Kairo, Gontornews – Dalam lima tahun terakhir, Prancis telah ikut berpartisipasi dalam penindasan berdarah di Mesir, dengan ‘memberikan’ senjata dan sistem pengawasan kepada rezim Presiden Abdel Fattah el-Sisi.
Demikian laporan empat lembaga swadaya masyarakat (LSM) hak asasi manusia dari Prancis dan Mesir, yang dirilis pada hari Senin (2/6).
Seperti dirilis Aljazeera, mereka menemukan fakta, penjualan senjata Prancis ke Mesir telah meningkat tajam dari 39,6 juta menjadi 1,3 miliar euro (1,5 miliar dolar AS) antara tahun 2010 sampai 2016.
Selain itu, Prancis juga menyediakan layanan kepada pihak keamanan dan lembaga penegak hukum Mesir dengan alat digital yang canggih.
“Prancis telah membantu membuat sebuah arsitektur pengawasan dan kontrol Orwellian yang digunakan untuk meredam semua bentuk perbedaan pendapat dan tindakan warga negara,” kata kelompok LSM itu.
Perusahaan-perusahaan Prancis juga terlibat dalam apa yang mereka sebut “penumpasan tanpa henti” sejak el-Sisi menggulingkan Presiden Mohamed Morsi pada tahun 2013.
Laporan itu menyebutkan, perusahaan-perusahaan Prancis juga telah menjual teknologi yang bisa digunakan untuk intersepsi data dan kendali massa, yang digunakan untuk sistem pengawasan di mana puluhan ribu penentang dan aktivis telah ditangkap.
“Revolusi Mesir tahun 2011 didorong oleh ‘generasi Facebook’ yang sangat tahu cara memobilisasi massa,” kata Bahey Eldin Hassan, direktur Institut Studi Hak Asasi Manusia Kairo (CIHRS), salah satu kelompok di balik laporan itu.
“Hari ini, Prancis membantu untuk menghancurkan generasi ini melalui pembentukan sistem pengawasan Orwellian yang bertujuan untuk membungkam setiap ungkapan protes,” katanya.
Laporan itu menyebutkan, setidaknya delapan perusahaan Prancis telah “mendapat untung dari penindasan ini”. [Rusdiono Mukri]






















