Mukadimah
Seratus tahun merupakan usia yang panjang bagi sebuah lembaga pendidikan. Namun dalam perjalanan peradaban, seratus tahun sesungguhnya bukanlah garis akhir, melainkan awal dari babak baru yang lebih menantang.
Pondok Modern Darussalam Gontor telah berhasil melewati satu abad pengabdian dengan melahirkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai bidang kehidupan: pendidikan, dakwah, pemerintahan, dunia usaha, sosial kemasyarakatan, profesional-hingga tingkat internasional. Akan tetapi, memasuki abad kedua, tantangan yang dihadapi jauh berbeda dibandingkan masa para pendiri.
Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat. Kecerdasan buatan AI, mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Dunia semakin terbuka, tetapi pada saat yang sama krisis moral, identitas, dan keteladanan juga semakin terasa.
Dalam konteks itulah, pantun sederhana yang disampaikan oleh KH Hasan Abdullah Sahal pada Milad 100 Tahun Gontor layak dibaca lebih dalam. Ia bukan sekadar rangkaian kata yang menghibur, melainkan pesan kepemimpinan yang mengandung arah dan harapan bagi Generasi Yahanu dalam menyongsong abad kedua Gontor.
Pantun Yang Menyimpan Pesan Besar
Di hadapan sekitar 1.500 kiai dan pimpinan pesantren dari seluruh Indonesia di New BPPM Gontor pada 20 Juni 2026, KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan dua pantun sederhana yang jenaka tapi penuh makna:
“Ke Gandu ya ke Gandu,
Jangan lupa bawa tas.
Yahanu ya Yahanu,
Tapi harus berkualitas.”
Kemudian beliau melanjutkan:
“Ke Gandu ya ke Gandu,
Jangan lupa ke Gontor.
Yahanu ya Yahanu,
Jangan lupa jadi inspirator.”
Hadirin tersenyum, tertawa dan bersuka ria- sambil menyahut kompak “Cakep” .
Namun sebagaimana tradisi para masyayikh Gontor, sering kali pesan yang paling dalam justru disampaikan dengan bahasa yang paling sederhana.
Pantun tersebut sesungguhnya dapat dibaca sebagai tiga amanah besar bagi Generasi Yahanu: menjaga kualitas, menebarkan inspirasi, dan membangun peradaban.
Analisis
- Yahanu: Mentalitas Pantang Menyerah
Bagi anak-anak Gontor, Yahanu bukan hanya jargon.
Yahanu adalah mentalitas.
Mentalitas untuk terus bergerak ketika orang lain berhenti. Mentalitas untuk terus mencoba ketika jalan belum terlihat. Mentalitas untuk mengubah keterbatasan menjadi peluang dan kesulitan menjadi pengalaman.
Dalam kehidupan alumni, Yahanu sering hadir dalam bentuk yang sederhana: tidak merasa paling mampu, tetapi tidak pernah berhenti belajar; tidak merasa paling sibuk, tetapi selalu berusaha memberi manfaat.
Karena itu, Yahanu bukan hanya kata biasa. Ia energi ruhani yang membentuk karakter santri sepanjang hayat.
- Berkualitas Sebelum Berpengaruh
Pesan pertama dalam pantun tersebut merupakan kualitas. Di era digital, banyak orang mengejar popularitas. Namun Gontor mengajarkan bahwa kualitas harus mendahului pengaruh. Pengaruh tanpa kualitas akan cepat pudar. Sebaliknya, kualitas yang kuat akan melahirkan pengaruh yang bertahan lama.
Kualitas yang dimaksud bukan hanya kecerdasan intelektual, melainkan perpaduan antara ilmu, iman, akhlak, integritas, loyalitas, kapasitas, profesionalitas, dan kebermanfaatan sosial.
Alumni Gontor tidak cukup hanya dikenal. Mereka harus dibutuhkan.
Tidak cukup hanya sukses. Mereka harus membawa keberkahan untuk umat.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
- Dari Pewaris Menjadi Penambah Nilai
Salah satu tantangan terbesar setiap generasi yaitu kecenderungan menikmati hasil perjuangan generasi sebelumnya. Padahal sejarah tidak meminta kita hanya menjadi pewaris. Sejarah menuntut kita menjadi penambah nilai.
Para pendiri telah membangun fondasi. Generasi sekarang harus membangun lantai-lantai tingkat berikutnya.
Para pendiri telah menanam pohon. Generasi sekarang harus memperluas kebunnya.
Pertanyaan penting yang perlu diajukan setiap alumni, yaitu: “Apa yang telah saya tambahkan kepada perjuangan yang saya warisi?”
Sebab ukuran keberhasilan bukan hanya pada apa yang kita terima, melainkan pada apa yang kita tinggalkan.
- Inspirator, Bukan hanya Influencer
Pesan kedua dalam pantun tersebut menjadi inspirator. Pada zaman media sosial, dunia melahirkan banyak influencer. Namun umat jauh lebih membutuhkan inspirator.
Influencer menarik perhatian. Inspirator menggerakkan hati dan mempengaruhi orang lain.
Influencer menciptakan pengikut. Inspirator melahirkan penerus.
Inspirator tidak selalu tampil di panggung besar. Mereka sering hadir dalam keikhlasan dan kesunyian pengabdian. Seperti guru yang istiqamah mendidik. Kiai yang sabar membimbing umat. Wakif yang diam-diam berkorban. Alumni yang mengangkat generasi muda. Ustadz yang mengajar di madrasah, lembah, gunung, pedesaan, dll.
Merekalah inspirator sejati yang menjaga “nur” peradaban.
- Yahanu dan Misi Membangun Peradaban
Memasuki abad kedua, tantangan Gontor bukan hanya mempertahankan eksistensi, tetapi memperluas kontribusi bagi peradaban. Peradaban tidak dibangun oleh gedung yang megah semata. Peradaban dibangun oleh manusia berkualitas yang memiliki visi, akhlak, ilmu, dan pengabdian.
Karena itu, Generasi Yahanu harus mampu:
Menguasai teknologi tanpa kehilangan adab.
Berpikir global tanpa kehilangan identitas.
Berinovasi tanpa meninggalkan nilai.
Membangun kemajuan tanpa kehilangan ruh keikhlasan.
Inilah esensi peradaban yang sejak awal diperjuangkan oleh para pendiri Gontor.
Ihtitam
Pantun KH Hasan Abdullah Sahal hanya terdiri dari beberapa baris. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan pesan yang sangat besar dan bermakna luas.
Ia mengingatkan bahwa memasuki abad kedua Gontor, alumni tidak cukup hanya bangga menjadi bagian dari sejarah. Mereka harus ikut menciptakan sejarah.
Tidak cukup hanya berkualitas untuk dirinya sendiri. Mereka harus menginspirasi lingkungannya.
Tidak cukup hanya menikmati warisan. Mereka harus menambah nilainya.
Tidak cukup hanya menjadi saksi perjalanan peradaban. Mereka harus menjadi pelakunya.
Tidak cukup hanya menjaga peradaban, ia juga harus menciptakan peradaban.
Semoga Generasi Yahanu menjadi generasi yang menjaga nilai, memperluas manfaat, dan membangun peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, akhlak, dan pengabdian. Karena sesungguhnya Yahanu bukan hanya “slogan” anak Gontor.
Yahanu adalah ikrar untuk melanjutkan perjuangan seratus tahun berikutnya untuk membangun peradaban yang mencerahkan. []
*(Refleksi atas Pantun Bertuah KH Hasan Abdullah Sahal pada Milad 100 Tahun Gontor)
Darel Azhar Banten, 7 Juli 2026





















