Ketika umat Islam selalu berpegang teguh kepada agama Allah SWT dengan kitab dan sunnah Nabi, maka Allah SWT akan memuliakan umat Islam. Tidak hanya itu, Allah SWT akan menjaga dan memperkuat umat Islam dengan pasukan dari-Nya.
Sudah semestinya kaum Muslimin terus belajar menggali ilmu Islam yang bersumber dari Allah SWT dan Rasulullah, yaitu al-Qur’an dan hadis.
Perlu diketahui bahwa dalam ajaran Islam ada yang disebut dengan hadis qudsi. Berbeda dengan hadis-hadis pada umumnya, hadis qudsi memiliki keistimewaan karena perkataan yang terkandung di dalamnya dinisbahkan langsung kepada Allah SWT, Zat Yang Mahasuci.
Apa yang dimaksud dengan hadis qudsi tersebut? Secara bahasa, qudsi berarti suci. Secara Istilah, ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hadis qudsi.
Menurut al-Jurjani, “Hadis qudsi adalah hadis yang secara makna datang dari Allah SWT, sementara redaksinya dari Rasulullah SAW.”
Jadi, hadis qudsi adalah berita dari Allah SWT kepada Nabi melalui ilham atau mimpi, kemudian Rasulullah SAW menyampaikan dengan ungkapan beliau sendiri.
Karena itu, al-Qur’an lebih utama dibanding hadis qudsi, sebab Allah SWT juga menurunkan redaksinya.
Sementara itu, al-Munawi memberikan pengertian, “Hadis qudsi adalah berita yang Allah SWT sampaikan kepada Nabi secara makna dalam bentuk ilham atau mimpi. Kemudian Nabi Muhammad SAW menyampaikan berita makna itu dengan redaksi beliau.”
Pendapat mayoritas ulama di atas dapat disimpulkan bahwa hadis qudsi adalah hadis yang maknanya diriwayatkan Nabi SAW dari Allah SWT, sementara redaksinya dari Rasulullah SAW.
Terlepas dari perbedaan ulama tentang hadis qudsi, ada beberapa poin penting yang membedakan antara hadis qudsi dengan al-Qur’an, di antaranya:
Pertama, al-Qur’an diturunkan kepada Nabi SAW melalui malaikat Jibril sebagai wahyu. Hadis qudsi tidak harus melalui Jibril. Artinya, bisa melalui Jibril dan bisa tidak, misalnya dalam bentuk ilham atau mimpi.
Kedua, al-Qur’an sifatnya qath’i tsubut atau pasti keabsahannya. Semua diriwayatkan kaum Muslimin secara turun-temurun dan mutawatir. Karena itu, tidak ada istilah ayat al-Qur’an yang diragukan keabsahannya. Sedangkan hadis qudsi tidak ada jaminan keabsahannya. Karena itu, ada hadis qudsi yang shahih, dhaif, bahkan palsu.
Ketiga, al-Qur’an membacanya bernilai pahala setiap huruf. Orang yang membaca satu huruf al-Quran mendapat 10 pahala.
Hadis qudsi membacanya tidak bernilai pahala, kecuali jika diniati untuk mempelajari sehingga bernilai ibadah pada kegiatan mempelajarinya.
Keempat, teks dan makna al-Qur’an merupakan mukjizat sehingga tidak ada satu pun makhluk yang bisa menandinginya.
Teks dan makna hadis qudsi bukan mukjizat sehingga bisa saja seseorang membuat hadis qudsi palsu.
Dalam penyebutannya, beberapa ulama menyebut dengan istilah lain, seperti hadis Ilahi atau hadis Rabbani.
Bentuk hadis qudsi sendiri antara lain ialah hadis yang di akhir sanadnya disebutkan, “Rasulullah SAW bersabda, dari yang ia riwayatkan dari Rabb-nya ‘Azza Wa Jalla,” atau hadis yang di akhir sanadnya disebutkan, “Rasulullah SAW bersabda, Allah Ta’ala berfirman,” atau semisalnya.
Salah satu referensi yang bagus untuk mempelajari hadis-hadis qudsi beserta derajat hadisnya adalah kitab Jami’ al–Ahadits al–Qudsiyah karya Ishomu ad-Diin ash-Shibabutiy, cetakan Darul Hadis, Kairo, Mesir. [EDITHYA MIRANTI]




















