Setiap anak memiliki fase perkembangannya masing-masing. Ada kalanya anak bertingkah sangat menggemaskan dan ada kala pula anak bertingkah kurang menyenangkan, seperti marah, kesal bahkan melawan orang tua.
Ketika anak melakukan hal yang kurang menyenangkan, tentunya ada sebab mengapa anak bertingkah demikian. Oleh karena itu orang tua harus mengenal sebab-sebab anak melawan orang tua.
Psikolog Aurora Lumban Toruan mengatakan, ketika anak bertingkah melawan lantaran pemikiran anak yang lebih kritis. Namun bisa juga dari pola asuh yang kurang konsisten dari orang tua.
Misalnya saja tentang suatu hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan atau juga merasakan ketidakadilan dari perlakuan orang tua terhadap dirinya dengan saudaranya.
“Dan bisa juga karena tidak diterapkannya pola aktivitas yang rutin,” terang Aurora, HaiBunda.
Terlebih pada anak yang sudah berusia pra remaja, banyak orang tua yang mengeluh anaknya, lantaran lebih sering melawan. Hal itu disebabkan karena anak-anak pada masa tersebut terdorong untuk menjadi dirinya sendiri.
“Mereka juga ingin dihargai mengenai hal yang ia sukai atau apa yang menjadi minatnya. Mereka ingin mengambil keputusan sendiri,” tambahnya.
Selain itu, Anak pra remaja secara emosional sedang terjadi perubahan yang juga cukup intense, sehingga seperti roller coaster. Jadi, orang tua tidak perlu kaget ketika anak sedang bertingkah laku baik namun tiba-tiba marah, hal itu karena perubahan-perubahan emosi yang dialami belum sepenuhnya bisa dipahami oleh anak.
Untuk itu, bagaimana orang tua menyikapi perilaku anak yang melawan. Pertama, jadilah orang tua yang pendengar aktif saat anak sedang melawan atau meledak-ledak.
“Jadi kalau kita sedang menggunakan laptop, kita tutup dulu dan kita dengarkan anak,” sarannya.
Namun, apabila orang tua sedang melakukan sesuatu yang mungkin tidak bisa ditinggal, orang tua bisa meminta anak untuk menunggu beberapa waktu untuk mendiskusikan masalah anak tersebut.
“Tunjukkan respek pada apa yang ingin anak sampaikan, meskipun berbeda dengan yang ada di pikiran kita,” lanjutnya.
Setelah anak selesai menyampaikan keinginan atau masalahnya,orang tua juga perlu terbuka menyampaikan perasaan dan pikirannya. Tentunya dengan kata dan intonasi setenang mungkin, jangan sampai menyampaikan dengan nada yang argumentatif.
Selanjutnya, orang tua juga perlu menyampaikan hal-hal yang konstruktif, yaitu menyampaikan perasaan senang ketika anak sedang berhasil mengelola emosinya. Misalnya dengan tetap tenang, atau tidak berkata-kata kasar, saat mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan.
Yang lebih penting lagi kata Aurora, sebagai orang tua perlu menjadi role model ketika menghadapi perbedaan pendapat atau ketika mengalami hal yang tidak menyenangkan. Jadi perlu juga bagi orang tua mengevaluasi kemungkinan telah terjadi ketidak-konsistenan atas aturan yang telah ditetapkan.
“Misalnya suatu saat melarang dengan keras akan akan suatu hal, tapi di saat lain karena sibuk dan sebagainya orang tua bersikap permisif, atau mengizinkan tanpa banyak komentar atau aturan,” kata Aurora. [Devi Lusianawati]
Sumber foto : thinkstock





















