Tangerang, Gontornews — Pasutri (pasangan suami istri) yang menikah muda sangat membutuhkan bantuan orang lain ketika menghadapi masalah rumah tangga. Kurangnya pengetahuan dan pengalaman, menjadikan dukungan, masukan, dan motivasi dari pihak luar sangat diperlukan.
Kak Seto Mulyadi dalam bincang-bincang eksklusif bersama kru Gontornews.com menegaskan bahwa dirinya sangat menyetujui dan mendukung para calon suami istri untuk mengikuti bimbingan belajar keorangtuaan yang menjadi salah satu program kegiatannya selama ini.
“Hal ini demi menciptakan jiwa keteladanan sebagai orangtua agar dapat sukses mengayomi dan mendidik anak-anak mereka,” tukasnya.
Apalagi saat ini banyak terjadi kasus kehamilan di luar nikah oleh para muda-mudi yang berujung pada terputusnya pendidikan dan keterpaksaan menikah demi menutup aib keluarga. Alhasil, berkat niat dan persiapan yang kurang sempurna, tak jarang serangkaian kasus keributan dalam rumah tangga pun kembali terjadi. Miris bukan?!
Kak Seto pun kembali mengusulkan agar para remaja yang terpaksa putus dari bangku sekolah untuk tetap meneruskannya baik dengan cara home schooling (belajar di rumah) atau lainnya.
“Sehingga saat anak mereka tumbuh besar mereka pun mampu mendidiknya dengan bekal ilmu pengetahuan yang mencukupi,” lanjut psikolog anak serta Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak itu.
Selain itu, para orangtua dihimbau untuk tetap membimbing anak-anak mereka, baik yang telah menikah karena hamil di luar nikah maupun yang tidak, serta baik yang menikah di usia muda ataupun tua.
“Karena peran orangtua akan selalu dibutuhkan oleh anak meskipun anak tersebut telah menjadi orangtua juga,” pungkas Seto.
Berikut beberapa persiapan menuju pernikahan dini:
- Tepat memilih pasangan. Hal terpenting yakni perhatikan keshalihannya. Baru setelah itu pertimbangkan soal paras, harta, dan nasabnya.
- Kenali sifat pasangan.
- Terus belajar menyesuaikan diri antarpasangan dan keluarganya.
- Mencari minat atau hobi bersama agar dapat serasi beraktivitas.
- Jujur dan saling terbuka.
- Pintar mengelola keuangan. [Edithya Miranti]






















