Cox’s Bazar, Gontornews – Pemerintah Bangladesh mengerahkan ribuan personel keamanan jelang proses pemulangan pengungsi Rohingya ke kampung halamannya di Myanmar, Rabu (4/7). Perintah ini disampaikan menyusul terjadinya serangkaian teror pembunuhan yang terjadi di kamp pengungsian beberapa waktu yang lalu.
Sejak, etnis minoritas Rohingya mengungsi ke Bangladesh Agustus tahun lalu, kepolisian Bangladesh mencatatat terdapat setidaknya beberapa tokoh masyarakat Rohingya tewas tanpa moitf yang jelas.
Inspektur Polisi Cox’s Bazar, AKM Iqbal Hossain memastikan adanya penambahan jumlah personel kepolisian sebesar 2.400 orang yang ditempatkan untuk menjaga keamanan di sekitar posko pengungsian di Cox’s Bazar. Senada dengan Iqbal, Inspektur Afrujul Haque Tutul juga mengonfirmasi hal tersebut.
“Kami memiiki 1.000 petugas polisi untuk setiap satu juta orang. Maka anda bisa membayangkan sendiri,” kata Afrujul Haque Tutul sebagaimana dilansir Reuters.
Pihak kepolisian menduga bahwa sejumlah kematian yang terjadi di sejumlah posko pengungsi Rohingnya di Bangladesh ada kaitannya dengan kelompok Arakan Rohignya Salvation Army (ARSA). Arifullah, korban terakhir yang mati akibat menerima 25 tusukan dan mati di posko Balukhali, merupakan pemimpin ribuan pengungsi di Balukhali.
Setelah kejadian tragis tersebut, polisi menetapkan 3 orang pria Rohingya yang mampu berbahasa Inggris dan diduga bekerja untuk sejumlah agen-agen internasional di Myanmar serta bertemu dengan sejumlah delegasi asing yang mengunjungi posko-posko pengungsian.
Meski demikian, seorang Juru bicara ARSA menyangkal keterkaitan kelmpoknya terhadap aksi pembunuhan misterius tersebut. menurutnya, ARSA tidak menyerang warga sipil dan tidak pernah melakukan pembunuhan di posko-posko pengungsian tersebut serta mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Bangladesh yang telah menerima dan melindungi para pengungsi Rohignya.
Selain kasus pembunuhan, Afrujul menjelaskan bahwa jajarannya telah menangkap setidaknya 300 orang Rohingya yang didiuga melakukan tindakan perampokan dan penculikan di posko-posko pengungsian terhitung sejak Agustus tahun lalu.
Sementara itu, Ketua Komite Palang Merah Internasional, Peter Maurer yang mengunjungi posko-poso pengungsian tersebut menjelaskan bahwa masalah ini merupakan masalah serius dan harus segera ditanggulangi.
“Apa yang saya dengar dari rekan-rekan saya, sudah jelas, adalah masalah besar,” kata Maurer.
“Jelas , itu adalah tantangan besar ketika anda berada di sebuah komunitas besar dengan jumlah besar, kondisi yang buruk serta situasi yang mendesak,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]


















