Bojonegoro, Gontornews –Tim Crisis Center Aksi Tanggap Bencana (SIGAB) Nurul Hayat memberikan pembekalan penanggulangan risiko kebencanaan kepada 30 peserta Diklat Dasar Relawan SIGAB Nurul Hayat Bojonegoro di Wahana Wisata Desa Kebun Blimbing Kalitidu Bojonegoro pada 28-29 Desember 2019.
Agenda bertajuk “Tangguh Hadapi Bencana”, ini bekerjasama dengan BPBD Bojonegoro, dengan materi pengenalan kebencanaan, dasar kerelawanan, pertolongan pertama, komunikasi dilokasi bencana, garis komando, mitigasi dan asesmen, sekaligus simulasi penanganan bencana banjir dan angin puting beliung.
Hadir dari Tim Crisis Center SIGAB Nurul Hayat Sholihul Amin, Nahwa Nuri Syahidah, dari Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Bojonegoro Yudi Hendro, Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Bojonegoro Eko Susanto.
Selain pembekalan materi, para relawan praktik mendirikan tenda darurat, membuat laporan sitrep, dan mengumpulkan data mengenai kebencanaan dan kesiapsigaannya, untuk menghadapi bencana jika sewaktu waktu terjadi.
Ketua Panitia Diklat Dasar Relawan Nurul Hayat Bojonegoro Ahmad Muhajir mengatakan, hadirnya peserta dari wilayah Bojonegoro, Tuban dan Nganjuk, ini menunjukkan kesadaran masyarakat terlibat dalam penanganan dan penanggulangan bencana semakin tinggi. Di sinilah kesempatan lembaga sosial bersama masyarakat terlibat dalam penanganan bencana, minimal di lingkungan masing-masing.
Di samping itu, lanjutnya, kegiatan ini untuk lebih menguatkan simpul jaring relawan Nurul Hayat yang nantinya bisa lebih cepat mendapatkan informasi dan penanganan aksi sosial termasuk kebencanaan.
“Nurul Hayat siap menjadi wadah bersama relawan kemanusiaan untuk memberikan kemanfaatan lebih luas,” tutur pegiat filantropi Islam ini.
Sementara itu, kepala cabang Nurul Hayat Bojonegoro Suluh Adi Gunawan menegaskan, para relawan ini kita bekali kemampuan tanggap bencana mengingat dibeberapa wilayah Nurul Hayat sering terlibat penanganan bencana. Minimal, lanjutnya, sebagai Lembaga amil zakat nasional, Nurul Hayat tidak terbatas dalam aksi tanggap bencana tapi juga sebagai lembaga sosial seperti program santun janda dhuafa di pelosok-pelosok desa, penangan daerah darurat kekeringan, termasuk bedah rumah korban bencana angin puting beliung.
“Insya Allah kita ajak warga termasuk relawan muda untuk bersama-sama membantu sesama. Termasuk program sekolah tanggap bencana. Kalau mau ikut, ayo kita bareng-bareng,” pungkasnya.
Staf laysos program Nurul Hayat Bojonegoro menambahkan,
seluruh sumberdaya termasuk relawan harus digunakan untuk kegiatan kemanusiaan termasuk tanggap bencana untuk meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana dan mengurangi risiko bahaya.
“Nurul Hayat siap bekerja sama dengan semua pihak, termasuk pemerintah dan swasta, untuk layanan kemanfaatan lebih banyak,” terangnya. [Editya Miranti/Devi Lusianawati]





















