Manchester, Gontornews – Seorang peneliti Muslim asal Ukraina bernama Mykhaylo Yakuboviych mengungkapkan bahwa pengobatan gigi dan mulut telah ditemukan sejak zaman keemasan Islam. Sejumlah ahli pengobatan Muslim yang fokus dalam pengobatan gigi dan mulut yang disebutkan oleh Yakuboviych yaitu Yuhana ibnu Masawayh (w 854), Hunayn ibnu Ishaq (w 873) dan Muhammad bin Mustafa al-Aqkirmani (w 1760).
Nama terakhir diketahui memiliki karya berjudul Risālah fi ḥukmi al-siwāk yang membahas tentang hubungan siwak dan ketentuan peribadatan (baca: Fiqh). Dalam tulisan yang dilansir laman Muslim Heritage, Yakuboviych meneliti tulisan al-Aqkirmani tentang siwak.
Al-Aqkirmani menjelaskan bahwa siwak merupakan metode pembersihan mulut dan gigi yang utama dan salah satu dari sunnah yang diwariskan oleh Rasulullah SAW.
Bagi al-Aqkirmani, siwak bisa dibuat dari pohon-pohon berasa pahit kecuali delima atau tebu. Umumnya, siwak terbuat dari pohon Salvadora perisca atau yang kemudian dikenal dengan pohon siwak. Pohon ini diketahui mengandung trimetilamina, sejenis alkaloid efektif yang terdiri dari salvadorine, klorida, belerang, terpene, vitamin C, gilkosida, fluroide dan silica.
“Siwak dibuat dari beberapa pohon pahit yang bermanfaat sebagai penghilang bau mulut alami kecuali pohon delima atau pohon tebu,” kata Yakuboviych menyadur keterangan al-Aqkirmani dalam karyanya Risālah fi al ḥukm al siwāk.
Salah seorang ulama madzhab Hanafi, Ibnu Abidin (w 1784) menjelaskan bahwa pohon delima dan tebu merupakan jenis pohon yang berbahaya bagi mulut.
Secara spiritual, al-Aqkirmani menjelaskan bahwa siwak dapat mencegah setan mendekat dan mengundang malaikat. Tidak hanya itu, siwak juga dapat membuat tubuh dan penglihatan semakin kuat.
Siwak memiliki pengaruh terhadap perkembangan otak. Siwak dapat menstimulus otak penggunanya untuk mengucapkan kalimat Lā ilāha illallāh jelang kematian. Berbeda dengan opium (heroin), ganja, Hyoscyamus (tumbuhan beracun), hashish (saripati ganja) yang mengalihkan orang dari mengingat Allah SWT.
Yakuboviych mengakui bahwa Muhammad al-Aqkirmani merupakan ulama yang mampu menjelaskan tradisi pengobatan Islam secara lebih rasional dan pragmatis.
“Dapat dikatakan bahwa Muhammad al-Aqkirmani merupakan salah satu cendekiawan Muslim di periode Post-classical Period dalam sejarah intelektual Islam. Ia membahas siwak dalam dua prespektif: hukum dan medis.”
“Meski, ia bukan orang pertama yang membahas tentang siwak, namun kontribusi singkatnya sangat signifikan. Muhammad al-Aqkirmani dapat dilihat sebagai Ottoman Sunnah Revivalist (pengikut setia gerakan puritan Kadizadeli) sekaligus pengevaluasi tradisi ilmu kedokteran Islam secara rasional dan pragmatis,” pungkas peraih gelar doktor dari University of Ostroh Academy, Ukraina itu. [Mohamad Deny Irawan]























