Washington DC, Gontornews — Laporan berita AS mengatakan bahwa Israel adalah sumber intelijen yang Presiden Donald Trump ceritakan kepada orang-orang Rusia saat pertemuan di Gedung Putih pekan lalu.
Menurut laporan New York Times pada hari Selasa (16/5), Israel berbagi dengan badan intelijen Amerika Serikat mengenai rencana ISIS yang menargetkan meledakkan pesawat-pesawat tujuan AS dengan menggunakan komputer laptop.
Namun Penasihat Keamanan Nasional HR McMaster membantah bahwa Trump telah mengungkapkan sumber atau metode apa pun kepada orang-orang Rusia, dengan mengatakan bahwa laporan Washington Post yang pertama kali mengungkap kasus itu “salah”.
Trump kemudian menegaskan dia berbagi informasi dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Duta Besar Sergey Kislyak.
Beberapa organisasi media AS mengonfirmasi dengan sumber mereka sendiri laporan Times bahwa Israel adalah sumber informasi tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, Duta Besar Israel untuk AS Ron Dermer mengatakan bahwa Israel memiliki “kepercayaan penuh atas hubungan berbagi-intelijen dengan Amerika Serikat”.
Tapi dia tidak berkomentar secara khusus tentang kebenaran laporan Times.
Intelijen Israel dilaporkan menginformasikan kemampuan ISIS menyembunyikan bom canggih di dalam komputer laptop.
Informasi ini dikatakan telah menyebabkan pemerintah AS mengumumkan larangan tersebut pada bulan Maret lalu untuk maskapai penerbangan yang datang ke AS dari delapan negara berpenduduk mayoritas Muslim.
Larangan itu mempengaruhi sembilan perusahaan: Royal Jordanian Airlines, EgyptAir, Turkish Airlines, Saudi Airlines, Kuwait Airways, Royal Air Maroc, Qatar Airways, Emirates, dan Etihad Airways.
Semua maskapai penerbangan ini memiliki penerbangan langsung ke Amerika Serikat dan menciptakan persaingan yang kuat dengan perusahaan penerbangan Amerika, terutama selama musim panas yang sibuk.
Namun mantan perwira CIA John Kiriakou menyatakan ragu dengan kemampuan Israel untuk mendapatkan informasi sensitif tentang rencana ISIS ini.
“Jika Yordania atau intelijen Turki yang telah melakukannya, mungkin akan lebih masuk akal karena organisasi ini memiliki sejarah panjang dalam berurusan dengan kelompok seperti ISIS,” kata Kiriakou seperti dikutip Aljazeera, Selasa (16/5).
“Saya tidak akan terkejut jika ternyata Israel bertindak sendiri untuk mengganggu bisnis penerbangan Timur Tengah dengan melemparkan isu sendiri,” tandasnya. [Rusdiono Mukri]




















