Dhaka, Gontornews — Panglima Angkatan Darat Bangladesh, Aziz Ahmed, disebut akan melaksanakan pertemuan dengan petinggi militer Myanmar untuk satu pekan ke depan. Kepala bagian Humas Militer Bangladesh, Letnan Kolonel Abdullah Ibn Zaid, memastikan bahwa kunjungan ini tidak ada kaitannya dengan upaya repatriasi pengungsi Rohingya dari Bangaldesh ke Myanmar.
“Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk meningkatkan hubungan militer kedua negara yang sudah ada serta mengetahui lingkup kerja satu sama lain,” kata Abdullah Ibn Zaid sebagaimana dilansir Anadolu.
Sebaliknya, Zaid mengatakan jika repatriasi pengungsi Rohingya adalah kewenangan Kementerian Luar Negeri dan bukan kewenangan pihak militer.
“Ini adalah masalah kementerian luar negeri. Motif kunjungan pemimpin kami adalah untuk memperkuat hubunganm antar pasukan militer dari kedua negara,” tambah Zaid.
Namun, Zaid memastikan bahwa pembicaraan antara kedua belah pihak bisa saja terbuka sesuai dengan arahan Perdana Menteri Bangaldesh, Sheikh Hasina. “Kita tidak mengetahui apakah Perdana Menteri telah menginstruksikkan penyelesaian masalaha tertentu kepada pemimpin kami.”
“Tujuan utama dari kunjungan ini adalah untuk memperkuat hubungan timbal balik antara tentara Bangladesh dan Myamar termasuk pertukaran pelatihan,” ujar Zaid.
Sementara itu pengamat keamanan ALM Fazlur Rahman memprediksi bahwa kedatangan kepala militer Bangladesh ke Myanmar akan ditafsirkan oleh masyarakat dunia sebagai upaya melemahkan tensi repatriasi pengungsi Rohingya.
“Kami telah memberi tahun seluruh dunia tentang pengungsi Rohingya dan dunia ada berasama kami. Gambia telah mengajukan gugatan genosida ke Mahkaman Internasional dalam situasi seperti itu, setiap kunjungan pejabat Bangladesh ke Myanmar akan melemahkan upaya tersebut,” kata Fazlur.
“Ini akan menjadi semacam bantuan bagi Myanmar karena mereka akan menyebarluaskan ke seluruh dunia bahwa Panglima Militer Bangladesh sedang mengunjungi negara kami dan kami memiliki hubungan yang baik untuk menyelesaikan krisis Rohingya. Lantas mengapa anda menunjukkan minat di sini?” sambung Fazlur.
Fazlur pun berharap bahwa Bangladesh membatalkan kunjungan kenegaraan yang baru terjadi satu kali dalam lima tahun terakhir.
Terakhir kali, pertemuan Panglima militer dari kedua negara telah terjadi adalah pada 2014. Kala itu, pembahasan terfokus pada isu kejahatan lintas perbatasan dan perdagangan manusia. [Mohamad Deny Irawan]





















