Allah adalah Tuhan Yang Mahasempurna dan Mahasuci dari segala kekurangan, aib, dan cela. Dialah yang menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, sebagai makhluk terbaik (fi ahsani taqwīm), yang dianugerahi hawa nafsu, akal yang sehat, serta hidayah untuk menempuh jalan yang lurus demi meraih ridha Ilahi.
Patutlah kita bersyukur karena termasuk dalam golongan kaum Muslimin, yakni mereka yang telah menerima hidayah Allah dan berkenan membuka hati untuk menerimanya. Namun, pertanyaannya: termasuk Muslim yang bagaimanakah kita? Apakah iman kita telah sempurna, atau masih setengah-setengah, atau bahkan sekadar di lisan saja—na‘ūdzu billāh.
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan dan menyempurnakan amalnya. Oleh karena itu, marilah kita berupaya menyempurnakan iman dengan segenap kemampuan, sebagaimana telah dituntunkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya.
Sosok Muslim yang sempurna yaitu ia yang mampu menempatkan dirinya secara tepat dalam setiap situasi, serta senantiasa menjaga agar setiap perkataan dan perbuatannya selaras dengan syariat Islam. Bagaimanakah hubungan seorang Muslim dengan Tuhannya? Dengan dirinya sendiri? Dengan orang tuanya, pasangan dan anak-anaknya, kerabatnya, serta dengan masyarakat luas? Semua itu menuntut keseimbangan dan ketundukan pada nilai-nilai Ilahi.
Seorang Muslim dengan Muslim lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan, bahkan laksana satu tubuh yang merasakan hal yang sama; kesedihan dan kebahagiaan ditanggung bersama. Dari sinilah tumbuh rasa kasih sayang, solidaritas, dan semangat saling tolong-menolong di antara sesama. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang Muslim dengan Muslim lainnya bagaikan sebuah bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Almarhum KH Zainuddin MZ pernah mengibaratkan se orang Muslim dalam hubungannya dengan masyarakat dan lingkungannya seperti seekor lebah, yang memiliki berbagai sifat mulia yang patut diteladani: ia hanya mengisap sari bunga yang baik, menghasilkan madu yang bermanfaat, bersikap berani dan mampu membela diri ketika diganggu, namun tidak pernah mengganggu makhluk lain, serta tidak merusak apa pun di tempat ia hinggap.
Makna perumpamaan ini yaitu bahwa seorang Muslim tidak mengonsumsi kecuali yang baik dan halal, serta tidak menerima atau merespons sesuatu sebelum memahami hakikatnya. Dengan demikian, ia menjaga kesehatan jasmani dan kejernihan rohaninya. Ia tidak berkata dan tidak bertindak kecuali dalam kebenaran dan sesuai dengan syariat Islam, serta senantiasa membawa manfaat bagi dirinya dan orang lain. Ia bersikap berani namun tetap santun, mencintai perdamaian tanpa menjadi pengecut, dan siap membela kebenaran demi meninggikan kalimat Allah.
Selain itu, seorang Muslim tidak melakukan kerusakan di muka bumi dalam bentuk apa pun, melainkan memanfaatkan alam secara bijak dengan tetap menjaga keseimbangan dan kelestariannya.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Baqarah: 195)
إنما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق (رواه البزار والبيهقي)
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq.” (HR al-Bazzar dan al-Bayhaqi) []






















