Bogor, Gontornews — Perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Bogor memberikan apresiasi tinggi kepada Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama Leuwiliang, Kabupaten Bogor, yang secara rutin menggelar kegiatan Sidang Tahfizh bagi para siswa penghafal Al-Qur’an.
Sabtu (20/6/2026), sekolah itu menggelar Sidang Tahfizh ke-10. Acara yang berlangsung di lantai dua Gedung SMPIT Insantama Leuwiliang, itu diikuti 105 peserta. Mereka terdiri dari siswa kelas 2 – 5 SDIT serta siswa kelas 7 dan 8 SMPIT Insantama Leuwiliang.
Perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Bogor, Ustadz Tolib SPdI MPd, menyampaikan apresiasi atas komitmen Insantama dalam membangun generasi Qurani. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pendidikan Al-Qur’an bukan sekadar mengajarkan hafalan, tetapi juga membentuk karakter dan peradaban manusia.
“Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, pernah menyampaikan bahwa ekologi manusia harus ditanamkan dan ditumbuhkan melalui pendidikan agama, terutama melalui Al-Qur’an. Artinya, jika kita ingin membangun manusia yang menjaga hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta, maka fondasinya harus dimulai dari pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini,” tuturnya di depan para wali murid, guru, siswa dan tamu undangan.
Menurutnya, nilai-nilai itulah yang telah ia lihat tumbuh di lingkungan SIT Insantama Leuwiliang. Pembiasaan membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, sehingga melahirkan capaian yang membanggakan.
“Di Insantama, itu sudah ditanamkan sejak dini. Anak-anak SD saja sudah ada yang mampu menghafal satu juz, dua juz, bahkan ada yang sampai sepuluh juz. Begitu pula di jenjang SMP, program tahfizhnya terus berlanjut sehingga hafalan anak-anak tidak berhenti, tetapi terus bertambah dan semakin kuat,” ungkapnya bangga.
Ia pun mengajak para orang tua untuk menjaga kesinambungan pendidikan Al-Qur’an putra-putrinya. Menurutnya, keberhasilan menghafal Al-Qur’an tidak cukup hanya sampai lulus SD. Hafalan harus terus dipelihara melalui lingkungan pendidikan yang mendukung agar tidak hilang seiring berjalannya waktu.
“Saya menyarankan kepada para orang tua yang anaknya telah lulus dari SDIT Insantama agar melanjutkan pendidikan ke SMPIT Insantama. Dengan demikian, hafalan yang sudah dibangun sejak kecil dapat terus dijaga, di-muraja’ah, dan ditingkatkan. Menghafal Al-Qur’an itu bukan hanya tentang menambah juz, tetapi juga tentang menjaga hafalan agar tetap hidup sepanjang hayat,” pesannya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Insantama juga telah menjalin kerjasama dengan Kementerian Agama dalam penerbitan “Sertifikat Tahfizh”. Kerjasama ini memberikan kemudahan bagi para siswa untuk memperoleh pengakuan resmi atas capaian hafalan mereka.
“Ini menjadi nilai tambah yang sangat baik. Siswa Insantama yang telah memenuhi ketentuan dapat memperoleh sertifikat tahfizh melalui mekanisme kerjasama dengan Kementerian Agama. Ketika kelak mereka melanjutkan pendidikan ke SMA, khususnya sekolah-sekolah unggulan yang membuka jalur prestasi tahfizh, sertifikat tersebut dapat menjadi bekal yang sangat berharga. Sementara di banyak sekolah lain, siswa masih harus mengikuti pengujian hafalan terlebih dahulu di Kementerian Agama untuk mendapatkan sertifikat yang sama.”

Di akhir sambutannya, ia berharap semakin banyak lembaga pendidikan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh utama pembelajaran. Sebab, prestasi akademik akan menjadi lebih bermakna apabila dibangun di atas fondasi iman dan akhlak yang kokoh.
“Anak-anak yang dekat dengan Al-Qur’an bukan hanya sedang mempersiapkan masa depan mereka di dunia, tetapi juga sedang membangun bekal terbaik untuk kehidupan akhirat,” pungkasnya. []




















