BACA JUGA
Amman, Gontornews – Pasokan makanan warga Suriah makin memprihatinkan. menurut laporan yang dirilis oleh Food Argicutluran Organization (FAO) dan World Food Programme (WFO) bulan Juni yang lalu, hanya menemukan 900.000 hektar lahan gandum dari 1,5 juta hektar lahan yang dibutuhkan.
Menurut The Guardian, Selain peperangan, rendahnya curah hujan serta hancurnya beberapa sistem irigasi di Suriah semakin memperburuk keadaan.
Ironisnya, ketimbang menanam gandum, para petani di Suriah beralih menanam gandum jenis barley di atas tanah keras yang dinilai kurang bergizi.
Sebelum krisis pangan ini terjadi, pemerintah Suriah telah mendistribusikan benih berkualitas tinggi dengan harga yang telah disubdsidi. Kini, banyak petani menguras keuangan hingga meminjam uang ke tetangga maupun kerabat untuk membeli benih yang harganya melambung tinggi.
Dengan belum tuntasnya konflik di Suriah, kesulitan warga untuk memperoleh makan makin bertambah seiring dengan kurangnya pasokan bahan bakar serta sulitnya transportasi dari wilayah utara-timur Suriah ke barat dimana orang-orang sangat bergantung pada bantuan impor.
Beberapa langkah telah disiapkan FAO untuk mendukung 500.000 orang sejak tahun 2016. bantuan yang diberikan berupa sereal, sayuran benih, unggas hidup, pakan ternak dan kampanye vaksinasi.
Dari kota Deir Ez-Zor pasokan tanaman meningkat dan mampu menekan harga kebutuhan pokok seperti tepung terigu sebesar 15% pada Juni 2016 meski jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu, masih lebih tinggi 50%.
Sejak konflik terjadi pada tahun 2011, Suriah berada dalam krisis berkepanjangan. tidak saja perihal kondisi perang tapi juga kondisi perubahan iklim yang sedemikian parah.
Celakanya, tidak saja produksi pangan yang terbatas, kini pasokan air juga terbatas yang berdampak pada meningkatnya warga yang terjangkit penyakti serta meningkatnya polusi di Suriah. [Mohamad Deny Irawan]

















