Riyadh, Gontornews — Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi menandatangani kesepakatan senjata senilai hampir US$ 110 miliar pada hari Sabtu (20/5), hari pertama kunjungan Presiden Donald Trump ke sekutu tradisional AS.
Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan, perjanjian senjata tersebut akan membantu Arab Saudi menangani “pengaruh Iran yang tidak masuk akal”.
“Paket peralatan dan layanan pertahanan mendukung keamanan jangka panjang Arab Saudi dan seluruh wilayah Teluk,” kata Tillerson kepada wartawan di Riyadh, Sabtu.
“Ini terutama dalam menghadapi pengaruh Iran yang tidak semestinya dan ancaman terkait Iran yang ada di perbatasan Arab Saudi di semua sisi,” papar Tillerson.
Seperti ditulis Aljazeera, kesepakatan senjata itu akan dilihat oleh kedua negara sebagai “win-win solution”, terutama karena kesepakatan tersebut melibatkan senjata yang di masa pemerintahan Obama tidak siap untuk dijual ke Arab Saudi, termasuk sistem pertahanan rudal.
“Saya pikir inilah yang kedua belah pihak coba proyeksikan di sini: sebuah pertemuan yang sukses dan hubungan AS dengan Arab Saudi kembali ke jalur sebelum Presiden Obama,” tulis Aljazeera.
“Karena pastinya Gedung Putih mengatakan bahwa rasanya Presiden Obama ‘meninggalkan’ Arab Saudi dan wilayah ini, dan mereka ingin seluruh dunia tahu bahwa sekarang mereka mendapatkan segalanya ‘kembali ke jalur semula’.”
Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan dalam konferensi pers bersama dengan rekannya Rex Tillerson bahwa kedua negara telah menandatangani “deklarasi visi strategis bersama” dan memuji perundingan tersebut sebagai “hari yang benar-benar bersejarah dalam hubungan antara Kerajaan Arab Saudi dan Amerika Serikat, dan kami percaya ini awal dari sebuah titik balik dalam hubungan antara Amerika Serikat dengan dunia Arab dan Islam. ”
Perjanjian senjata adalah bagian dari serangkaian kesepakatan perdagangan yang lebih luas. Al-Jubeir mengatakan “nilai total investasi tersebut lebih dari US$ 380 miliar,” dan mengklaim bahwa kesepakatan tersebut akan menghasilkan ratusan ribu pekerjaan di AS dan Arab Saudi. [Rusdiono Mukri]

















