Landasan Teologis
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
Interpretasi Para Mufasir
Tafsir As-Sa’di menyebutkan bahwa para ulama ushul fikih menjadikan ayat ini sebagai salah satu dalil untuk berhujah dengan perbuatan-perbuatan Rasulullah SAW. Hukum asalnya yaitu bahwa umat Islam menjadikan beliau sebagai teladan dalam berbagai hukum, kecuali apabila terdapat dalil syariat yang menunjukkan bahwa suatu perkara merupakan kekhususan bagi beliau.
Keteladanan (uswah) terbagi menjadi dua macam, yaitu teladan yang baik (uswah hasanah) dan teladan yang buruk (uswah sayyi’ah). Adapun teladan yang baik terdapat pada diri Rasulullah SAW. Seseorang yang menjadikan beliau sebagai teladan berarti ia menempuh jalan yang mengantarkannya kepada kemuliaan dari Allah. Itulah jalan yang lurus (shirathal mustaqim).
Tafsir Al-Baghawi menyebutkan, kata uswah merupakan bentuk kata yang berasal dari al-i’tisā’ (meneladani), sebagaimana qudwah berasal dari al-iqtidā’ (mengikuti). Kata tersebut merupakan isim yang digunakan untuk menunjukkan makna perbuatan. Maksudnya yaitu: pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik.
Makna firman Allah: “Bagi orang yang mengharap Allah”. Ibnu Abbas berkata, maksudnya yaitu orang yang mengharapkan pahala dari Allah. Sedangkan Muqatil berkata, maksudnya yaitu orang yang takut kepada Allah.
Adapun makna firman Allah: “Serta banyak mengingat Allah”, maksudnya yaitu orang yang senantiasa banyak mengingat Allah dalam seluruh keadaan, baik ketika memperoleh kesenangan maupun ketika mengalami kesusahan; baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan, ayat ini mengajarkan bahwa Rasulullah SAW merupakan teladan utama bagi seorang Muslim dalam seluruh aspek kehidupan. Ketika menghadapi kesulitan, seorang Mukmin hendaknya meneladani kesabaran, keteguhan, keberanian, perjuangan, tawakal, dan keyakinan Rasulullah SAW terhadap pertolongan Allah.
Keteladanan tersebut semakin kuat pada diri orang yang memiliki harapan kepada Allah, yakin terhadap kehidupan akhirat, dan senantiasa memperbanyak dzikir kepada-Nya.
Tafsir Al-Qurthubi menyebutkan, ayat ini merupakan teguran kepada orang-orang yang tidak ikut berperang. Maksudnya, pada diri Nabi SAW terdapat teladan bagi kalian, karena beliau telah mengorbankan dirinya demi menolong agama Allah ketika beliau keluar untuk menghadapi pasukan dalam Perang Khandaq.
Dengan demikian, Rasulullah SAW harus dijadikan teladan dalam seluruh perbuatan beliau dan dijadikan penguat hati dalam seluruh keadaan yang beliau alami. Rasulullah SAW pernah mengalami berbagai macam penderitaan. Wajah beliau pernah terluka, gigi seri beliau patah, paman beliau, Hamzah, terbunuh, dan perut beliau pernah merasakan lapar. Namun, beliau tidak menghadapi semua itu kecuali dengan kesabaran, mengharap pahala dari Allah, bersyukur, dan ridha terhadap ketetapan-Nya.
Tafsir Ath-Thabari menyebutkan, ayat ini merupakan teguran dari Allah kepada orang-orang beriman yang tidak ikut bersama Rasulullah SAW dan pasukannya di Madinah. Makna firman Allah “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian.” Maksudnya yaitu: Hendaknya kalian menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dan selalu bersama beliau di mana pun beliau berada, serta jangan meninggalkan beliau.
Tafsir ini menekankan bahwa Rasulullah SAW merupakan teladan nyata dalam menghadapi berbagai keadaan, khususnya ketika umat berada dalam kondisi takut, sulit, dan penuh ancaman. Keteladanan kepada beliau menuntut kesediaan untuk tetap teguh bersama kebenaran, tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri, serta memperbanyak dzikir kepada Allah dalam keadaan apa pun.
Nilai-nilai Pedagogis
QS Al-Ahzab ayat 21 mengandung sejumlah nilai Pendidikan bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, nilai keteladanan (uswah hasanah). Kata uswah hasanah menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya dilakukan melalui perkataan atau teori, tetapi juga melalui contoh nyata. Rasulullah SAW menjadi model pendidikan melalui akhlak, sikap, ucapan, dan perbuatannya. Seorang pendidik hendaknya menjadi teladan bagi peserta didik.
