Ponorogo, Gontornews — Wakil Rektor 1 Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor , Dr Hamid Fahmy Zarkasyi menganggap bahwa aksi penembakan brutal yang menewaskan 50 orang muslim di Christchurch, Selandia Baru bukan sekedar ekspresi kebencian terhadap umat muslim saja tetapi juga, yang berbahaya, memunculkan stigma bahwa agama sebagai pemicu sikap radikalisme.
“Aksi terorisme di Selandia Baru bukan hanya bermotif rasa kebencian terhadap umat Islam. Masyarakat dunia saat ini dihadapkan dengan isu-isu yang kerapkali membenturkan agama satu dengan lainnya,” ungkap Hamid Fahmy Zarkasyi, saat memberikan tausiyah di hadapan mahasiswa di masjid Jami’ UNIDA Gontor, Jumat (16/3).
“(Aksi) ini dibuat dengan maksud memunculkan stigma bahwa agama adalah pemicu radikalisme. Ajaran agama dibuat seolah-olah tidak lagi memiliki rasa aman karena telah terkontaminasi sikap radikal,” tambahnya.
Lebih lanjut, jebolan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia itu melihat bahwa fenomena di Selandia Baru sebagai fenomena adu domba antar agama dalam berskala global.
“Agama yang saling dibenturkan menimbulkan sebuah sikap radikal yang mereka sebut sebagai terorisme. Sebetulnya, tidak ada pemahaman agama yang demikian, akan tetapi negara-negara dan media ikut mempelopori paham-paham terorisme untuk menebar bahwa agama adalah pemicu radikal,” jelas Ustadz Hamid, sapaan akrab mahasiswa UNIDA.
Secara spesifik, Hamid mengingatkan kepada masyarakat agar mewaspadai kelompok liberal. Baginya, kelompok liberal adalah kelompok yang sangat membenci islam di berbagai bidang serta berupaya untuk menghancurkan Islam dari dalam.
“Maka, kita perlu berhati-hati dalam menyikapi orang-orang liberal. Orang liberallah yang sangat membenci Islam di berbagai bidang dan berupaya untuk menghancurkannya dari dalam. Kemudian, mereka berkata bahwa Alquran tidak lagi suci dan sudah tidak autentik sehingga perlu direvisi,” pungkas Hamid. [Mohamad Deny Irawan]





















