Jakarta, Gontornews–Seiring waktu berjalan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dari yang tadinya hanya ada di Jakarta, kini pesantren yang didirikan sejak 1974 itu, telah memiliki 17 cabang di berbagai daerah di Indonesia. Sedangkan salah satu cabang Darunnajah yang terbilang cukup maju adalah Pondok Pesantren An-Nur Darunnajah 8.
Dari segi kuantitas, santri di pesantren yang berlokasi di Cidokom, Gunung Sindur Bogor, Jawa Barat itu kini mendekati angka 1000. Uniknya lagi di pesantren yang saat ini memiliki lahan 10 hektar ini menjadi satu-satunya cabang Darunnajah yang mulai menerapkan sistem muadalah sebagaimana yang diterapkan Pondok Modern Darussalam Gontor.
Di balik kemajuan sebuah pesantren tentu di dalamnya terdapat sosok yang ikhlas berkorban demi mendidik santri dan berjuang mengembangkan pesantren apapun rintangannya. Salah satunya adalah KH Hadiyanto Arief, SH, MBs, pimpinan Pondok Pesantren An-Nur Darunnajah 8 Cidokom, Gunung Sindur Bogor Jawa Barat.
Ustadz Dedi demikian ia biasa disapa adalah cucu laki-laki pertama KH Abdul Manaf Mukhayyar yang merupakan pendiri Pesantren Darunnajah Jakarta. Mendidik santri dan mengembangkan cabang Darunnajah inilah yang menjadi pekerjaan pria lulusan MBs yang diraihnya dari salah satu kampus di lnggris, hingga saat ini.
Meski ditawarinya pekerjaan di berbagai tempat, kiai muda yang juga lulusan sarjana hukum Universitas Gajah Mada ini lebih berminat mendidik santri. Namun dalam memperjuangkan cita-citanya itu berbagai kendala dihadapinya. Walaupun ia sebagai cucu pendiri Darunnajah untuk mengurus pesantren yang didirikan kakeknya itu tak seperti yang dibayangkan orang pada umumnya.
Terutama dari ibundanya yang lebih menginginkan putranya menjadi notaris agar bisa membantu Darunnajah dari luar. “Karena Darunnajah waktu itu belum seperti sekarang,”ungkapnya. Meski begitu salah satu putra Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hasanah Darunnajah 9 KH Saifuddin Arief, SH MA ini tidak goyah dengan pendiriannya.
“Bercandanya saya ke ayah saya begini, papah juga akhirnya balik ke pesantren. Dari yang tadinya notaris sekarang jadi kiai. Kalau begitu dari sekarang saya jadi kiai saja. Kalau bukan dari keluarga siapa lagi,”paparnya kepada Gontornews.
Dikatakannya hal yang membuat tekadnya semakin kuat adalah keinginan untuk merasakan apa yang dialami perintis sekaligus menjadi contoh untuk adik-adiknya. Sebagaimana pepatah dahulu dikatakan, generasi pertama adalah generasi yang merintis, generasi kedua, generasi yang membangun. Generasi ketiga generasi penikmat. Generasi keempat yang menghancurkan.
“Ini artinya, kita harus memastikan kalau kita tidak hanya menjadi generasi penikmat. Karena Darunnajah masih banyak yang harus dikembangkan. Saya salut dengan kakek saya, almarhum KH Abdul Manaf Mukhayyar rekening (amal jariyahnya) mengalir terus. Karena mewakafkan harta untuk pesantren dan memiliki anak-anak shaleh,”imbuhnya.
Hal lain yang juga membuat pendiriannya semakin teguh adalah pesan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah nasehat dari kiainya saat nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor. Adalah Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi yang pernah menyinggungnya untuk berperan dalam membenahi Darunnajah dari dalam.
Suatu ketika salah satu putra pendiri Gontor itu datang ke rumah sakit yang ada di Jakarta untuk menjenguk ibunda Ustadz Dedi (almarhumah) yang ketika itu sedang di rawat. “Beliau manggil saya. Ayo ikut temenin saya makan. Di mobil lalu beliau bilang, kamu ini anak macan jangan rendahkan dirimu menjadi domba. Berjuanglah, ”kenangnya.
Selang beberapa waktu kemudian datang juga pamannya, KH Mad Roja Sukarta Pimpinan Pondok Pesantren Darul Muttaqien Parung Bogor yang memberikan nasehat serupa. “Beliau juga bilang, kamu ini anak macan kamu jangan jadi ecek-ecek,”tandasnya mengenang nasehat pamannya itu.
Dari nasehat-nasehat tersebut ia kemudian meminta restu kepada ibundanya. “Karena waktu itu yang masih belum ridho saya ngurus pesantren itu ibu. Saya bilang mah saya sudah istikharah ingin ngurus pesantren apapun resikonya mamah gak usah pikirin. Tolong ridhoi saya. Alhamdulillah direstui,” imbuhnya.
Setelah mendapatkan restu berapa waktu kemudian ia ditunjuk untuk memimpin Darunnajah 8 pada tahun 2009. “Waktu itu hanya 3 santri mukim dan 30 lainnya pulang pergi. Lalu saya fokus dengan santri mukim dan menstop santri pulang pergi dan menata manajemen pondok,”ungkapnya.
Dalam mengurus pesantren yang dijalankannya pun bukan tanpa rintangan. Namun seiring dengan perkembangan, rintangan yang dialami dilaluinya dengan baik dan ia menikmati tantangan itu. “Dari yang tadinya masyarakat marah gara-gara urusan perut lama-lama mereka paham. Dari sini lah bagaimana rasanya merintis dan mengembangkan pesantren,”jelasnya.[Muhammad Khaerul Muttaqien]






