Guru dan orang tua harus memberikan keteladanan akhlak dalam setiap ucapan, sikap dan perilakunya agar dapat diteladani dan ditiru oleh peserta didik. Keteladanan tidak hanya diberikan sekali, tetapi dibangun melalui kebiasaan. Sehingga peserta didik istiqamah dalam menjalankan perbuatan baik dalam segala hal.
Kedua, pendidikan akhlak dan karakter. Rasulullah SAW merupakan teladan dalam kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, kasih sayang, keadilan, dan sikap sosial. Karena itu, pendidikan dalam perspektif ayat ini tidak hanya bertujuan menghasilkan peserta didik yang berilmu, tetapi juga memiliki akhlak yang baik.
Guru dan orang tua harus menanamkan akhlak mulia kepada peserta didik dari sejak dini agar peserta didik tumbuh dengan perangai yang baik. Pembentukan karakter merupakan proses yang berkelanjutan. Peserta didik perlu dibimbing untuk mengevaluasi perilakunya, apakah sudah sesuai dengan akhlak Rasulullah SAW atau masih perlu diperbaiki agar anak mengetahui kesalahan yang harus diperbaiki.
Ketiga, nilai dzikrullah dan spiritual. Frasa “liman kāna yarjullāha wal-yaumil ākhir” menunjukkan pentingnya orientasi kepada Allah dan kehidupan akhirat dengan mengingat hari akhir dan mengingat Allah dalam setiap keadaan, bahwa semuanya akan diperhitungkan. Pendidikan seharusnya membangun kesadaran bahwa ilmu dan perilaku manusia memiliki dimensi spiritual serta tanggung jawab di hadapan Allah.
Guru dan orang tua harus membimbing peserta didik untuk senantiasa meningkatkan ibadah, berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT sebagai hamba yang beriman dan mengimani hari akhir. Peserta didik yang tertanam dengan spiritual yang kuat akan menjadi anak yang taat, tenang, bertanggung jawab atas semua apa yang dilakukannya dan senantiasa bertobat.
Keempat, integrasi ilmu, iman, dan amal. Ayat ini memberikan gambaran bahwa pendidikan ideal tidak berhenti pada pengetahuan. Ilmu harus melahirkan iman dan diwujudkan dalam perilaku. Dengan demikian, pendidikan mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Guru dan orang tua harus menekankan pentingnya belajar dan mencari ilmu kepada peserta didik agar mereka memperoleh ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang mengantarkannya kepada keimanan dan perilaku yang mulia. Anak yang berilmu dan pandai menjaga keimanan akan tumbuh menjadi anak yang aktif dalam kebaikan dan pintar mengambil sikap dalam berbagai situasi dan keadaan yang dihadapi.
Landasan Teoretis
Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam berbagai situasi berarti menerapkan sifat utama seperti shiddiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas) serta akhlak mulia dalam suka dan duka.
Nabi Muhammad SAW merupakan teladan sempurna dalam segala aspek kehidupan, dan segala perbuatan, ucapan, serta perilakunya mengandung hikmah yang luar biasa. Allah SWT berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al-Qalam: 4)
Dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah disebutkan, ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki sifat-sifat yang paling baik dan paling mulia. Pada diri beliau terkumpul akhlak-akhlak terpuji dan sifat-sifat yang terbaik yang ada pada manusia. Adapun dalam Tafsir Al-Mukhtashar dijelaskan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW berada di atas akhlak yang agung yaitu berakhlak dengan nilai-nilai Al-Qur`ān secara sempurna. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR Al-Baihaqi)
Beliau merupakan panutan dalam setiap situasi dan keadaan. Beliau pemimpin yang sangat bijak, adil, penyayang, dermawan, pengasih, jujur, cerdas, amanah dan sangat memperhatikan kondisi umat-Nya agar umat sejahtera, aman, beriman, bertakwa dan berakhlak. Akhlak mulia baginda Nabi Muhammad SAW bukan hanya kepada umat Islam tetapi juga kepada non-Islam sampai kepada binatang dan tanaman pun beliau sangat sayang dan menjaga lingkungan agar tetap asri dan indah. Allah SWT berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS Al-Anbiya’: 107)
Keteladanan Rasulullah SAW
Lalu bagaimana keteladanan Rasulullah SAW dalam setiap situasi dan kondisi? Pertama, tidak pernah sombong. Rasulullah SAW bersabda:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَإِنَّمَا أَنَا عَبْد، فَقُولوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Rasulullah SAW bersabda, ‘Jangan goda aku (juga) karena orang-orang Nasrani menyanjung Isa bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka sebutlah (aku) hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR Bukhari).
