Ciamis, Gontornews — Bocah santri 8 tahun yang ikut berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta demi menggantikan almahrum ayahnya dalam aksi Bela Islam Super Damai 212 mendapatkan wakaf berupa rumah makan dari pengusaha Riau.
Informasi ini didapat dari laman facebook Agus Ponda yang mendapat respon positif dari para netizen. Agus menulis di akun facebooknya:
Terharu, Pengusaha Ini Serahkan Wakaf Rumah Makan untuk Mujahid Cilik Ciamis
Saya mewancarainya dengan mata sembab. 15 tahun jadi jurnalis, baru kali ini saya nanya pada narasumber sambil nangis.
“Maaf Pak Sugiono, saya menangis,” kata saya.
“Saya juga tak bisa lagi berkata apa-apa. Rasanya luar biasa bertemu Kyai Nonop dan para Mujahid Ciamis di sini,” ujarnya.
Pak Sugiono mengatakan rumah makan dengan merek usaha dirinya yang diwakafkan untuk mujahid cilik Ciamis yang tempo hari berjalan kaki ke Jakarta menggantikan ayahnya yang telah meninggal, hari ini sudah sah milik santri yatim tersebut.
“Jadi itu nanti salah satu cabangnya, pemiliknya Mujahid Cilik itu.”
Sugiono, pengusaha asal Batam Riau ini meski penampilannya sederhana, ia memiliki usaha rumah makan ayam betutu di berbagai kota. Meski dandanannya sederhana, namun kedermawanannya luar biasa.
Untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan, nama mujahid cilik itu tak bisa kami sebutkan.
“Saya dan Pak Kyai Nonop sepakat, gak usah menuliskan nama anak itu. Takutnya ada orang yang tak bertanggungjawab mengambil keuntungan dari moment ini,” ucap Sugiono, pada Tabloid Pendidikan Ganesha .
“Maaf saya belum mau cerita banyak. Kami sama-sama terharu dengan semua ini.” ujarnya lagi. (Agus Ponda/tabloid ganesha)
Insya Alloh, dalam 2-3 jam ke depan, santri mujahid Ciamis yang paling kecil, yang berjalan kaki ke Jakarta menggantikan ayahnya yang telah meninggal, akan memperoleh wakaf sebuah cabang rumah makan Mayam Batujak dari seorang pengusaha rumah makan dari Riau.
Subhanalllaahu, Allaahu Akbar… Maha besar Allaah!
Seperti diberitakan sebelumnya yang membuat banyak orang terharu, bahwa seorang santri kecil berusia delapan tahun, terlihat ikut berjalan bersama rombongan. TANPA ALAS KAKI, mengatupkan kedua telapak tangan dan menggigil kedinginan diguyur hujan. Ia menggantikan almarhum bapaknya untuk ikut aksi 212 di Monas. Sandalnya putus karena menempuh perjalanan beratus kilometer. Seorang ibu yang melihatnya kemudian memberinya sandal baru, pakaian kering serta jas hujan untuk mengganti pakaian santrinya yang basah kuyup.
Kisah ini menjadi viral di social media yang kemudian mengetuk hati seorang pengusaha rumah makan asal Riau untuk mewakafkan salah satu cabang rumah makannya untuk anak tersebut. Allahu Akbar




















