Gontornews–Awalnya hanya mendampingi suami dalam berbisnis konveksi, hingga suatu ketika ujian itu datang berupa penipuan yang membuat porak poranda usaha sang suami. Perempuan pemilik nama Ainul Aisyah ini pun mencoba peruntungan di dunia multi level marketing (MLM) untuk membantu suami menutupi hutang.
Suami dari Asep Barhutin T. Mandaka yang juga alumni Pondok Modern Gontor ini akhirnya terjun di dunia MLM. “Dari situ saya berfikir harus berusaha lebih keras untuk membantu suami mencari pemasukan untuk menutup pinjaman-pinjaman yang sulit diselesaikan,” kisahnya kepada Majalah Gontor.
Tergiur dari janji-janji MLM yang bisa mendapatkan uang besar dalam waktu yang singkat, ia pun berpindah dari MLM satu ke MLM yang lain. Ternyata, apa yang Ainul harapkan tak meleset, ia bahkan mampu meraih posisi tinggi dengan gaji belasan juta sebulan saat itu.
Namun apa yang diusahakan dengan apa yang diharapkan sang suami sejatinya bertolak belakang, pasalnya suami tak mengijinkan bekerja di luar rumah dengan meninggalkan anak-anak. Sang suami berharap prioritas adalah anak-anak di rumah.
Slogan MLM yang bisa dikerjakan di rumah ternyata tak seperti yang dibayangkannya. Faktanya, ya tetap harus sering keluar dan ketika di rumah pun harus sering berkutat di depan laptop untuk maintenance grup dan jaringan di bawah atau downline sekitar 800-an orang,” ujar putri dari pasangan Agus Sudja’i dan Yuli Masruroh ini.
Saat itu, yang ada dalam benak Ainul hanya kerja dan kerja agar lekas mengumpulkan hasilnya untuk melunasi hutang. Dalam praktiknya, ia tak bisa mengatur waktu dengan baik. Akibatnya, anak-anak dan suami terbengkalai. “Saya kejar yang sunnah, yang wajib saya lupakan, astaghfirullah,” tuturnya.
Tahun 2010, Allah menguji keluarga kecil ini. Setelah suami bangkrut tertipu bisnis konveksi, kini istrinya terserang virus guillains barre syndrome (GBS), yaitu semacam virus yang menyerang syaraf, dan mengakibatkan kelumpuhan.
“Saya total merepotkan. Gak bisa ngapa-ngapain. Alhamdulillah, suami yang sempat saya ‘kecilkan’ karena kesombongan saya yang ngerasa bisa cari duit, tidak sedetikpun meninggalkan saya. Beliau mengurusi kebutuhan saya dari A-Z selain juga harus mengurus rumah dan anak-anak. Dan juga harus bekerja lebih keras karena biaya pengobatan saya yang tidak sedikit,” kisah ibu dari tiga anak.
Saat sakit itu, Ainul banyak merenungi dan menyadari bahwa inilah rezeki sebenarnya, yaitu suami yang baik dan sholeh, anak-anak yang sehat sholeh-sholehah, yang sempat ia abaikan karena keasyikan mengejar materi.
Sering waktu, bisnis MLM yang ia jalani pun ia tinggalkan. Ia pun mulai pulih dari penyakitnya yang sempat lumpuh. Dalam proses pemulihan itu, ia merasa kesulitan mencari sepatu yang pas dengan kakinya yang pernah lumpuh, “Saya butuh sepatu yang benar-benar nyaman dipakai,” ujar alumni Grasafany 698 Mantingan.
Suatu ketika, Ainul teringat bahwa ibunya di Malang adalah pengrajin sulam benang. Biasanya sulam benang ini diaplikasikan di jilbab, baju atau mukena. Ada juga yang di sepatu tapi hasilnya kurang rapih dan kurang nyaman.
Saat itulah muncul ide untuk membuat sepatu sendiri dengan motif sulam benang. Beberapa kali ganti pola nampak kurang pas, dan kaki menjadi sakit ketika dipakai. Sepatunya harus pas, bahan fleksibel, empuk dan tidak licin.
Akhirnya ia menemukan pola yang pas untuk kakinya. Mulai ada teman dan tetangga yang ingin sepatu seperti yang ia pakai. Awalnya ragu-ragu mau menerima pesanan. Tapi suaminya memberikan semangat. “Ayo bismillah mulai bisnismu sendiri. Ibarat kata, mau susah payah juga ini bisnis sendiri. Membesarkan usaha sendiri,” ujar lulusan Universitas Muhammadyah Malang, Fisip jurusan ilmu komunikasi.