Kedua, berlemah lembut. Allah SWT berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ…
“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu…” (QS Ali ‘Imran: 159)
Ketiga, berkasih sayang dan berbelas kasih kepada setiap makhluk Allah. Allah SWT berfirman:
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
“Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang Mukmin.” (QS At-Taubah: 128)
Keempat, toleransi. Allah SWT berfirman:
وَاِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ اَعْرَضُوْا عَنْهُ وَقَالُوْا لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۖ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْۖ لَا نَبْتَغِى الْجٰهِلِيْنَ
“Apabila mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu), kami tidak ingin (bergaul dengan) orang-orang bodoh’.” (QS Al-Qashash: 55)
Kelima, dermawan dan senang menolong orang lain. Rasulullah SAW bersabda:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ
“Nabi SAW merupakan orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemui beliau. Jibril menemuinya setiap malam pada bulan Ramadhan hingga selesai, lalu Nabi SAW membacakan Al-Qur’an kepadanya. Jika Jibril menemui beliau, maka beliau lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR Bukhari No. 6, 1902 dan Muslim No. 2308)
Keenam, sabar dalam menghadapi ujian dan rajin bersyukur. Allah SWT berfirman:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْۗ كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوْعَدُوْنَۙ لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنْ نَّهَارٍۗ…
“Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) sebagaimana ulul azmi (orang-orang yang memiliki keteguhan hati) dari kalangan para rasul telah bersabar dan janganlah meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari ketika melihat azab yang dijanjikan, seolah-olah mereka hanya tinggal (di dunia) sesaat saja pada siang hari…” (QS Al-Ahqaf: 35)
Cara Menerapkan Sikap Keteladanan Nabi Muhammad
Berikut ini cara menerapkan sikap keteladanan Nabi Muhammad SAW yang dapat kita tiru dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW.Allah SWT berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imran: 31)
Kedua, menjalankan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman:
.وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS Al-Hasyr: 7)
Ketiga, sabar dalam menghadapi ujian dan banyak bersyukur ketika mendapat kesenangan. Rasulullah SAW bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Semua urusannya baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang Mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun kebaikan baginya.” (HR Muslim)
Keempat, menyayangi dan mengasihi siapa pun yang membutuhkan. Rasulullah SAW bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak seorang pun di antara kalian benar-benar beriman sampai ia mengasihi saudaranya seperti ia mengasihi dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kelima, dermawan dan gemar menolong orang lain. Allah SWT berfirman:
…وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“…Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kisah Teladan
Sayyid Wajihuddin Abdurrahman ad-Diba’ dalam kitab maulidnya menggambarkan akhlak terpuji Rasulullah dengan ungkapan syair yang sangat indah. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW hatinya tidak pernah lengah dan tidak (pula) tidur, bahkan selalu berkhidmah dan mengingat Allah. Jika disakiti, beliau selalu memaafkan dan tidak membalas yang menyakiti. Jika diajak bertengkar, beliau selalu diam dan tidak menjawab.
Salah satu peristiwa bersejarah dikisahkan dalam kitab Tafsir Al-Munir saat beliau berdakwah di Thaif. Rasulullah yang sangat lembut hatinya mengajak penduduk Thaif untuk memeluk agama Islam. Dengan ajakan yang santun, tanpa paksaan, dan tanpa kekerasan, Nabi mengajak mereka untuk mengimani agama wahyu tersebut.
Namun tak disangka, respons penduduk justru sangat buruk. Mereka menolak mentah-mentah ajaran Nabi. Tidak hanya itu, mereka juga beramai-ramai mengusirnya dengan perlakuan yang tidak senonoh. Dari anak-anak, tua, muda, semuanya melempari Nabi dengan kerikil, bahkan sambil mencaci, “Muhammad pendusta!”
Merespons hal itu, Malaikat Jibril menawarkan kepada Nabi untuk membumihanguskan seluruh penduduk Thaif. Jika perlu, Jibril akan membalikkan gunung-gunung agar mereka semua binasa. Namun dengan bijak Nabi menolak sama sekali tawaran Jibril itu. Nabi memaafkan mereka semua bahkan mendoakan agar mendapat hidayah.
Saat itu Nabi SAW bersabda: “Sungguh Allah tidak mengutusku untuk menjadi orang yang merusak dan bukan (pula) orang yang melaknat. Akan tetapi Allah mengutusku untuk menjadi penyeru dan pembawa rahmat. Ya Allah, berilah hidayah untuk kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui!” (HR Al-Baihaqi)
Kisah ini menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Rasulullah dalam berinteraksi dengan kaumnya. Berkat sikap tersebut, Nabi sukses besar dalam mendakwahkan ajaran Islam, padahal dalam catatan sejarah disebutkan tidak sedikit orang yang menantang keras ajaran Nabi. Ini menjadi bukti bahwa kelembutan mampu menundukkan kekerasan sebesar apa pun. Bukan hanya itu, masih banyak lagi sikap dan perilaku Nabi SAW yang harus kita teladani.
اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, bimbinglah aku menuju akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat membimbing kepadanya kecuali Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan dariku kecuali Engkau.” (HR Muslim) []





















