Washington, Gontornews β Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat internasional, The Environmental Justice Foundation (EJF) memprediksi akan terjadi ledakan pengungsi di seluruh dunia, setidaknya dalam 20 tahun mendatang. EJF berdalih perubahan iklim di seluruh dunia meningkatkan potensi krisis pengungsian di seluruh dunia menjadi lebih parah.
Sebagaimana dilansir The Guardian, seorang pensiunan militer Amerika Serikat berpangkat Brigadir Jenderal, Stephen Cheney, mengamini hal tersebut. Cheney menyebut keluhan Eropa yang dibanjiri pengungsi asal Suriah hanya periode awal dari krisis pengungsian di masa mendatang.
βJika Eropa berpikir mereka telah mengalami masalah pengungsian hari ini, tunggu 20 tahun mendatang,β kata Cheney.
βLihatlah apa yang akan terjadi ketika perubahan iklim terjadi kepada mereka yang tinggal di Afrika, terutama di Sahel (bagian dari gurun Sahara di Afrika). Dan sekarang kita membicarakan bukan hanya 1 atau 2 juta orang saja tapi 10-20 juta pengungsi. Mereka tidak akan pergi ke utara Afrika melainkan menyeberang ke Laut Mediterania,β tambahnya.
Sementara itu, mantan penasihat saintifik Pemerintah Inggris, Sir David King setuju dengan pernyataan Cheney. Menurutnya, secara jangka panjang, krisis pengungsian tersebut akan terjadi seiring dengan terganggunya eksistensi mereka pada suatu wilayah.
βApa yang kita bicarakan adalah tentang merawat eksistensi masyarakat kita untuk jangka waktu panjang. Secara jangka pendek, segala risiko tersebut memerlukan respon yang belum dilakukan manusia sebelumnya,β ujar Cheney.
Direktur Eksekutif EJF Steve Trent menambahkan, setidaknya ada sekitar 1,5 juta orang melakukan migrasi sepanjang 2006-2011. Para imigran tersebut tidak memiliki akses untuk makan, air maupun pekerjaan.
βPerubahan iklim menjadi persoalan yang tidak dapat diprediksi jika ditambah dengan ketegangan sosial, ekonomi, politik. Persoalan tersebut berpotensi memicu kekerasan dan konflik serta dampak dari konflik itu sendiri,β pungkas Trent. [Mohamad Deny Irawan]




















