Berdasarkan laporan Pew Research Center, populasi Muslim dunia diperkirakan akan meningkat 73 persen pada tahun 2050. Salah satu negara yang menjadi tempat berkembangnya Muslim adalah Kuba.
Kuba yang secara resmi disebut Republik Kuba merupakan negara berdaulat dengan Pulau Kuba dan Isle of Youth, dan beberapa pulau-pulau kecil yang berdekatan. Kuba merupakan pulau terbesar di Karibia dan terpadat kedua dengan lebih dari 11 juta penduduk.
Ternyata, agama Islam secara diam-diam berkembang di Kuba. Muslim dapat beraktivitas dengan bebas di negara ini dan mencapai jumlah 9.000. Ini prestasi besar karena pada era 1990-an jumlah Muslim Kuba hanya 12 orang.
Meski hanya bagian kecil, umat Islam di sana cukup mempengaruhi kehidupan 11,3 juta warga yang dikenal dengan cerutunya itu.
“Islam telah menjadi penting dalam budaya Kuba sejak kedatangan Christopher Columbus ke pulau ini. Dia datang dengan budak Moor yang merupakan bagian dari budaya Spanyol. Tak lama setelah Fidel Castro mengambil alih Kuba pada tahun 1959, ia melembagakan pemerintah komunis, lengkap dengan larangan agama,” kata Marta Linares Gonzalez yang masuk Islam dan mengambil nama Islam Fatima.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, agama Islam dikabarkan akan terus mengakar. Laporan Pew Research Center memperkirakan, populasi Muslim dunia akan meningkat 73 persen pada tahun 2050. Salah satu negara yang menjadi tempat berkembang Muslim adalah Kuba.
Jorge Elias Gil Viant yang dikenal dengan nama Haji Isa, seorang Muslim dan seniman Kuba menjelaskan, kebanyakan Muslim di Kuba adalah keturunan imigran Muslim.
“Ini komunitas muda. Muslim dari luar negeri telah dan masih merupakan faktor penentu dalam perkembangan masyarakat Kuba,” ujar mantan pustakawan Uni Arab-Kuba.
Menurut pria asli Kuba yang berprofesi sebagai seniman itu, komunitas Muslim di Kuba sebagian besar adalah pelajar dan pekerja.
Pelajar Muslim biasanya berasal dari Afrika, Sahara Barat, Yaman, Palestina, dan negara Arab lainnya. Peran mereka cukup besar di era tahun 1990-an.
Beberapa waktu kemudian, banyak imigran dari Pakistan muncul. Menurut Isa, asimilasi kultur ini membuat komunitas Muslim di Kuba memiliki karakteristik yang berbeda di beberapa wilayah.
Seiring berjalannya waktu, lebih banyak penduduk Kuba yang berpindah agama menjadi Muslim.
Pedro Lazo Torres, yang dikenal sebagai Imam Yahya mengatakan, dulu ada sedikit umat Islam di Kuba. Mereka menunaikan shalat di dalam rumah. Ketika mulai tumbuh, shalat mereka tumpah ke jalan.
Torres yang menjabat sebagai Presiden Liga Islam Kuba mengatakan, jumlah Muslim Kuba terus meningkat. Kini, mayoritas warga Muslim Kuba merupakan mualaf dengan beragam alasan.
Namun, sembilan puluh sembilan persen dari Muslim Kuba bukan keturunan Arab. Ahmad Abuero misalnya. Pria berusia 48 tahun ini mengaku masuk Islam setelah membaca biografi Malcom X, seorang pejuang hak-hak sipil di Amerika Serikat.
Sejak tahun 2007, komunitas Muslim di Kuba resmi memiliki organisasi yang diakui negara, yaitu Liga Islámica de Cuba (Cuba’s Islamic League) atau Liga Islam Kuba.
Organisasi ini yang mewakili umat Islam Kuba untuk berbicara dengan pemerintah, dan tidak ada Islamofobia di Kuba.
Mendambakan Masjid
Shalat Jumat di negeri perjuangan Che Guevara memang masih asing. Meski ada sekitar 1.500 Muslim, bisa dibilang Kuba satu-satunya negara Amerika Latin yang tak memiliki masjid. Itulah yang membuat Muslim Havana kebingungan bila hari Jumat datang.
“Tak ada tempat untuk shalat Jumat,” ujar Pedro Lazo Torres, ketua Liga Islam Kuba.
Sebenarnya ada satu tempat peribadatan di Havana yang bisa digunakan untuk menggelar shalat Jumat, yaitu The Arab House. Tempat ini dimiliki imigran Arab yang sangat kaya. Dia tinggal di Kuba sejak 1940.
