Kesepakatan MUI-Polri-GNPF MUI tentang Aksi 212 berbuah manis. Membuat suasana adem dan damai. Ini berkah dari komunikasi para ulama dengan pihak kepolisian.
Komunikasi dan diplomasi para ulama kita memang luar biasa. Mereka menerima usulan agar peserta demo shalat Jumat di lapangan Monas, bukan di jalanan.
Lapangan yg dipagari besi cukup tinggi ini bisa menampung sktr 700.000 orang.
Jika jamaah demo nanti jumlahnya lebih dari itu, sudah akan disiapkan tempat di Jalan Merdeka Barat yang katakanlah bisa memuat 300.000 orang. Jadi kedua tempat bisa menampung total maksimal 1 juta orang.
Ulama tahu bahwa umat yg akan datang sekitar 3 juta orang. Itu berarti, jamaah jadinya tetap akan luber juga sampai wilayah Bunderan HI, bahkan mungkin sampai Harmoni.
Cerdiknya lagi, ulama kita meminta fasilitas tempat wudhu, logistik, dan pintu masuk dan keluar dari arena Monas dg lebih leluasa, tidak “dikurung” seperti waktu Aksi 411.
Kecerdasan mereka lainnya adalah menerima usul agar demo cukup dilaksanakan sampai stlh shalat Jumat atau pkl 13:00 sdh hrs bubar setelah shalat Jumat. Tapi tahukah kita bahwa, utk mengalirkan orang sebanyak 3 juta orang keluar dari lokasi tsb paling tidak diperlukan waktu 4-5 jam? Artinya sama saja dengan seolah demo baru bisa tuntas pkl 18:00.
Tapi, dengan demikian pihak polisi dan TNI mesti membantu para mujahid utk keluar, tanpa hrs pake gas air mata segala. Malah mereka siap membantu kebutuhan logistik, serta siap shalat Jumat bareng. Inilah diplomasi tingkat tinggi yang hebat dari para ulama kita. Tidak ada yg kehilangan muka dan semua sepakat damai, “Silahkan datang ke Jakarta”.
Yg tidak kalah penting, semua manajemen aksi yg diperlukan untuk demo 212 akan “diatur bersama” antara Polri, TNI dan GNP. Jadi pasukan liar susah masuknya.
Bukan main, salut buat para ulama kita. Bangganya punya pemimpin seperti mereka, pandai berkomunikasi dg semua pihak, hingga tercapai kesepakatan ijma yang bermaslahat. Sama-sama memberi manfaat.[Dedi Junaedi, sedikit adaptasi dari WA tetangg]

















