Xinjiang, Gontornews — Seorang peneliti dari Human Rights Watch, Maya Wang, meminta kepada dunia internasional agar meningkatkan tekanan kepada Cina menyusul terjadinya indikasi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Xinjiang, Cina.
Setidaknya satu juta etnis Uighur ditahan oleh pemerintah Cina dengan dalih melakukan program deradikalisasi dan re-edukasi. Beijing berdalih bahwa langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi gerakan separatis, terorisme ataupun aksi ekstremis.
Amerika Serikat sendiri tengah mempertimbangkan pemberian sanksi kepada Sekretaris Partai Komunis Cina, Chen Quanguo, sejumlah pejabat pemerintahan serta perusahaan di Cina yang terindikasi terlibat dalam pelanggaran HAM di Xinjiang.
“Fakta bahwa mereka perlu mengadakan sebuah tur kunjungan (ke kamp pengasingan etnis Uighur) adalah merupakan tanda bahwa tekanan (yang dilakukan dunia internasional) berhasil,” kata Maya Wang kepada Reuters.
Sementara itu, pemimpin partai Urumqi di Xinjiang, Xu Hairong menilai bahwa semua laporan tentang dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur di Xinjiang adalah palsu.
“Kami dan Sekretaris Partai Chen (Quanguo), bekerja untuk rakyat Xinjiang agar mereka memiliki kehidupan yang baik,” kata Xu Hairong.
“Jika AS tidak mengizinkan saya pergi, maka saya tidak ingin pergi ke sana. Itulah yang sebenarnya terjadi,” tambah Xu Hairong.
Pemerintah Cina mengatakan bahwa tujuan mereka dalam mengadakan program re-edukasi adalah agar etnis Uighur menjadi bagian dari pengarusutamaan masyarakat Cina. Gubernur Xinjiang, Shohrat Zakir, mengakui bahwa ada beberapa warganya yang tidak mampu menyapa warga dengan bahasa mandarin. [Mohamad Deny Irawan]





















