Dalam sejarah umat manusia, hubungan antara agama dan budaya didapati sebagai dua hal yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Banyak diyakini, agama adalah fitrah manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai masyarakat. Sejarah sosial manusia menunjukkan, setiap individu memiliki kecenderungan agama yang merupakan bagian dari tabiatnya. Fenomena ini mendorong ilmu sosiologi untuk mendefinisikan manusia sebagai “makhluk beragama.”
Dalam hal ini, seorang pakar peradaban yang kesohor, Malik bin Nabi, berpandangan bahwa setiap kali seseorang menyusup jauh ke jantung sejarah manusia, baik pada zaman kejayaan kebudayaannya, maupun pada tingkat yang masih primitif dari evolusi sosialnya, ia akan mendapati peninggalan di dalamnya yang menunjuk kepada adanya ide mengenai keberagamaan.
Ilmu arkeologi mendapati bahwa dari celah-celah puing yang diungkapkannya ditemukan jejak-jejak peninggalan yang khas, yang oleh manusia purba digunakan untuk keperluan upacara keagamaan.
Bagaimanapun bentuk upacara-upacara keagamaan itu, ternyata bahwa struktur bangunan, dari gua-gua tempat peribadatan pada zaman batu hingga zaman bangunan tempat-tempat ibadah yang megah, berjalan berdampingan dengan ide keagamaan.
Ungkapan lebih tegas disampaikan oleh filosuf Prancis terkenal, Henri Bergson, dalam karyanya The Two Sources of Morality and Religion (1978:92), yang menyatakan, “Kita jumpai pada masa lalu dan sekarang masyarakat tanpa sains, tanpa seni, dan tanpa filsafat. Tetapi kita tidak pernah menjumpai sebuah masyarakat tanpa agama.”
Lebih jauh, Malik bin Nabi menjelaskan, agama adalah katalisator (murakkib) peradaban; agama merupakan kekuatan independen yang mendasari eksistensi masyarakat dan menentukan budaya dan peradaban manusia.
Untuk memperkuat gagasannya ini, Malik bin Nabi menunjukkan beberapa contoh dalam sejarah umat manusia, antara lain: 1) Permulaan adanya Bait al-Maqdis atau Ka’bah adalah tanda adanya pemikiran agama pada masa lampau yang kemudian menciptakan undang-undang, pola hidup, kebudayaan, dan peradaban masyarakat di sekitarnya; 2) Di Barat, sejarah menunjukkan bahwa peradaban Barat tidak muncul lama kecuali setelah masuknya pemikiran agama Kristen pada orang-orang badui berketurunan Jerman di Eropa Utara; dan 3) Dalam sejarah Islam terbukti bahwa masyarakat Arab sebelum turunnya al-Qur’an adalah masyarakat badui yang hidup di padang pasir yang tandus, setelah al-Qur’an turun, lahirlah dari masyarakat badui ini sebuah peradaban yang agung dan mulia.
Wahyu yang merupakan inti agama Islam itulah yang dapat melahirkan revolusi masyarakat Arab Badui menjadi masyarakat elit dan berbudaya. (Bersambung)




















