Sebuah Berita duka di Rabu (28/2) Pukul 09.45 WIB itu bak geledek besar bagi seluruh alumni Pondok Modern Darussalam Gontor. Bagaimana tidak, salah seorang kader terbaik milik Pondok Modern Darussalam Gontor, Dr Dihyatun Masqon, meninggal dunia di RSPAD Jakarta.
Perangainya yang santun kepada siapapun, murah senyum, sering melontarkan pujian kepada setiap muridnya meski muridnya salah, bahkan hingga marah sekalipun, tak pernah kami melihat beliau mengeluarkan kata-kata kotor atau kata-kata kasar.
“Anak-anaku itu anak-anak Macan,” kata Ustadz Dihyah, sapaan akrabnya, saat menyampaikan tausiyah, nasehat, hingga pesan beliau di depan para mahasiswa/i Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.
Para ‘penghuni’ UNIDA Gontor pasti punya penilaian khusus terhadap menantu KH Imam Subakir Ahmad tersebut. Cara beliau berjalan, cara berbicara, selalu menjadi inspirasi para mahasiswanya.
Salah satu kemampuan paling menonjol yang beliau miliki adalah kemampuan untuk bertutur kata dengan bahasa asing seperti Bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Urdu.
Sedetik pertemuan dengan beliau jadi pertemuan yang sangat berharga. Suatu ketika, penulis tengah melakukan tugas peliputan di PM Tazakka, Batang Pekalongan. Ustadz Dihyah hadir dalam kapasitasnya sebagai salah seorang pembicara pada Forum Pesantren Alumni Gontor di Pesantren pimpinan Kiai Anang Rikza tersebut.
Memasuki masa istirahat dan waktu makan siang, ustadz Dihyah tidak segan untuk menawarkan saya tempat duduk untuk menyantap makan siang. Beliau tidak malu, bahkan perbincangan singkat pun terjadi.
Tidak hanya itu, Ustadz Dihyah, selalu membanggakan murid-muridnya untuk selalu menjadi lebih baik. Beliau selalu bilang ke para mahasiswa UNIDA setiap selesai melakukan kunjungan. Beliau selalu bilang, “Kamu bisa lebih hebat dari mereka. Tugas kalian adalah terus berusaha dan jangan takut untuk selalu menjadi lebih baik,”
“Ustadz Amal, ini alumni kita. Sekarang sedang S2,” ujar Ustadz Dihyah kepada Rektor UNIDA Gotnor, Prof Amal Fathullah Zarkasyi kala hadir menjadi saksi sejarah dikeluarkannya izin operasi UNIDA Gontor oleh Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Wafatnya beliau bukan untuk disesali apalagi diratapi. Beliau selalu menjadi inspirasi setiap santri dengan ketenangan dan kerendahan diri. Semoga Allah swt menempatkan beliau di tempat yang terbaik. Semoga Ustadz Dihyah bisa bertemu dengan Trimurti Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Ahmad Sahal, KH Imam Zarkasyi, KH Zaenuddin Fannani dan mertuanya, KH Imam Subakir Ahmad.
Jakarta, 28 Februari 2018
Mohamad Deny Irawan



















