Ghouta, Gontornews — Setidaknya 6.750 orang telah dievakuasi dari kota-kota di Ghouta Timur Suriah. Ini menandai evakuasi terbesar dari daerah konflik itu. Demikian menurut media pemerintah sebagaimana dikutip Aljazeera.
Sebanyak 100 bus berkonvoi, berangkat pada Selasa pagi dari Irbin menuju Provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak di bagian utara, kantor berita Sana melaporkan.
Dalam evakuasi sebelumnya sekitar 6.000 orang telah meninggalkan Kota Harasta, yang dikuasai oleh kelompok pemberontak Ahrar al-Sham, serta Irbin, Zamalka, Jobar dan distrik Ain Tarma, yang dikuasai oleh kelompok pemberontak Faylaq ar-Rahman.
Pekan lalu, kelompok pemberontak mencapai kesepakatan evakuasi dengan Rusia, sekutu utama Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perang tujuh tahun itu.
Kelompok pemberontak ketiga di Douma Ghouta Timur, kota terbesar di wilayah itu, yang dihuni sekitar 140.000 orang, telah menolak menyerah dan masih terlibat dalam perundingan.
Menurut para aktivis, kesepakatan antara kelompok pemberontak Jaish al-Islam dan Rusia kemungkinan besar akan diumumkan pada akhir pekan ini.
Ghouta Timur telah berada di bawah kendali pemberontak sejak pertengahan 2013. Tahun itu, pemerintah Assad memberlakukan pengepungan ketat di pinggiran Damaskus, yang dihuni sekitar 400.000 orang.
Selama enam minggu sejak 18 Februari, pasukan pemerintah Suriah, yang didukung oleh jet tempur Rusia, memperketat pengepungan mereka di kota itu dengan pemboman dan penembakan yang menewaskan sekitar 1.500 orang dan melukai lebih dari 5.000 orang lainnya.
Aktivis berbasis di Douma, Laith al-Abdullah, mengatakan kepada Aljazeera, Faylaq ar-Rahman berusaha untuk mengevakuasi anggota keluarga besar mereka yang saat ini terjebak di Douma – meskipun negosiasi sedang berlangsung.
“Negosiasi sedang berlangsung dan kami berharap dalam tiga hari ini kesepakatan itu tercapai,” katanya.
Dewan lokal Douma pada hari Selasa menggambarkan proses negosiasi berlangsung alot.
“Kami tidak mengharapkan hasil yang cepat. Kita semua harus bersabar,” kata dewan itu dalam sebuah pernyataan.
Putaran pertama perundingan antara pemberontak berbasis di Douma dan Rusia termasuk pembicaraan tentang penambahan tempat perlindungan bagi warga sipil terlantar.
Pembicaraan juga termasuk perpanjangan gencatan senjata yang berlangsung selama periode negosiasi, dan untuk memungkinkan truk bantuan masuk.
Pembicaraan putaran kedua akan dimulai pada hari Rabu besok.
Penduduk di Douma sangat membutuhkan makanan dan obat-obatan, terutama sejak serangan terakhir dimulai, yang telah memperparah krisis kemanusiaan di Ghouta Timur.
Meskipun beberapa bantuan telah diijinkan sebelumnya, konvoi bantuan 46 truk hanya mencakup persediaan untuk 27.000 orang. Konvoi lain belum dapat masuk karena serangan pengeboman oleh pemerintah yang telah berlangsung selama lebih dari sebulan. [Rusdiono Mukri]

















