Meski puncak acara reuni 100 tahun Gontor masih akan digelar lebih dari satu bulan lagi, perbincangan tentang keriuhan reuni di berbagai forum sudah ramai sekali. Ada saja topik yang diperbincangkan oleh sesama alumni Gontor, baik saat pertemuan tatap muka maupun di grup WhatsApp.
Menjelang hari H, pesan persahabatan di antara kawan-kawan yang muncul nyaris sama: βJaga kesehatan ya supaya kita bisa ikut reuni nanti.β
Oh iya, saya ingin terlebih dahulu memberi pengakuan tentang ikatan saya dengan Gontor. Saya menjadi santri Gontor antara tahun 1981β1987. Enam tahun saya menikmati βkawah candradimukaβ Gontor.
Saat duduk di kelas 5 dan 6 KMI, saya didaulat menjadi bagian Kesenian dalam struktur OPPM (Organisasi Pelajar Pondok Modern).
Oleh sebab itu, saya sedikit paham tentang perilaku para pengurus OPPM. Hal itu akan terkait dengan cerita tentang βperilakuβ pengurus lain seperti Qismul Amn yang akan saya tuliskan di bawah ini.
Latar belakang ini perlu disampaikan agar cerita yang saya tulis bisa dibaca sesuai dengan konteks zamannya. Bisa jadi, cerita itu sudah tidak sepenuhnya relevan dengan kondisi Gontor saat ini.
Jadi, cerita ini sekadar catatan memori seorang santri Gontor pada zamannya, bukan gambaran tentang Qismul Amn dalam kaitanya dengan kehidupan para santri Gontor sekarang.
Cerita tentang Qismul Amn
Memperbincangkan kenangan tentang βperilakuβ Qismul Amn seolah menjadi bahan cerita yang tidak ada habis-habisnya.
Dalam struktur negara, mereka bisa diibaratkan seperti polisi yang bertugas menegakkan aturan. Keberadaan mereka sangat penting karena langsung bersentuhan dengan kehidupan para santri yang tinggal di asrama.
Para santri yang terpilih menjadi bagian dari Qismul Amn biasanya harus memenuhi beberapa prasyarat tidak tertulis, tetapi hampir pasti berlaku. Secara fisik, mereka biasanya harus berbadan besar, kekar, berwibawa, terkesan angker, dan berwajah sangar.
Santri berbadan kecil dan berwajah cengengesan seperti saya tentu tidak mungkin terpilih masuk dalam bagian itu.
Saya ingat betul cerita tentang seorang kakak kelas yang ditunjuk menjadi aparat keamanan, meskipun wajahnya biasa saja, alias tidak terlalu menyeramkan. Badannya pun cukup pendek, meskipun kekar.
Penunjukan itu sebenarnya cukup mengagetkan banyak orang. Apa yang terjadi setelah ia resmi menyandang peran sebagai aparat keamanan pondok alias Qismul Amn? Ia berubah total.
Setiap hari ia berusaha keras mengubah penampilannya dengan banyak makan dan rajin sekali berolahraga. Ia sekuat tenaga membesarkan badannya agar terlihat lebih kekar dan berwibawa sebagai bagian keamanan.
Tidak cukup sampai di situ. Ia juga berusaha mengubah penampilan wajahnya menjadi lebih seram dan sangar. Nyaris tidak pernah lagi tersenyum kepada siapa saja. Hal itu sengaja ia lakukan untuk menjaga kewibawaannya sebagai aparat keamanan pondok yang harus disegani dan ditakuti.
Selain mengubah penampilan fisik, ia juga berperilaku sangat keras kepada para santri yang melanggar aturan pondok. Tindakan kerasnya bahkan jauh melebihi perilaku aparat keamanan lainnya. Jika harus menghukum, hukuman yang diberikan terkadang lebih berat daripada hukuman yang diberikan oleh petugas keamanan lain.
Lagi-lagi, semua upaya keras itu ia lakukan karena ingin menunjukkan kewibawaan dan tidak ingin diremehkan. Ia tentu tidak ingin menjadi bahan ejekan dengan ucapan, βBagian keamanan kok pendek?β
Saat itu, saya duduk di kelas 4 dan dia duduk di kelas 5. Bagi kami, para santri yang duduk di kelas 4 ke bawah, perilaku oknum bagian keamanan yang keras itu mudah diketahui oleh semua orang. Namanya sangat dikenal karena ia sering menjadi bahan ejekan sekaligus menjadi βpublic enemyβ di pondok, terutama dalam perbincangan di forum-forum kecil.
Tidak ada pesta yang tidak berakhir. Setahun kemudian, ketika ia sudah duduk di kelas 6 dan menjelang kelulusan, ia tentu tidak lagi menjabat sebagai aparat keamanan. Untuk itu, ia harus kembali berbaur dengan santri lain dan menempati kamar biasa. Tanpa ia sadari, bahwa para βkorbanβ kekerasannya dulu ternyata masih menyimpan rasa dendam dan berada di dalam satu kamar dengannya.
Suatu ketika, saat si oknum mantan aparat keamanan ini mengikuti acara βrihlah iqtishadiyahβ, alias studi banding di luar pondok, ada beberapa santri yang berani membuka lemari pakaiannya. Mereka lalu mengeluarkan sebagian baju dan celananya untuk digunting menjadi potongan-potongan kain hingga nyaris tidak bisa digunakan kembali.
Melihat pakaian di lemarinya sudah hancur, ia sangat kaget dan marah. Namun, semua orang tahu bahwa meskipun dulu ia sangat sangar dan keras, sekarang ia bukan lagi siapa-siapa lagi. Para santri adik-adik kelasnya hanya tersenyum sambil mengabaikan kemarahannya.
Semua paham bahwa jabatannya sebagai βaparat keamananβ sudah hilang. Ia tidak lagi memiliki βtongkat komandoβ, seperti yang biasa terjadi dalam dunia kepolisian atau militer. Para santri hanya tersenyum mencibir. Dalam hati mereka berkata, βSukurin!!!β
Hikmah yang Terpetik
Sekian puluh tahun kemudian, saya masih mengingat peristiwa itu dengan jelas. Saya pun kini berani menuliskannya kembali. Bagi saya, selalu ada hikmah yang bisa dipetik dari setiap peristiwa yang terjadi.
Saya berdoa, semoga saya tidak bersikap jumawa ketika mendapatkan sedikit anugerah kekuasaan dalam genggaman. Kekuasaan itu pasti berbatas dan jauh dari keabadian. Dalam hitungan bulan, atau paling lama beberapa tahun, kekuasaan akan berakhir dan berpindah kepada orang lain.
Para pejabat negara yang saat ini sedang memegang kekuasaan pun akan menghadapi hukum alam yang sama. Kekuasaan ada batasnya. Jabatan ada akhirnya. Pada waktunya, para pemilik kuasa akan kembali menjadi warga negara biasa.
Karena itu, jangan sampai kekuasaan yang hanya sementara membuat seseorang merasa menjadi penguasa selamanya. Sebab, yang akan dikenang orang lain bukanlah jabatan atau kekuasaannya, melainkan jejak perilaku seseorang ketika berkuasa. []






















