Kairo, Gontornews — Masyarakat Mesir keberatan dengan kesepakatan yang mungkin terjadi antara mereka, Sudan dan Ethiopia mengenai pembangunan bendungan raksasa Grand Ethiopian Renaissance DAM (GERD). Mesir merasa bahwa keberadaan sungai Nil merupakan salah satu pasokan air terpenting di negeri tersebut.
Tidak hanya itu, badan pangan PBB, World Food Programme (WFP), melansir jika pembangunan GERD dilanjutkan dan diikuti dengan perubahan iklim, maka Mesir bisa kehilangan produksi makanannya hingga 30 persen pada 2040 mendatang.
Seorang petani Mesir yang menggantungkan hidupnya pada Sungai Nil, Ahmed Ad-Rabo, mengatakan bahwa ia membutuhkan pengairan dari Sungai Nil untuk menyirami seluruh tanamannya.
Namun, pasokan air dari kanal berkurang dan tidak sanggup mengairi lahan pertaniannya yang mencapai tujuh hektar. Ia menanam gandum dan makanan ternak di Fayoum, sekitar 100 km sebelah Selatan, ibu Kota Mesir, Kairo.
βAir di Sungai Nil sangat sedikit,β kata Abd-Rabo kepada Reuters.
βPada muslim dingin, pasokan air sedikit banyak, tetapi, tanah tidak banyak membutuhkan air di musim dingin. Namun, di musim panas, kami tidak mendapatkan (air yang cukup),β tambah Abd-Rabbo.
Seorang pejabat Mesir mengatakan bahwa saat ini Mesir memiliki pasokan air sekitar 570 meter kubik atau setara dengan 150.000 galon air per orang per tahun. Para pakar hidrologi mesir menganggap bahwa Mesir akan menghadapi kelangkaan pasokan air jika pasokan air per orang turun dan berada di bawah 1.000 meter kubik per tahun.
Kurangnya pasokan air ini diperkirakan akan terus bertambah dan menjadi βhanyaβ sekitar 500 meter kubik pada tahun 2025. Itu pun tanpa memperhitungkan pembangunan bendungan di anak sungai Nil, Blue Nil, yang terletak di perbatasan Sudan, Mesir dan Ethiopia tersebut.
Bagi masyarakat Mesir, sungai Nil menjamin 80 persen pengairan untuk sektor pertanian. Akan tetapi, akibat menurunnya pasokan air, Mesir telah mengimpor setengah kebutuhan negaranya dan menjelam menjadi importir gandum terbesar di dunia.
Guna menanggulangi masalah tersebut, Pemerintah Mesir mendesak warganya untuk menggunakan irigasi secara efisien serta mendorong para petani untuk menanam benih dengan masa hidup lebih pendek dan tidak membutuhkan air dengan jumlah yang banyak.
Sementara itu, perubahan iklim telah membuat para petani di Fayoum, gagal panen. Soran petani yang enggan disebutkan namanya bahkan mengatakan bahwa ia sudah tiga tahun terakhir mengalami gagal panen.
βKami belum mendapatkan hasil dari tanah ini selama tiga tahun terakhir karena meningkatnya suhu,β kata seorang petani yang enggan disebutkan namanya.
βSekarang, jika saya memiliki lahan 2,1 hektar saja, saya akan menanam di atas satu lahan saja sedang lahan lainnya akan saya diamkan,β imbuhnya.
Pejabat dari Kementerian Sumber Daya Air dan Irigasi Mesir, Tahani Mostafa Sileet, belum menjelaskan apakah perubahan iklim mempengaruhi ketersediaan air di Mesir. Mostafa, harap-harap cemas, menunggu kepastian curah hujan di sepanjang aliran Sungai Nil.
βTidak jelas, apakah akan ada peningkatan atau penurunan curah hujan di negara-negara sumber (Sungai Nil),β kata Tahani Mostafa Sileet.
βDengan demikian, kita tidak tahu apakah kebijakan politik kita harus disesuaikan dengan peningkatan atau penurunan sumber daya,β pungkas Mostafa. [Mohamad Deny Irawan]





















