Indonesia dengan penduduk mayoritas Muslim harus menjadi rahmatan lil alamien. Keberadaan umat Islam yang jumlahnya jutaan umat ini sejatinya potensi yang sangat besar untuk bisa diberdayakan dalam segala bidang. Baik itu dalam pemberdayaan ekonomi, politik, sosial maupun budaya.
Namun sayang, pascakemerdekaan Indonesia, umat Islam kerap mengalami perpecahan di dunia politik. Di bidang ekonomi pun umat Islam juga mengalami nasib yang sama. Ironisnya, perpecahan politik dan ekonomi yang kurang baik itu hingga sekarang tetap berlangsung.
Mayoritas penduduk bangsa ini ternyata masih belum mengangkat harkat dan martabat umat Islam di bidang politik dan ekonomi. Ekonomi dikuasai oleh kapitalis yang notabenenya bukan dari kalangan Muslim. Umat Islam masih ‘bermain’ di pinggir dan masih asyik menjadi konsumen.
Menyikapi fenomena tersebut, repoter Majalah Gontor Fathurroji di Jakarta dan kontributor Majalah Gontor di Cirebon, Ilham Anugerah, melakukan wawancara secara terpisah dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr KH TGH Muhammad Zainul Majdi MA yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) saat ia berada di Cirebon, Jawa Barat. Berikut petikannya:
Bagaimana Anda melihat Islam dan nasionalisme?
Islam dan nasionalisme itu sifatnya menyatukan bukan untuk saling membenturkan antara nilai yang dianut oleh Islam dengan nilai yang dikokohkan dalam konsep nasionalisme. Teori benturan yang selama ini cenderung melahirkan disharmoni, kekacauan, dan konflik-konflik merupakan nilai-nilai yang tidak dianut dalam Islam. Islam tidak mengenal benturan-benturan itu. Yang dikenal adalah keharmonisan, ketenteraman dan kedamaian, Islam dan nasionalime itu satu dan saling menguatkan, karena sama-sama menganut nilai kebaikan.
Bagaimana nasionalisme dalam Islam?
Nasionalisme yang didorong oleh Islam adalah cinta Tanah Air (hubbul wathan) dan merdeka dari segala macam bentuk penjajahan. Nasionalisme yang dilarang dalam Islam adalah menyombongkan diri, menganggap bangsa sendiri lebih tinggi dan hebat dibanding bangsa lain. Atau menganggap rendah bangsa lain, yang pada akhirnya akan melahirkan benturan dan ketidakharmonisan. Jadi nasionalisme itu sebagai bentuk mewujudkan keadilan. Jadi tidak ada pertentangan antara nasionalisme dan keislaman. Masing-masing ada maqomnya. Cuma memang, ketika sudah menjadi pengusung dan kelompok-kelompok, ada yang mengusung kelompok nasionalis, ada yang mengusung kelompok islamis. Jika hal itu terjadi, bisa saja terjadi benturan di antara keduanya. Namun, dalam situasi apapun kita harus kembali ke makna sebenarnya. Maka antara keislaman dan kebangsaan tidak ada pertentangan. Islam dan keindonesiaan tidak boleh dipertentangkan dalam tataran konsep, agenda kebangsaan adalah agenda keumatan, agenda keindonesiaan adalah agenda keislaman.
Seperti apa agenda kebangsaan itu?
Agenda kebangsaan atau keindonesiaan, seperti memerangi penyalahgunaan narkoba, memerangi kejahatan korupsi, membangun manusia Indonesia yang berkualitas. Itu semua merupakan agenda yang harus menjadi bagian agenda umat Islam. Umat Islam tidak boleh diam ketika berhadapan dengan agenda-agenda kebangsaan.
Seperti apa negara dan bangsa yang ideal?
Menurut saya yang paling aman ketika kita berbicara negara dan bangsa, kita harus kembali ke kitab al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Kalau kita berbicara tentang Islam, pandangan dunia yang ditawarkan oleh al-Qur’an adalah pandangan dunia yang komprehensif. Semua potensi kebangsaaan diakui oleh Islam. Bahwa world view dari Islam bukan konflik benturan, tapi keharmonisan dan hidup bersama dalam perdamaian dan ketenteraman. Jika kita baca pandangan dan konsep yang ditawarkan dalam al-Qur’an kita segera menemukan bahwa Islam datang untuk menyerap yang baik-baik.
Bagaimana dengan agenda umat?
Salah satu yang perlu kita tentukan sikapnya adalah ketika kita berbicara tentang agenda umat. Saya menangkap kesan ketika kita berbicara tentang agenda umat, itu seperti beda dengan agenda kebangsaan. Harusnya, ketika kita berbicara tentang membela agama, harusnya di saat yang sama bahwa membela agama itu adalah membela bangsa. Hal ini karena ranah kita bukan ruang hampa. Jangan sampai ada Islam tidak ada umat, ada umat tidak ada Islam. Ketika ada agenda-agenda keislaman, kita malah mengisolasi diri.
