Dhaka, Gontornews — Otoritas pengatur telekomunikasi Bangladesh memerintahkan seluruh operator telepon seluler agar memblokir seluruh layanan data berkecepatan tinggi di daerah-daerah tempat kamp pengungsian Rohingya tinggal. Langkah ini dilakukan menyusul terjadinya kekerasan yang terjadi baru-baru ini terjadi di kamp pengungsian di Cox’s Bazar.
“Kami telah meminta kepada seluruh operator untuk menghentikan layanan 3G dan 4G dari jam 5 sore hingga 6 pagi di kamp-kamp pengungsian di Cox’s Bazar,” kata juru bicara komisi pengatur telekomunikasi Bangladesh (the Bangladesh Telecommunication Regulatory Comission/BTRC), Zakir Hossain Khan, sebagaimana dilansir Reuters.
“Mereka juga diminta untuk memberi tahu kami pada 9 September tentang langkah apa yang akan mereka ambil untuk menarik SIM yang sedang digunakan oleh komunitas Rohingya dan melarang penjualan SIM kepada mereka,” tambah Hosain Khan.
Perintah untuk menghentikan layanan seluler telah kembali dikeluarkan menyusul adanya laporan pemberian layanan ponsel kepada pengungsi Rohingya melalui penjualan kartu SIM sebagaimana perintah yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Dengan urungnya pelaksanaan repatriasi terhadap etnis Rohingya dari Bangaldesh ke Myanmar, para pengungsi tertarik pada perdagangan narkoba hingga kejahatan dengan kekerasan.
Akibatnya, ketegangan antara pengungsi memuncak di kamp-kamp pengungsian terutama dengan pemimpin sayap pemuda di partai Liga Awami, yang saat ini berkuasa di Bangaldesh, yang tewas diduga dibunuh oleh pengungsi Rohingya. Efeknya, pihak kepolisian menembak empat pengungsi Rohingya yang diduga melakukan pembunuhan tersebut.
“Kami bekerja sepanjang waktu untuk menjaga keselamatan dan keamanan di kamp-kamp. Akan tetapi, situasinya memburuk dari hari ke hari,” kata polisi yang bertugas mengawasi di Cox’s Bazar, Iqbal Hossain.
Sementara itu, para pengungsi Rohingya mengatakan bahwa pemadaman komunikasi tersebut akan mengisolasi pengungsi Rohingya dari keluarga mereka di Myanmar.
“Mengapa Bangaldesh bersikap terlalu keras terhadap kita? Bagaimana kita akan berkomunikasi dengan kerabat kita di Myanmar?” kata Abdur Rahim, seorang pemimpin pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar.
“Ini akan berdampak buruk pada kejahatan juga. Bagaimana kami akan segera memberi tahu polisi jika ada kejahatan kamp?” tambah Rahim.
Saat ini, Bangladesh memiliki empat perusahaan telepon seluler yaitu: Grameenphone, perusahaan etelekomunikasi milik Norwegia, Telenor; Robi Axiata, Banglalink dari Telecom Ventures; dan Teletalk yang menjadi perusahaan telepon seluler milik negara. [Mohamad Deny Irawan]





