Selain sebagai tempat ibadah, The Arab House juga dilengkapi museum dan restoran. Sayangnya, tempat itu hanya boleh dikunjungi oleh orang Arab.
Orang Kuba, meski Muslim, tidak diperbolehkan beribadah di sana. Karena itu, setiap Jumat
Pedro Lazo Torres menyediakan apartemennya sebagai tempat shalat berjamaah bagi Muslim Havana.
Bahkan demi menggelar shalat Jumat, Pedro menyingkirkan furnitur dan membentangkan karpet di lantai dan balkon, meski aliran air sering mati. Akibatnya, para jamaah memakai air dari ember yang diisi dari shower karena darurat.
Kebudayaan boleh berbeda, tapi seseorang yang memeluk Islam harus menerima apa yang diperintahkan oleh Allah. Pedro mengatakan, sebenarnya banyak negara Muslim yang menawarkan bantuan dana untuk membangun masjid.
Namun, Pedro mengharapkan agar niat baik tersebut datang dari Pemerintah Kuba sendiri. Rencananya, sebuah masjid akan dibangun di Havana, ibukota Kuba. Tak hanya akan menjadi yang pertama di Kuba, masjid itu akan menjadi yang terbesar di Amerika Latin.
Sejak tahun 2015, pihak berwenang Kuba menyatakan bahwa sudah saatnya masjid dibangun setelah jumlah populasi warga Muslim terus tumbuh.
Gagasan untuk membangun masjid itu juga dipicu banyak warga Muslim yang menjadikan ruang gedung-gedung di pusat kota untuk shalat.
Salinan al-Qur’an dengan bahasa Arab dan bahasa Spanyol juga terus menyebar di Havana. Masjid pertama di Kuba rencananya akan dibangun di Old Havana.
Pemimpin Muslim paling berpengaruh Kuba, Pedro Lazo Torres atau dikenal sebagai Imam Yahya, menjadi imam Muslim pertama negara komunis yang dipimpin Raul Castro itu.
Kepada USA Today Torres mengatakan, ketika jumlah umat Muslim masih sedikit, pihaknya masih bisa menahan mereka untuk shalat berjamaah di rumah warga. Namun, ketika jumlahnya terus bertambah, para warga Muslim kerap shalat hingga ke ruas jalan.
Bisnis Muslim dan Celah Dakwah
Dalam tulisan The Muslims of Cuba yang dimuat Aljazeera (23/9/2017), Sylvia Hines yang berkali-kali mengunjungi Kuba menyatakan, rumah dan kafe milik keluarga Muslim sering menjadi pusat kegiatan komunitas Muslim.
Bahkan, dengan bisnis kecil yang mereka jalankan, celah dakwah untuk mengenalkan Islam kepada warga setempat jadi terbuka.
Di pinggiran Santa Clara, misalnya, Hassan Jan punya bisnis percetakan di ruangan depan rumahnya. Rumah yang dahulunya vila itu disekat menjadi beberapa ruangan, salah satunya ruangan shalat bagi Muslim. Usaha kecil yang dijalankan Hassan membuat warga Kuba punya akses lebih besar untuk berinteraksi dengan pemeluk Islam.
Contoh lainnya, Jorge Miguel Garcia atau Khaled, pemilik kafe yang cukup kesohor di kalangan komunitas Muslim dan non-Muslim di Santiago. Pria yang berpindah keyakinan dari Baptisme menjadi Muslim ini sempat bekerja di kedokteran forensik. Saat Pemerintah Kuba membuka kesempatan rakyat memulai usaha kecil, Khaled tak melewatkannya.
Ide awal bisnis Khaled sebenarnya impor suku cadang motor. Namun, bisnis jenis ini tak diizinkan di Kuba. Karena itu, Khaled mendirikan sebuah kafe olahraga bersama seorang temannya yang non-Muslim.
“Kami tidak menyajikan alkohol dan itu tidak masalah,” kata Khaled.
Kafe ini penting karena menjadi jalan bagi warga Kuba untuk mengenal Islam. Orang-orang yang datang akan bertanya tentang Islam, dan Khaled menyukai ketertarikan pengunjung kafenya. Banyak konsumen yang datang kembali ke sana karena mereka melihat makanan di sana sehat dan tiap orang dilayani dengan baik.
Khaled paham ada prinsip kedamaian, cinta, dan ketaatan kepada Allah SWT di dalam Islam. []





















