Mbale,Gontornews—Global Qurban berhasil menjangkau delapan distrik pelosok Uganda di tahun 2018 ini. Delapan distrik tersebut meliputi Mbale, Nabilayuk, Moroto, Amudat, Sironko, Pallisa, Budaka, dan Kibuku.
Dari distrik-distrik itu pun, distribusinya masih meluas lagi ke beberapa desa-desa kecil yang berada di dalamnya. Desa yang dibelit masalah yang sama: kemiskinan ekstrem.
Alasan itu pula yang menjadi penggerak Global Qurban menjejakkan daerah distribusi baru ke Uganda. Realitas hidup di pelosok Uganda, khususnya di wilayah sebelah timur Uganda menunjukkan, banyak Muslim yang tinggal jauh di bawah garis kemiskinan. Tanpa pekerjaan sama sekali, atau bekerja menjadi petani dengan pendapatan tidak lebih dari US$1 per hari.
Tahun berganti, pengalaman bertambah, amanah makin membesar, penjelajahan harus bertambah luas. Prinsip inilah yang dijaga kelanjutannya oleh segenap tim implementasi Global Qurban yang bertugas di puluhan negara berbeda. Seperti Idul Adha tahun 2018 ini, Global Qurban menorehkan cerita baru tentang distribusi kurban yang menjangkau lokasi baru, menyapa daerah Muslim yang sebelumnya tak sampai terjangkau. Lokasi baru itu ada di bagian tengah Benua Afrika: Uganda.
Bukan perjalanan yang sederhana apalagi singkat. Dari Indonesia, tak ada penerbangan langsung untuk mencapai Uganda. Tim Implementasi Global Qurban untuk Uganda perlu beberapa kali menumpang penerbangan. Singgah di Ethiopia, lalu kembali terbang dan tiba di Bandara Internasional Entebbe, berjarak sejam perjalanan darat dari Kampala, ibukota Uganda.
Masih di Kampala, perjalanan belum berhenti. Pertemuan dengan mitra Global Qurban di Kampala membawa tim Global Qurban hingga ke kota kecil bernama Mbale, 224 kilometer sebelah timur Uganda, dekat perbatasan dengan Kenya. Di kota kecil inilah, seluruh persiapan menjelang Hari Raya Idul Adha disiapkan.
“Mbale menjadi kota teramai dari seluruh wilayah distribusi Global Qurban di Uganda. Dari Mbale, mayoritas sapi-sapi Global Qurban didistribusikan lebih menjauh lagi, ke lokasi terpencil tempat Muslim Uganda bertahan menjaga agamanya,” kata Said Mukaffy, salah satu Tim Implementasi Global Qurban untuk Uganda.
Mitra Global Qurban di Uganda bercerita, ada tiga “bencana” yang dihadapi sepanjang tahun di pinggiran Uganda. “Banjir, kelaparan, dan kekeringan parah. Tiga hal itu saling berkaitan, bergantian sepanjang tahun. Lebaran Idul Adha tahun ini berbarengan dengan kekeringan dan malnutrisi anak-anak (kelaparan),” kata Katumba Saleh, salah satu mitra Global Qurban di Uganda.
Belum lagi masalah baru tentang arus pengungsian yang datang dari daerah perbatasan Uganda. Konflik di Sudan, Sudan Selatan, dan Republik Demokratik Kongo memaksa Uganda membuka perbatasannya untuk arus pengungsi.
Kasisi Hadadi, mitra Global Qurban lainnya di Uganda mengatakan, pengungsi dari luar Uganda datang, khususnya menempati wilayah Karamoja. Sementara warga asli Karamoja termasuk kategori miskin sekali. Kebutuhan dasar belum bisa terpenuhi. Rumah, bahan pangan, kesehatan dan pekerjaan.
“Bahkan Karamoja juga sedang didera beberapa penyakit seperti malaria, kolera, dan mirisnya lebih dari 90% anak-anak Karamoja mengalami malnutrisi,” tulis Kasisi.
Mudah menemukan bahwa wajah asli Karamoja, juga wilayah lain di pinggiran Uganda termasuk paling miskin. “Di wilayah distribusi kurban ini, khususnya Karamoja, Sironko, dan Mbale hampir 90% anak-anaknya tidak bersekolah. Keluar dari sekolah karena kondisi yang miskin, atau bangunan sekolah yang tidak lagi layak. Dari kondisi sekolah mereka, bisa ditemukan betapa sulitnya hidup di sini,” lanjut Kasisi.
Menghabiskan hari Lebaran Idul Adha sampai bertemu Tasyrik terakhir, total sebanyak 550 sapi dari Global Qurban disembelih di beberapa tempat berbeda. Distribusi daging kurban dibawa sampai ke lokasi-lokasi pelosok dengan populasi Muslim yang hidup miskin.
Mutono Alaisa (67), ibu dengan tujuh anggota keluarga asal wilayah Nabilatuk, pinggiran Timur Uganda, menceritakan hari-hari lebaran kurbannya tahun 2018 ini. “Lebaran kali ini berbeda. Daging kurban yang kami terima menambah standar kesehatan keluarga kami. Nutrisi daging seperti ini jarang kami rasakan. Alhamdulillah, semoga Allah membalas kurban dari Indonesia ini.”
Cerita lain datang dari Tazenya Hussain (63) asal Desa Petete, Distrik Budaka. Ia bersama 11 anggota keluarganya tak pernah mampu membeli sepotong daging. Pekerjaannya hanya sebagai petani kecil, hidup miskin di pelosok Budaka. “Daging kurban dari Indonesia ini membuat perayaan kurban kami lengkap, ada kebahagiaan seperti Muslim lainnya. Doa saya agar Allah memudahkan seluruh urusan kalian di Indonesia,” kata Tazenya Hussain lirih. [Al Hafidh]




















