Jakarta, Gontornews– Republik India merupakan sebuah negara di Asia dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia. Dengan populasi lebih dari satu miliar jiwa, India merupakan negara terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografisnya.
Berdasarkan agama yang dianut, mayoritas penduduk India beragama Hindu. Sedangkan umat Islam adalah penganut agama terbesar kedua di India. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar ketiga di dunia setelah Indonesia dan Pakistan, India memiliki banyak jejak Islam dan riwayat Islam di Negeri Hindustan itu terbilang amat panjang.
Islam hadir melewati rentang sejarah yang sangat panjang. Ada banyak versi yang menjelaskan tentang masuknya Islam ke India. Meski demikian Islam sudah hadir di India sejak ribuan tahun lamanya. Dalam salah satu versi disebutkan, ajaran Islam pertama kali datang ke India pada abad ke-7 M.
Malik Ibnu Dinar dan 20 sahabat Rasulullah SAW merupakan orang yang pertama menyebarkan ajaran Islam di negeri itu. Saat itu, Malik dan sahabatnya menginjakkan kaki di Kodungallur, Kerala. Konon dari wilayah itu, Islam menyebar ke seantero India.
Sementara dalam keterangan lain seperti dikutip Population by Region in India yang dikutip lagi oleh Republika dijelaskan, peranan Muslim di negara berbentuk republik federasi di Asia Selatan ini dalam pengembangan Islam dapat dilihat dalam empat tahapan.
Pertama, masa sebelum Kerajaan Mogul (705-1526). Kedua, masa kekuasaan Kerajaan Mogul (1526-1858). Ketiga, masa Kekuasaan Inggris (1858- 1947). Keempat, Islam pada negara India sekuler (1947-sekarang).
Jauh sebelum Kerajaan Mogul berdiri, sebenarnya sejak abad ke-1 Hijriyah, Islam telah masuk India ketika Umar bin Khattab memerintahkan ekspedisi. Pada 643 M, setelah Umar wafat, orang-orang Arab menaklukkan Makran di Baluchistan.
Selanjutnya pada masa pemerintahan Bani Umayyah, Islam melanjutkan ekspedisi (futuhat) ke sana di bawah Panglima Muhammad bin Qasim yang berhasil menguasai Sind, dan mulai 871 M orang-orang Arab telah menjadi penghuni tetap di sana.
Seperti dilansir Onislam.net saat ini Islam merupakan agama terbesar kedua di India setelah Hindu. Jumlah umat Islam di India mencapai 175 juta jiwa atau 14,5 persen dari total populasi.
Selebihnya adalah penganut Protestan, Katolik, Buddha, Jainisme, Sikh, dan Yahudi. Angka itu menjadikan India sebagai negeri dengan populasi Muslim terbesar ketiga di dunia dan populasi terbesar di dunia bagi Muslim minoritas.
Meski umat Islam adalah minoritas dari segi jumlah, sejarah membuktikan bahwa umat Islam telah memberi kontribusi besar bagi negara Asia Selatan ini. Islam meninggalkan banyak jejak di India.
Selain Taj Mahal di Agra yang mendunia, India juga memiliki warisan Islam lainnya, seperti Qutub Minar, Masjid Jama’, dan Taman Makam Humayun.
Qutub Minar
Qutub Minar adalah salah satu menara masjid paling tinggi di dunia. Tingginya menjulang setinggi 72,5 meter. Qutub Minar dibangun dengan batu paras merah berukir kaligrafi dari ayat-ayat Alquran. Di kompleks Qutub Minar terdapat masjid tertua di India, Quwwatul Islam.
Terletak di dalam kompleks arkeologi besar di daerah Mehrauli, Delhi, Qutub Minar dibangun oleh Qutubuddin Aibak, sultan Delhi pertama pendiri Dinasti Ghulam (Kesultanan Mamluk ). Sultan Qutubuddin membangunnya pada 1192 setelah mengalahkan kerajaan Hindu terakhir di Delhi.
Qutubuddin adalah sultan berdarah Turki yang memerintah India barat laut dengan Delhi sebagai pusat pemerintahan. Dia menjadi sultan hanya selama empat tahun (1206 sampai 1210). Ia wafat ketika memainkan olahraga sejenis polo di Lahore. Pembangunan menara ini lalu diselesaikan oleh Shamsuddin Iltutmish, pemegang takhta ketiga Dinasti Mamluk, yang juga menantu Qutubuddin.
Masjid Jama’
Terletak di Old Delhi, tepatnya di Jalan Chadni Chowk masjid Jama’ didirikan oleh Kaisar Mughal, Syah Jahan, pada 1656. Pelataran serta bangunan Masjid Jama’ terbuat dari batu paras merah, bahan bangunan yang umum di gunakan pada masa Kekaisaran Mogul.
Masjid yang mampu menampung 25 ribu jamaah ini pembangunannya melibatkan lebih dari lima ribu pekerja dan membutuhkan waktu enam tahun. Masjid Jama’ dibangun hampir bersamaan dengan beberapa masjid di Agra, Ajmer, dan Lahore.
Meski demikian Masjid Jama’ tampak paling fenomenal hingga dijuluki Masjid-i-Jahanuma yang berarti masjid berpanorama dunia. Arsitektural dan keindahan bangunannya tak tertandingi oleh masjid-masjid lain yang didirikan oleh Dinasti Mughal.
Di dalamnya juga tersimpan benda-benda bersejarah, seperti Alquran dari kulit rusa, bahkan sandal dan rambut yang diyakini milik Nabi Muhammad SAW.
Tak heran jika Masjid Jama’ dipuji oleh para ahli sejarah sebagai warisan Dinasti Mughal yang paling berharga di samping Taj Mahal. Kala itu, di tengah keragaman agama yang dianut rakyatnya, Syah Jahan tanpa ragu menegaskan identitasnya sebagai Muslim dengan membangun masjid megah ini.
Taman Makam Humayun
Salah satu situs ziarah terpopuler di kawasan New Delhi adalah Taman Makam Humayun. Terletak di tepi Sungai Yamuna, Taman Makam Humayun ini merupakan komplek pemakaman besar dan megah yang didominasi batu paras merah.
Layaknya Taj Mahal, Taman Makam Humayun juga dibangun sebagai tanda cinta. Bedanya jika Taj Mahal dibangun oleh suami untuk sang istri, Taman Makam Humayun dibangun oleh istri untuk suaminya.
Humayun adalah Kaisar Mughal kedua. Beliau wafat pada 1556. Kemudian pada 1562 sang janda Humayun, Hamida Begum, yang berasal dari Persia, memerintahkan untuk membangun taman makam ini sebagai tanda cintanya untuk sang suami.
Berlokasi di Mathura Road, kawasan Nizamuddin East, Delhi, bangunan ini dirancang oleh arsitektur Persia kenamaan, Mirak Mirza Giyath. Monumen bergaya arsitektur India Persia ini terbuat dari bata merah, bata putih, dan marmer, yang dikelilingi taman dan air mancur yang sangat indah.























