Kuala Lumpur, Gontornews — Pemerintah Malaysia melepaskan 11 tahanan etnis Muslim Uighur yang melarikan diri ke Asia Tenggara, Kamis (11/10), setelah berhasil menjebol penjara Thailand tahun lalu. Tapi, menurut pengacara ke-11 tahanan, mereka akan dikirim ke Turki dan bukan ke Beijing.
Akibatnya, hubungan Malaysia-Cina terancam memburuk sejak Perdana Menteri Malaysia yang baru terpilih dalam pemilihan umum Mei 2018 yang lalu, Mahahtir Mohamad, membatalkan sejumlah proyek senilai lebih dari 20 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar 304 triliun rupiah (kurs 1 dolar AS = Rp 15.203,25,-).
Pihak Kejaksaan Malaysia memutus bebas kepada ke-11 etnis Muslim Uighur dengan alasan kemanusiaan dan dijadwalkan tiba di Turki, Selasa (16/10) mendatang.
“Tuduhan itu ditarik karena Kejaksaan menyetujui banding yang kami sampaikan,” kata pengacara ke-11 etnis Muslim Uighur, Fahmi Mon, sebagiamana dilansir Reuters.
Sebelumnya, ke-11 warga etnis Muslim Uighur, Cina, didakwa masuk ke Malaysia secara ilegal dan terbukti bersalah melubangi dinding penjara di Thailand pada November 2017 yang lalu.
Sementara itu, Beijing menuduh etnis Muslim Uighur sebagai aktor di balik gerakan separatis di Xinjiang dan menyebabkan pihak pemerintah melakukan pengawasan ketat terhadap ajaran-ajaran agama yang dianggap bertentangan dengan ideologi negara.
Selama bertahun-tahun, etnis Muslim Uighur melarikan diri dari kerusuhan yang terjadi di negaranya dan melakukan perjalanan ke Turki melalui Asia Tenggara secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, Thailand disebut berhasil menahan lebih dari 200 orang etnis muslim Uighur yang melewati wilayahnya untuk menuju Malaysia.
Meski demikian, warga Uighur tersebut teridentifikasi sebagai warga negara Turki. Namun, Cina memaksa lebih dari 100 orang Uighur yang tertangkap untuk kembali ke Cina dan mendorong kecaman dari dunia internasional. [Mohamad Deny Irawan]























