Islamabad, Gontornews — Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, menegaskan bahwa Riasat-i-madinah tetap sebagai acuan pemerintahan Pakistan di eranya. Salah satu model Riasat-i-madinah adalah dengan tidak memaksa seseorang untuk berpindah keyakinan. Jika ada yang melakuakn seperti itu, maka orang itu tidak mengerti sejarah Islam atau tidak mengerti Alquran da Sunnah.
“Bagaimana mugkin kita dapat mengubah seseorang untuk menjadi muslim baik dengan cara pernikahan atau dengan menodongkan senjata atau mengancam untuk membunuh seseorang karena agama mereka?” kata Imran saat berpidato dalam Hari Minoritas Nasional yang diselenggarakan di Aiwan-e-Sadr, Islamabad, Senin (29/7).
“Semua hal ini tidak Islami. Jika Tuhan tidak memberi kekuatan untuk memaksanakan kepercayaan seseorang, maka siapa kita?” tambahnya sebagaimana dilansir media lokal Pakistan, Dawn.
Sejak dilantik sebagai Perdana Menteri, Imran Khan teguh untuk menerapkan model Riasat-i-Madina sebagai model pemerintahan di Pakistan. Imran berkaca dari Sir Muhammad Iqbal yang, tokoh kharismatik Pakistan, pemerintahan mereka akan naik. Akan tetapi saat mereka jatuh, mereka sebetulnya telah menyimpang dari model tersebut.
“Inilah mengapa saya ingin agar model pemerintahan ini dipelajari oleh negeri ini. Apa itu Riasat-i-Madina itu? Kami sedang berusaha agar seluruh perguruan tinggi mengajarkan Riasat-i-Madina,” pungkas Imran Khan. [Mohamad Deny Irawan]






