Dengan penuh optimis, Ainul memulai orderan dari teman dan tetangga dengan brand bernama Mitzi Shoes, produksi sepatu sulam. Mitzi diambil dari nama anak perempuannya, Neysa Mitzi.
Awalnya hanya sepatu sulam benang, lalu berkembang ke sepatu korsase. Lalu ke sepatu etnik (bahan bakunya dari kain tenun ikat NTT, Timor, dan kain songket). Dan yang terakhir sepatu aplikasi.
Kendala dalam bisnis ini adalah pada SDM pengrajin sulam yang ahli dan rapih. Karena menyulam ini harus dilakukan oleh orang yang memang suka dan telaten. Sementara untuk motif etnik tiidak ada kendala, karena kain tenun bisa dipesan langsung dari NTT atau Timor.
Ciri khas sepatu Mitzi, hampir semua prosesnya dilakukan dengan tangan. Mulai dari aplikasinya hingga pembuatan sepatunya. “Walaupun handmade tetap harus rapih, nyaman dan kuat,” jelasnya. Faktor lain yang menjadi kekhasan Mitzi, sepatunya harus unik dan cantik karena wanita suka yang unik dan cantik.
Saat ini, pemasaran yang ia lakukan mayoritas melalui sistem online. Baik melalui instagram maupun facebook. Belum dipasarkan melalui marketplace, dan belum bisa produksi masal karena masih terkendala kekurangan tenaga sulam. Sempat diminta oleh Berrybenka dan Waramai untuk masuk ke pasar premium melalui mereka, namun karena kendala itu ia belum bisa penuhi.
Terkait persaingan, Ainul merasa tidak sedang bersaing dengan komeptitor, justru merasa seperti kawan, teman seperjalanan yang sama-sama bergerak ke tujuan masing-masing. “Karena merasa kawan, kita bisa saling sharing pengalaman dan berbagi tips di masalah produksi dan marketing,” ujarnya.
Ainul tetap berada di jalur sepatu yang unik dan produksi terbatas. Ia berkeyakinan keunikan sepatu yang ia usung ini, pembeli akan sulit melupakan setelah merasakan. Satu hal yang dipesankan alm ayahnya Agus Sudjai, “Kalau mau dagang, mau jualan, jangan cuma menawarkan barang. Tapi tawarkan solusi. Jadi, ketika wanita butuh sepatu nyaman, kuat, unik dan cantik. Mitzi shoes solusinya,” kenangnya.
Tak hanya meramba nusantara, pembeli dari produk sepatu Mitzi ini ada yang dari Malaysia, Thailand bahkan dari Turki.

Ainul berharap bisnis yang ia geluti ini bisa tumbuh besar, dikenal orang. Tapi bukan hanya sekedar besar, namun harus ada keberkahan didalamnya. Berkah ketika Mitzi bisa membantu sesama, bermanfaat bagi banyak orang. Terutama bagi keluarga, orangtua, suami, anak-anak, keluarga, dan masyarakat.
Adanya Forum Bisnis alumni Gontor sangat membantu dirinya untuk bisa lebih mengembangkan usahanya ini. “Segenap pengurus benar-benar mencurahkan tenaga, pikiran dan materi untuk kemajuan bersama. Anggota forbis yg terdiri dari berbagai kalangan dan bidang usaha tidak pelit ilmu. Semangat berbagi pengetahuan. Hingga kami yang masih pemula ini bisa belajar banyak, menyerap ilmu langsung dari ahlinya. Bisa sharing dan mentoring, jadi sumber penyemangat juga ketika down,” ungkapnya.
Ainul punya pandangan terkait wanita berbisnis. Menurutnya menjadi ibu yang bekerja atau menjadi ibu rumah tangga, sama-sama mulia, selama suami ridho. “Jika ingin berbisnis, maka lakukan dengan restu suami dan lakukan setelah menunaikan kewajiban sebagai istri dan ibu. Jangan sampai bisnis melesat tapi suami dan anak-anak terabaikan. InsyaAllah bisnis berkah dunia akhirat,” tuturnya.
Sebagai alumni Mantingan generasi angkatan ketiga, Ainul merasakan bahwa pendidikan di Gontor sangat membantu dalam aktivitas perkuliahan yang membutuhkan kemampuan analisa melalui data dan nalar logika. “Karena di Gontor, kita diajarkan untuk tau banyak hal dan menggalinya,” ujarnya. [fathurroji]





















