California, Gontornews — Perusahaan media sosial global, Facebook, menegaskan bahwa pihaknya tengah melarang segala bentuk gambar yang berisi tentang upaya menyakiti diri guna membatasi konten bunuh diri yang beredar di platformnya, Selasa (10/9).
Langkah ini dilakukan menyusul banyaknya masukan dan kritik yang menyebut platform media sosial global tersebut berpotensi menyebarkan konten kekerasan dan berbahaya. Pernyataan ini disampaikan oleh Facebook menyusul ditetapkannya tanggal 11 September sebagi hari pencegahan bunuh diri seluruh dunia.
Selain Facebook, platform media sosial lainnya seperti Twitter juga akan melakukan langkah serupa dengan membatasi konten-konten yang berkaitan dengan melukai diri sendiri demi mengurangi stigma seputar bunuh diri di media sosial berlambang burung tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengatakan bahwa 8 juta orang meninggal setiap tahun atau 1 orang setiap 40 detik akibat bunuh diri.
Reuters menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan Facebook dimulai dengan pembentukan tim pemantau konten yang melibatkan lima vendor yang berasal dari delapan negara. Reuters menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan oleh facebook telah dilakukan sejak Februari 2019 yang lalu.
Sejumlah pemerintah di seluruh dunia tengah mempersiapkan aturan khusus yang diharapkan mampu mengontrol konten di platform media sosial menyusul terjadinya penyebaran konten-konten berbau pelecehan, pornografi, kekerasan hingga mempengaruhi dan memanipulasi hasil pemilihan umum di sejumlah negara.
Bulan lalu, Amazon.com mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk mempromosikan nomor telepon bantuan bagi pelanggan agar mereka dapat bertanya tentang bunuh diri. Pasalnya, saat para pelanggan bertanya secara βliarβ seputar bunuh diri di mesin pencari Google, misalnya, maka portal tersebut akan mengarahkan informasi bunuh diri dengan hal-hal yang berkaitan dengan cara bunuh diri atau menyediakan alat yang memudahkan anda untuk bunuh diri.
Upaya yang dilakukan Amazon kabarnya juga diikuti oleh platform media sosial lainnya seperti Google, Facebook, dan Twitter Alphabet Inc. [Mohamad Deny Irawan]





















