Chrsitcurch, Gontornews — Perdana Menteri Selandia baru, Jacinda Ardern, memuji respon umat Islam Selandia Baru terhadap pelaku penembakan brutal di Masjid Al-Noor, Christchurch, Brenton Tarrant. Meski demikian, Ardern tetap menyebut insiden berdarah ini sebagai insiden ‘the darkest days’.
Dalam prosesi pemakaman terhadap 50 orang korban tewas tahap pertama, Ardern menjelaskan salah satu dari 3 orang jamaah yang dinilai sangat terbuka dan peduli terhadap sesama. Secara spesifik, Ardern merujuk pada salah seorang korban tewas berusia 71 tahun, Mohemmed Daoud Nabi yang sempat mengatakan “Halo saudaraku, selamat datang” kala berhadapan dengan pelaku penembakan.
“Tentu saja, ia tidak mengetahui kebencian yang datang di balik pintu. Akan tetapi, pernyataanya memberi kami banyak hal yakni bahwa umat muslim menyambut semua seluruh jama’ah dengan keterbukaan dan kepedulian,” ungkap Ardern sebagaimana dilansir Reuters.
Kepolisian Selandia Baru pun telah menetapkan warga negara Australia, Brenton Tarrant, sebagai tersangka. Pelaku tinggal di South Island, Selandia Baru. Pihak berwenang menjelaskan bahwa pengadilan terhadap pelaku akan dilaksanakan pada 5 April 2019 mendatang. Pemerintah memastikan bahwa para korban berhak untuk mendapatkan keadilan.
“Keluarga korban berhak untuk mendapatkan keadilan,” ungkap Ardern.
“Mungkin, ia bermaksud mencari ketenaran, tetapi kami di Selandia Baru tidak akan memberikannya apa-apa. Bahkan namanya,” tambahnya.
Sementara itu, pihak kepolisian Selandia Baru tidak merilis daftar korban karena tengah melakukan identifikasi mayat secara resmi.
“Meskipun identifikasi dapat diselenggarakan secara langsung, kenyataannya, (proses identifikasi) lebih kompleks, terutama dalam situasi seperti saat ini,” jelas pernyataan pihak kepolisian Selandia Baru.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian berhasil mengidentifikasi 12 dari 50 korban penembakan brutal yang dilakukan oleh Brenton Tarrant dengan 6 korban telah diserahkan kepada pihak keluarga. [Mohamad Deny Irawan]





















