Bangassou, Gontornews — Palang Merah hari Rabu (17/5) mengatakan telah menemukan 115 jenazah di kota perbatasan Bangassou, Republik Afrika Tengah (CAR) setelah beberapa hari milisi melakukan serangan. Jumlah ini meningkat lebih dari empat kali jumlah korban yang dilaporkan sebelumnya.
Antoine Mbao Bogo, presiden Palang Merah setempat, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa mereka yang tewas telah “meninggal dengan berbagai cara”, termasuk tusukan pisau, benda tumpul dan peluru.
“Kami menemukan 115 mayat dan 34 telah dikuburkan,” katanya dari ibukota, Bangui.
Seorang pejabat senior PBB sebelumnya telah melaporkan 26 kematian warga sipil.
Menurut badan pengungsi PBB, sekitar 2.750 pengungsi melarikan diri dari Bangassou melintasi perbatasan menuju Republik Demokratik Kongo (DRC) selama akhir pekan.
Kekerasan tersebut merupakan eskalasi baru dalam konflik yang dimulai pada tahun 2013 ketika sebagian besar pejuang Seleka Muslim merebut kekuasaan dan kemudian mencopot presiden Francois Bozize, yang memicu pembunuhan balasan dari milisi anti-Balaka Kristen.
Komisioner tinggi PBB untuk hak asasi manusia pada hari Selasa memperingatkan bahwa kekerasan di daerah yang sebelumnya terhindar dari pertumpahan darah itu “sangat mengkhawatirkan”.
“Kekerasan sektarian makin meningkat di desa-desa, dengan warga sipil yang tidak berdaya menjadi korban,” kata Zeid Ra’ad al-Hussein seperti dikutip Aljazeera.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa, Stephane Dujarric, jurubicara Sekretaris Jendral PBB Antonio Guterres, juga mengatakan bahwa 100 orang mungkin telah tewas dalam bentrokan tiga hari, 7- 9 Mei, antara milisi anti-Balaka dan kelompok eks-Seleka di Kota Alindao. [Rusdiono Mukri]























