Ciputat, Gontornews β Fenomena migrasi warga Suriah secara besar-besaran demi menyelamatkan diri dari perang berkepanjangan di negerinya ke negara-negara Barat semisal Jerman membuat berbagai pihak merasa kaget dan heboh.
Terlebih, stigma teroris yang terlanjur melekat di setiap Muslim makin memperkeruh keadaan. Bahkan, dalam satu keadaan, unsur kemanusiaan pun kerap diabaikan.
Sejarawan Muslim, Prof Iik Arifin Mansurnoor menilai, budaya hijrah atau migrasi telah mengakar kuat dalam konteks sejarah Islam.
βIstilah hijrah adalah istilah yang telah menjadi bagian dari penyebaran Islam,β ungkap Iik Arifin Mansurnoor di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Syarif Hidayatullah, Kamis (29/9).
Bagi masyarakat Muslim, istilah hijrah adalah istilah penting dalam sejarah Islam. Peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah merupakan salah satu bukti pentingnya istilah migrasi. Maka tidak heran, jika hijrah sangat berperan penting dalam penyebaran Islam di masa lampau.
Menurutnya, hijrah atau migrasi memberikan banyak manfaat seperti penaklukan militer, perluasan administrasi Islam hingga memfasilitasi perluasan dan menunjukkan eksistensi migrasi Muslim yang besar.
βDalam konteks modern, tidak ada klaim orang Arab Saudi, Maroko pergi ke barat untuk mencari pekerjaan kecuali merupakan inisiatif dan kesempatan yang ada dalam konteks pull and push (konsep migrasi).β
Lebih lanjut, dalam konteks perluasan wilayah, administrasi dan akhirnya juga perwujudan eksistensi keberadaan, bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain bukan saja merupakan inisiatif tapi juga kesempatan yang coba diraih Muslim di tempat berbeda. βKonsep berpindah adalah kunci!β tegas Iik.
βPenaklukan militer, perluasan administarasi Islam, juga tentunya memfasilitasi perluasan dan wujud migrasi Muslim yang besar,β pungkasΒ alumnus Gontor 1967 itu. [Mohamad Deny Irawan/Rus]
Β



















