Kashmir, Gontornews — Kekacauan yang terjadi di Kashmir, India telah menyebabkan krisis obat-obatan. Para pasien di Rumah Sakit di wilayah Kashmir kesulitan mendapatkan obat-obatan lantaran apotek yang tutup selama hampir sebulan.
Rafi (13) salah satu pasien di Rumah Sakit Institut Sains Medis (SKIMS) Sher-i-Kashmir kesulitan mendapatkan obat serta donor darah untuk penyakit ginjal yang dideritanya. Hal itu lantaran obat yang ia butuhkan tidak dapat diperoleh di Rumah Sakit tempat ia telah dirawat selama dua minggu.
Mohamad Shafi (50) ayah Rafi menjelaskan, Rafi menderita penyakit ginjal kronis dan perlu dilakukan tindakan medis cuci darah setiap 15 hari.
Di desanya, di daerah Tangdar di Kupwara, sebuah distrik perbatasan sekitar 100 kilometer barat laut Srinagar tidak diperoleh pengobatan yang dibutuhkan anaknya, sehingga ia terpaksa membawa anaknya ke SKIMS dengan bantuan tetangganya yang memiliki kendaraan.
Kupwara sendiri merupakan wilayah dekat dengan Line of Control (LoC), perbatasan de facto yang membagi wilayah Kashmir yang disengketakan antara India dan Pakistan.
Untuk mencapai Rumah Sakit dirinya harus melewati beberapa pos pemeriksaan yang didirikan oleh pasukan keamanan India di sepanjang jalan yang memakan waktu cukup lama.
“Kami seharusnya menyelesaikan dialisisnya pada 15 Agustus, tetapi tidak dapat melakukannya. Karena pembatasan, semuanya ditutup dan kami takut untuk keluar,” kata Shafi kepada Aljazeera.
Shafi juga mengatakan, untuk satu kali cuci darah untuk putranya ia harus mengeluarkan biaya sebesar 2.800 rupee ($ 25). Sementara Rumah Sakit yang tempat anaknya dirawat merupakan Rumah sakit dikelola pemerintah yang merawat pasien dengan harga bersubsidi. Sehingga Rumah Sakit itu tidak menyediakan obat yang diperlukan untuk prosedur tersebut.
Pasien seharusnya membeli obat yang diperlukan untuk cuci darah dari luar rumah sakit. Di tengah kuncian, obat tidak selalu tersedia di apotek terdekat.
Sementara itu, Seorang anggota staf medis di rumah sakit SKIMS, yang tidak ingin diberitahu idnetitasnya, mengatakan, banyak pasien di rumah sakit itu yang kehabisan uang untuk membeli obat-obatan kritis.
“Kami sendiri tidak menyediakan obat untuk mereka. Mereka harus membelinya dari toko ritel di luar rumah sakit dan banyak dari mereka datang dari daerah yang jauh,” katanya.
Penguncian militer dan pemadaman komunikasi yang diberlakukan oleh pemerintah India pasca pencabutan otonomi daerah bulan lalu telah melumpuhkan kehidupan di wilayah Kashmir yang mayoritas penduduknya Muslim.
Pengepungan yang memasuki bulan kedua pada hari Kamis, sangat mempengaruhi pasien yang membutuhkan perhatian medis yang mendesak dan fasilitas yang lebih baik.[Devi Lusianawati]


















