Hanoi, Gontornews — Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan, latihan militer antara Filipina dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung Oktober mendatang akan menjadi yang terakhir di bawah pemerintahannya.
Duterte mengatakan hal itu Rabu (28/9) dalam kunjungan resminya ke Vietnam. Ini sekaligus menandai pergeseran dari sebuah aliansi yang merupakan salah satu yang tertua di Asia.
“Anda [AS] dijadwalkan menggelar latihan perang, yang Cina tidak menginginkannya. Saya akan memberi tahu Anda sekarang bahwa ini akan menjadi latihan militer terakhir. Latihan bersama antara Filipina dan AS yang terakhir,” kata Duterte dalam pidatonya di depan masyarakat Filipina di ibukota Vietnam, Hanoi.
Seperti dilansir Aljazeera, Kamis (29/9), Latihan pendaratan amphibi yang melibatkan 500 tentara Filipina dan 1.400 pasukan AS dijadwalkan berlangsung pada 4-12 Oktober 2016, dan merupakan yang pertama diadakan di bawah pemerintahan Duterte.
Latihan ini berbeda dari latihan militer bersama tahunan kedua negara yang melibatkan kontingen yang lebih besar dari tentara AS yang diadakan setiap April.
“Saya akan mempertahankan aliansi militer, pakta Republik Filipina-AS yang ditandatangani di awal tahun 1950-an. Tapi saya akan membentuk aliansi baru untuk perdagangan dan industri,” kata Duterte.
Dalam sebuah pernyataan kepada Al Jazeera, Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya akan terus fokus pada upaya membina hubungan yang lebih luas dengan Filipina.
“Aliansi kami merupakan salah satu dari hubungan yang paling abadi dan penting di kawasan Asia Pasifik. Ini telah menjadi landasan stabilitas selama lebih dari 70 tahun. Hal ini dibangun atas pengorbanan bersama untuk demokrasi dan hak-hak asasi manusia,” kata Julia Mason, jurubicara Departemen Luar Negeri AS.
Mason mengatakan Amerika Serikat akan terus bekerjasama dalam banyak bidang untuk kepentingan bersama, termasuk kontraterorisme, untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat Filipina dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.
Dalam beberapa pekan terakhir Duterte telah berulang kali menyatakan bahwa ia ingin menerapkan kebijakan luar negeri yang bebas. Ia menginginkan aliansi yang terbuka dengan saingan AS: Cina dan Rusia. [Rusdiono Mukri]





















