akun YouTube? Tidak. Konsep “lokasi, lokasi, lokasi” juga berlaku di dunia digital. Artinya:
Lokasi digital yang tepat: jangan asal buat konten di platform yang sepi. Cari tahu di mana calon santri atau jamaah Anda berada. Kalau targetnya remaja, jangan cuma di Facebook. Kalau targetnya ibu-ibu, jangan cuma di TikTok.
Lokasi digital yang terawat: bukan sekadar punya akun, tapi mengelola konten dengan konsisten. Seperti tanah yang harus dibersihkan dan ditanami.
Lokasi digital yang berjaringan: terhubung dengan akun-akun lain, dengan influencer, dengan komunitas. Seperti lokasi fisik yang dekat dengan pasar dan jalan raya.
Pesantren di Era Digital
KH Sofwan Manaf tidak akan pernah membayangkan waktu itu bahwa dua belas tahun kemudian, dunia berubah secepat ini. Tapi saya yakin, semangat yang beliau ajarkan tetap sama: prioritaskan yang paling penting. Dulu itu lokasi fisik. Sekarang? Lokasi fisik tetap penting, tapi lokasi digital mungkin lebih darurat untuk segera diperhatikan.
Pesantren yang hanya mengandalkan kemegahan bangunan, tanpa gempuran konten digital, akan seperti rumah mewah di tengah hutan. Bagus, tapi sepi pengunjung. Sebaliknya, pesantren yang sederhana fisiknya, tapi punya “lokasi digital” yang ramai, bisa menjadi pusat perhatian.
Saya jadi teringat cerita seorang teman yang pesantrennya kecil di pinggir desa. Tanahnya cuma sepetak. Bangunannya biasa saja. Tapi tahun ini, jumlah pendaftar naik dua kali lipat. Kok bisa? Karena mereka aktif nge-vlog kegiatan santri di TikTok. Isinya lucu: santri main bola, ngaji sambil bercanda, bahkan masak di dapur. Jutaan orang nonton, dan banyak orang tua yang terpikat.
Bukan karena pesantrennya pindah lokasi. Tapi karena “lokasi” digital mereka strategis.
Penutup
Jadi, apa pelajaran dari KH Sofwan Manaf setelah dua belas tahun? Lokasi tetap segalanya. Artinya, kita harus terus bertanya: di mana kita harus hadir? Di mana target kita berada? Di mana kita bisa memberikan dampak terbesar?
Dulu jawabannya: di tanah yang strategis. Sekarang jawabannya: di platform yang ramai.
Dan mungkin, sepuluh tahun lagi, jawabannya akan berbeda lagi. Tapi prinsipnya tetap: fokus pada yang paling menentukan.
Terima kasih, KH Sofwan Manaf, untuk pelajaran sederhana yang terus relevan, meskipun maknanya bergeser seiring zaman. []
*Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan pesantren. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, dan Menjejaki Alam Filsafat.




















