Srinagar, Gontornews – Pertempuran sengit di sebuah pangkalan militer di kota Jammu, Kashmir yang dikuasai India, memasuki hari kedua. Sedikitnya enam orang tewas, termasuk lima tentara, kata beberapa pejabat.
Angka resmi yang dikeluarkan pada hari Ahad menyebutkan, tiga penyerang telah tewas dan 11 orang telah terluka dalam serangan yang berlangsung di kamp tentara Sunjuwan.
Kepala Angkatan Darat India Bipin Rawat juga telah bergegas ke Jammu untuk memantau situasi itu.
Pejabat mengatakan, sejumlah penyerang yang tidak diketahui terdesakdi dalam kompleks perumahan di kamp tersebut.
Ratusan polisi, tentara dan paramiliter dikerahkan untuk mengusir pejuang, yang telah berhasil membarikade diri di dalam bangunan swalayan.
Instalasi tentara di kota Jammu terletak dekat dengan beberapa pusat perbelanjaan dan sekolah.
Seperti dikutip Aljazeera, seorang pejabat sipil mengatakan bahwa sekolah-sekolah di dekatnya telah ditutup sebagai tindakan pencegahan dan keamanan ditingkatkan di seluruh wilayah itu.
“Situasi terus menjadi tegang, serangan telah terjadi di kota utama, baku tembak masih berlangsung,” kata pejabat itu.
Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh mengatakan, dia memantau situasi dengan seksama.
Penyerang diduga berafiliasi dengan Jaish-e-Mohammad, sebuah kelompok yang berbasis di Pakistan yang telah meluncurkan serangan serupa dalam beberapa tahun terakhir terhadap instalasi tentara dan paramiliter di seluruh wilayah itu.
Jammu adalah kota utama di bagian selatan negara yang disengketakan, yang diklaim baik oleh India maupun Pakistan secara penuh sebagai wilayahnya.
Penembakan lintas batas yang melanggar kesepakatan gencatan senjata tahun 2003 telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir yang menyebabkan lebih dari selusin orang terbunuh di pihak India sejak awal tahun ini.
Kedua tetangga bersenjata nuklir itu berselisih sejak sebuah serangan di sebuah kamp tentara di Uri, Kashmir, menyebabkan 18 tentara India tewas pada 2016.
New Delhi secara teratur menuduh Islamabad membantu pejuang melintasi perbatasan untuk menyerang sasaran di India. Namun Pakistan membantah tuduhan itu.[Rusdiono Mukri]




















