Pembantaian Kelompok Bersenjata di DRC Tewaskan Warga Sipil
Kivu Utara, Gontornews — Pembantaian kelompok bersenjata di Republik Demokratik Kongo (DRC) telah menewaskan sedikitnya 15 warga sipil. Korban tewas dengan kondisi terikat dan gorokan di leher.
Pejabat setempat menjelaskan jika serangan itu terjadi di desa Mbau dan dilakukan dengan senjata tajam. Di antara delapan korban di Mbau adalah enam anggota keluarga tunggal. Sementara tujuh korban lainnya berasal dari anggota kelompok etnis Pigmi yang tinggal di hutan terdekat.
“Tubuh mereka ditemukan diikat dan tenggorokan mereka digorok,” katanya dikutip Aljazeera.
Sementara itu, Administrator Regional di kota terdekat Beni, Donat Kibwana menjelaskan, serangan kelompok itu adalah upaya untuk menimbulkan rasa takut dan ketidaktenangan di masyarakat.
“Pemberontak mencoba untuk menebarkan kepanikan di kalangan masyarakat,” ungkapnya.
Pasca pembantain tersebut, Penduduk Mbau mengeluhkan respon lambat tentara yang berjaga karena respon baru datang berjam-jam setelah serangan terjadi. Namun hal itu tidak langsung mendapatkan tanggapan dari pihak terkait.
Pembantaian yang menargetkan warga sipil tersebut dilakukan kelompok bersenjata setelah Tentara Nasional DRC yang didukung oleh PBB melancarkan serangan untuk mengusir para kelompok bersenjata dari Pasukan Demokrat Sekutu (ADF) dari hutan lebat dekat perbatasan Uganda.
Seperti yang terjadi pada operasi militer sebelumnya yang dilancarkan kepada pasukan ADF dan kelompok itu membalas dengan menyerang warga sipil.
Menurut aktivis masyarakat setempat, serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 40 sejak pekan lalu. Sementara jumlah warga sipil yang tewas sejak 2014 oleh serangan kelompok itu sebanyak ratusan orang.
Peneliti dan kelompok hak asasi di negara itu mengatakan bahwa tentara DRC dan kelompok pemberontak lainnya juga telah berpartisipasi dalam pembantaian terhadap masyarakat sipil sejak 2014. Salah satunya dengan motif persaingan untuk mendapatkan kekuasaan di zona tanpa hukum yang didominasi oleh belasan kelompok milisi.
Beberapa serangan sebelumnya oleh ADF, kelompok yang didirikan di Uganda pada tahun 1995, telah diklaim oleh Negara Islam Irak dan kelompok bersenjata Levant (ISIL atau ISIS), tetapi hubungan keduanya masih belum jelas.ADF tidak diketahui secara terbuka menjanjikan kesetiaan kepada ISIL.[Devi Lusianawati]




















