Jakarta, Gontornews –Setelah tidak lagi menjadi Direktur Utama di BNI Syariah, beberapa amanah baru kini diemban Dr Imam Teguh Saptono. Pria yang pernah menjadi peserta Aksi Bela Islam 212 ini telah diakhiri masa tugasnya sebagai Direktur Utama BNI Syariah setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) pada tahun lalu. Padahal dari segi bisnis, BNI Syariah yang dipimpinnya saat itu sedang mencatat kinerja yang baik.
Ya. Eks Direktur BNI Syariah itu kini diberi amanah baru sebagai President Direktur Global Wakaf Corporation. Di ACT ini Imam ingin mewujudkan kembalinya kejayaan wakaf sebagai pilar ekonomi umat dengan mendorong wakaf produktif melalui wakaf saham perusahaan dan wakaf uang. Di mana uang wakaf yang terkumpul nantinya diinvestasikan kembali pada perusahaan-perusahaan yang sudah berwakaf. “Impiannya karena Indonesia adalah pasar yang besar. Nanti 10-15 tahun yang akan datang, top 10 company di Indonesia adalah milik umat,”ujarnya kepada Gontornews.
Selain di Global Wakaf Corporation, Imam juga diberi amanah baru di Koperasi Syari’ah 212. Dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Syariah 212, pada Sabtu, 24 Maret 2018 di Andalusia Islamic Center, Sentul City, Bogor, dipilih dan dilantik pengurus baru Koperasi Syariah 212 untuk menggantikan pengurus yang sudah berhenti. Salah satunya adalah Dr Imam Teguh Saptono, bekas Dirut BNI Syariah periode 2016-2017 ini dipilih dan dilantik sebagai Ketua I, Bidang Bisnis.
Selain mengemban amanah penting di lembaga keuangan syariah, Imam juga berperan penting dalam film 212 The Power of Love. Sebagaimana diketahui Aksi Bela Islam yang berlangsung pada 2 Desember 2016 yang dikenal dengan Aksi 212 merupakan peristiwa yang takkan terlupakan dan telah menjadi bagian dari tonggak sejarah umat Islam di Indonesia.
Ya di film 212, pria berjenggot ini menjadi Associate Producer film 212 The Power of Love. Untuk mengetahui lebih detail tentang film 212 The Power of Love, dan pekerjaan barunya di Global Wakaf Corporation serta pengalamannya di BNI Syariah wartawan Gontornews Muhammad Khaerul Muttaqien berkesempatan mewawancarai Direktur Global Wakaf Corporation, dan Associate Producer film 212 The Power of Love Dr Imam Teguh Saptono ini. Berikut petikan wawancaranya:
Film 212 apa benar Anda produser nya?
Ya, saya sebagai Associate Producer bersama mbak Asma Nadia. Sedangkan Executive Producernya mbak Oki dan Ust Erick Yusuf
Apa tujuan dibuatnya film 212 ini?
Tujuan pembuatan film ini untuk memorabilia peristiwa 212 yang begitu fenomenal dan sarat nilai-nilai aqidah, juga sebagai salah satu wahana untuk meluruskan stigma dari sekelompok masyarakat tertentu yang beranggapan bahwa aksi 212 sarat dengan muatan politik bahkan upaya makar. Di dalam film ini disampaikan pesan bahwa 212 adalah aksi yang didasari rasa kecintaan yang hakiki umat terhadap ajaran agamanya.
Sejak kapan film 212 ini dibuat?
Dibuat sejak triwulan akhir tahun lalu
Kenapa Anda tidak berkarir lagi di perbankan syariah?
Mungkin suatu saat bisa kembali ke bank syariah tetapi kali ini saya ingin belajar tentang wakaf. Karena cara belajar terbaik adalah dengan mempraktekannya.
Mohon maaf kenapa ada pencopotan, padahal di perusahaan yang Anda pimpin saat itu sedang baik kinerjanya?
Pencopotan mungkin didorong oleh stigma “radikal” atas sebuah sikap keberpihakan. Tetapi apapun alasannya itu domain pemegang saham dan sah-sah juga, tidak perlu ada yang diperselisihkan.
Padahal kalau dilihat BNI Syariah ketika itu cukup beda, kalau boleh tahu apa yang Anda lakukan ketika itu?
Pada dasarnya tidak ada yang aneh atas apa yang saya kerjakan saat memimpin BNI Syariah. Hanya sebuah pemahaman sederhana bahwa apa yang dijalankan oleh bank syariah bukanlah menjual “produk bank” syariah melainkan menjalankan sebuah nilai dan ajaran yang didasarkan atas risalah Islam. Tersampaikannya risalah kepada umat hanya bisa melalui cara dakwah, dan keberhasilan dakwah bertumpu pada 4 pilar yakni ilmu, teladan/contoh (walk the talk),akhlaq dan ikhlas. Jadi pendekatan dakwah seharusnya menggantikan konsep marketing dalam perbankan syariah. Dengan “dakwah first, business follow” maka tujuan akhir dari aktivitas bank syariah adalah perubahan paradigma nasabahnya, bukan semata-mata laba akhir (kinerja keuangan merupakan akibat atau risiko) dan menjadikan tempat kerja sebagai medan dakwah membuat karyawan termotivasi.
Apakah dengan cara Anda itu benar-benar membawa dampak ke BNI Syariah ketika itu?
Dampaknya di tahun 2016 yang lalu BNI Syariah mendapatkan penghargaan lebih dari 41 kali. BNI Syariah terlihat beda karena semata-mata disebabkan oleh orang-orang yang di dalamnya karena tidak mungkin yang bekerja satu orang saja. Menginap di masjid untuk bermuhasabah setiap milad menggantikan acara panggung, gerakan tutup layanan dan mengajak nasabah untuk sholat berjamaah setelah adzan disambut baik, demikian pula ajakan berwakaf melalui program wakaf hasanah, penghilangan denda untuk akad murabahah, pengembangan produk griya swakarya (true murabahah melalui inventory), kampanye hasanah titik seperti mabit serentak oleh seluruh karyawan, tunjangan karyawan hafidz dsb, berdampak pada pembangunan persepsi di pasar. Harapannya ini terus dilanjutkan dan dikembangkan ke area-area lain pada periode berikutnya. Apa yang membuat BNI Syariah maju bukan monopoli BNI Syariah. Apapun bank syariahnya jika mengedepankan dakwah first dan menghidupkan Al-Qur’an di dalamnya ia akan maju.
Di Global Wakaf yang saat ini Anda pimpin apa saja program-program yang akan dijalankan?
Di ACT melalui Global Wakaf Corporation berupaya mengambil kejayaan wakaf sebagai pilar ekonomi umat dengan mendorong wakaf produktif melalui wakaf saham perusahaan dan wakaf uang. Di mana uang wakaf yang terkumpul diinvestasikan kembali pada perusahaan-perusahaan yang sudah berwakaf. Impiannya karena Indonesia adalah pasar yang besar, nanti 10-15 tahun yang akan datang top 10 company di Indonesia adalah milik umat.




