Apa itu agenda kemandirian ekonomi?
Salah satu agenda umat terpenting adalah membangun kemandirian ekonomi. Jadi, membangun kemandirian ekonomi bangsa adalah salah satu agenda penting umat. Kalau kita membicarakan agenda umat berarti juga mengenai agenda bangsa. Jadi agenda keumatan adalah agenda bangsa. Agenda umat Islam adalah agenda pembangungan nasional. Bagaimana caranya, mungkin kita perlu melihat masalah mendasar. Misal kita melihat pemilikan lahan salah satu faktor paling penting di dalam meningkatkan ekonomi masyarakat yang ada di desa. Jadi ketika Presiden Jokowi mempunyai keinginan dan kebijakan untuk membagikan lahan kepada umat, itu benar. Dengan itu maka ekonomi rumah tangga masing-masing meningkat.
Selanjutnya apa?
Berikutnya akses pada lembaga keuangan harus dibuka seluas-luasnya. Kita masih melihat di desa-desa, masih ada interaksi keuangan dengan rentenir, bukan dengan bank. Interaksi dengan rentenir itu adalah pembangkrutan dan pemiskinan masyarakat. Seringkali kebijakan ekonomi kita menimbulkan dampak tidak hanya perorangan. Contoh izin retail moderen sampai ke desa-desa. Di tempat pelaku usaha rakyat. Begitu retail masuk, ekonomi tetap tumbuh tetapi tidak masuk ke pelaku usaha rakyat. Jadi ada pertumbuhan ekonomi dan mungkin saja meningkat, tapi uang tersedot ke pelaku ekonomi besar.
Apa dampaknya bila ini terus terjadi?
Biasanya para pedagang itu melakukan aksi sosial, tapi karena menurunnya omzet, mereka menjadi jarang untuk membantu. Masyarakat lokal di sana sudah tidak dapat beraktivitas, ruang kosong itu kemudian dimasuki oleh makhluk-makhluk baru yang merusak umat Islam. Menyalahkan ajaran yang ada, bahkan mengkafirkan. Liberalisasi jika tidak cermat dapat merusak ketahanan ekonomi bangsa. Maka dulu Prof Mubyarto mengatakan ekonomi Pancasila. Sehingga pertimbangan kebijakan harus mempertimbangkan sosiologis, mempertimbangkan sentiment-sentimen umat, yang paling utama menurut saya adalah agama. Islam itu perekat paling kuat.
Bagaimana cara agar umat Islam sukses?
Salah satu faktor seseorang atau umat Islam meraih puncak kesuksesan ditentukan oleh seberapa besar perjuangan itu dilakukan. Perjuangan itu tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kebersamaan dan persaudaraan. Sosok Nabi Musa yang tidak hanya secara fisik memiliki kekuatan luar biasa, juga memiliki kelebihan ilmu dibanding kaumnya waktu itu, tetap membutuhkan bantuan dan pertolongan Allah. Bahkan saat itu, Nabi Musa sempat terpeleset mengungkap bahwa dirinyalah yang paling beriman dan berilmu saat ditanya oleh muridnya. Sehingga saat itu Nabi Musa ditegur oleh Allah SWT sebagaimana disebut dalam al-Qur’an. Nabi Musa lalu berdoa kepada Allah agar dimudahkan segala urusan dan dilancarkan lisannya ketika menyampaikan sesuatu pada kaumnya. Doa Nabi Musa ini menggambarkan bagaimana pentingnya kolektivitas dan kebersamaan untuk meraih kesuksesan. Mari kita mengokohkan persaudaraan, tidak hanya karena faktor keimanan atau latar belakang kesukuan. Namun juga karena dilandasi faktor kemanusiaan secara universal.
Bagaimana Anda melihat potensi umat Islam di Indonesia?
Potensi umat Islam itu bagian besar dari bangsa. One man one vote yang penting kompak. Kata kuncinya adalah kekompakan.
Mengapa potensi umat Islam belum maksimal dalam dunia perpolitikan saat ini?
Saya kira bukan belum maksimal, seperti yang saya katakan tadi perlu ada kekompakan umat Islam.
Umat Islam cenderung menjadi penonton dalam segala bidang, ekonomi, politik dan lain–lain. Bagaimana menurut Anda?
Saya kira tidak. Umat Islam itu terus berikhtiar dan bekerja. Tugas kita adalah memperbesar usaha itu. Jalannya menurut saya, seperti yang diajarkan oleh guru-guru kita di pesantren adalah belajar. Belajar mempelajari segala sesuatu yang kita perlukan agar tidak menjadi penonton. Saya kira anak-anak muda sedang giat-giatnya mempelajari untuk mengakses semua sumber peradaban. []


















