Waladatka Yabna Ādama Bākiyan Wannāsu ḥawlaka Yadḥakῡna Surῡran…
Waḥriṣ ‘alā ‘Amalin Takῡnu Bihi Idzān, Yabkῡna ḥawlaka ḍāḥikān Masrῡran…
Di Pondok modern Darussalam Gontor, pepatah arab ini diajarkan bagi siswa kelas 3 KMI. Bagi para santri, menghafal bait itu akan lebih mudah dilaksanakan ketimbang untuk mengamalkan. Tapi tidak bagi mereka para santri yang sudah menjadi alumni, bait yang merupakan konon merupakan perkataan Ali bin Abi Ṭālib memiliki makna yang sangat dalam.
Refleksi kepergian seorang guru murah senyum bernama Dr Dihyatun Masqon mungkin jadi satu drama penting, pelajaran dalam memahami mahfudzot tersebut bagi alumni Gontor. Manusia tidak pernah diberitahu kapan mereka lahir, siapa jodoh mereka, apa rezeki mereka, kapan dan dalam keadaan apa mereka meninggal dunia. Tak heran jika para guru menganjurkan kita untuk berdoa, “Allahummakhtim ḥayātana bi qawli lā ilāha illallāh” untuk setidaknya berikhtiyar kepada Allah agar kita mati dalam keadaan yang baik dan ḥusnul khātimah.
Dr Dihyatun belum mati jika merujuk pada pada surat Al-Baqarah ayat 153. Ustadz Dihyah masih jadi inspirasi bagi mereka yang hidup. Ustadz Dihyah masih memiliki semangat yang perlu diwariskan kepada mereka yang mengenal lulusan Jami’ah Milia Islamic University, New Delhi India tersebut. Itulah mengapa Ustadz Dihyah akan ‘tetap hidup’ di hati setiap orang yang pernah ditemuinya.
Perangainya yang murah senyum kepada siapa saja, membuktikan jika senyum merupakan obat mujarab bagi setiap permasalahan. Pernah sutu ketika, Ustad Dihyah mengajar kami di bangku perguruan tinggi Insitut Studi Islam Darussalam (ISID/sekarang UNIDA Gontor). Perlu diketahui, beliau selalu menggunakan papan tulis sebagai wasāilul īḍah atau alat bantu pengajaran.
“Maaf, kalau tulisan saya tidak baik. Anta, bagaimana tulisan saya?” tanya Ustadz Dihyah menunjuk kepada saya yang kala itu duduk di posisi tengah kelas.
“Maqru (terbaca), ustadz,” jawabku kala itu. Ustadz Dihyah lantas menjawab balik, “Jawaban anda sungguh diplomatis. Semoga anda bisa jadi diplomat di masa mendatang.”
Perangai senyum Ustadz Dihyah masih membekas di benak santri dan orang-orang yang pernah bertemu dengannya. Kalimat “Dihyah ma’akum,” jadi kalimat khas yang selalu terlontar saat beliau menerima sebuah tugas atau menerima tamu di rumahnya.
Kini, semangat dari kalimat “Dihyah ma’akum” harus terus menggema dengan melakukan apa yang menjadi kemampuan anda. Anda tidak perlu jadi orang lain agar anda sukses, karena anda selalu sukses dengan kemampuan yang anda miliki.
Ustadz Dihyah akan selalu tersenyum meski anda tidak bisa menemuinya secara fisik. Tersenyum karena santri-santri selalu mendoakan dan berusaha untuk menjadi lebih baik dari Dr Dihyatun Masqon. Kelak anda akan seperti para ulama yang kepergiannya ditangisi banyak orang sedang ‘anda’ tertawa bahagia di akhirat.
Allāhummaghfirlahu warḥamhu wa’āfihi wa’fu ‘anhu. Allāhumma lā taḥrimnā ajrahu wa lā taftinna ba’dahu waghfirlanā wa lahu…
Jakarta, 2 Maret 2018/14 Jumadil Akhir 1439 H
Mohamad Deny Irawan






















